
Semua orang yang berada di ruang rapat terkejut, apalagi Lewis dia sangat terkejut saat melihat anaknya terkulai lemas di lantai.
Lewis menghampiri anaknya yang terkapar " Sani apa yang terjadi ?" tanya Lewis sambil memapah anaknya.
Rasel masuk kedalam ruangan tersebut dengan wajah Lebam hidung di plester karena patah.
" Lewis Yong !, gara - gara anakmu aku jadi seperti ini ! " ucap Rasel dengan suara tinggi.
Lewis yang tahu jika Rasel adalah anak buah Martin dan dia juga penguasa dunia bawah di kota jakarta , dia mulai tahu apa yang sedang terjadi.
Lewis gemetar ketakutan , dia mulai berkeringat dingin saat melihat wajah Rasel yang penuh amarah.
" Tu..an Rasel ,tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya Lewis khawatir.
Rasel menyeringai " Baiklah akan aku beritahu apa yang sedang terjadi pada kalian , sebelum kehancuran yong grup !" ucap Rasel mengejek.
Rasel diam sebentar kemudian melanjutkan " Anakmu telah menyuruh orangku untuk memukuli Tuan Muda Axel !"
Mendengar ucapan Rasel semua orang yang ada diruangan yang tadinya berdiri ,langsung duduk lemas.
Mereka tahu jika sudah tidak ada harapan bagi mereka untuk bangkit lagi , satu - satunya cara hanyalah dengan segera menjual saham mereka secepatnya.
" Lin !, Jual saham kita secepatnya dan kita pergi dari sini !" ucap pria botak pada asistennya.
Sang asisten mengangguk mengerti, dengan sigap dia langsung menjual saham Bosnya kemudian mereka berdua pergi dari tempat tersebut.
Pemegang saham lainnya juga melakukan hal yang sama dengan orang tersebut, satu persatu orang yang ada di ruang rapat pergi meninggalkan perusahaan, karena mereka tahu jika Yong grup sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
Rasel tersenyum melihat para pemegang saham Yong grup pergi satu persatu " Lewis Yong , aku rasa kamu perlu mengajari anakmu agar lebih pintar lagi dalam menilai seseorang !" Setelah mengatakan hal tersebut Rasel meninggalkan Yong grup.
Lewis melemparkan anaknya yang berada dipangkuannya " Anak sialan !, gara - gara kau perusahaan yang aku bangun dengan kerja keras runtuh begitu saja !"
Lewis tidak peduli lagi dengan anaknya , karena dengan hancurnya Yong grup, sumber penghasialan mereka tentu saja akan terputus.
Mereka hanya tinggal memiliki tabungan beberapa juta dolar , Rumah dan Mobil , tapi tidak butuh waktu lama mungkin mereka akan bangkrut total jika Kreditur Bank menagih pada keluarga mereka.
***
__ADS_1
Di rumah sakit , Zan liang masih belum sadarkan diri , dia masih berbaring diranjang dengan tidak berdaya.
Tiba - tiba di luar rumah sakit terlihat iring - iringan mobil mewah yang masuk dalam halaman rumah sakit.
Tentu saja semua orang langsung penasaran siapa yang datang kerumah sakit tersebut, pasalnya hanya orang penting yang di jaga ketat tersebut.
Kepala Rumah sakit terlihat berkeringat dingin, dia bergegas keluar untuk menyambut orang tersebut bersama dengan beberapa orang Dokter menemaninya.
Seorang Dokter muda yang menemani kepala Rumah sakit bertanya " Tuan Reynaldi ,memangnya siapa yang datang ?, kenapa anda terlihat tergesa - gesa sekali ?"
Reynaldi menjawab sambil berjalan " Ingat kalian tidak boleh sembarang bicara ,yang akan kita temui Tuan Axel Brian !"
Saat Reynaldi mengatakan hal itu , para Dokter senior juga ikut berkeringat dingin pasalnya mereka takut salah bicara nantinya.
" Tu..an Axel ?, dia kemari mau apa Tuan Reynaldi ?" tanya seorang Dokter senior gugup.
Reynaldi menghela napas " Aku juga tidak tahu ,aku hanya ditelepon Tuan Martin ,jika Tuan Axel akan kesini , sudah jangan banyak bicara kita harus bergegas !"
Semua Dokter mengangguk , mereka semua mempercepat langkahnya untuk menyambut Brian.
Sindi mendorong kursi roda Brian di ikuti ke empat istrinya , sementara anak - anak Brian yang ikut hanya Rayan yang merupakan anaknya dengan Mira.
" Astaga...bukankah itu Tuan Axel ?"
" Benar itu Tuan Axel , Ada apa yah kenapa Tuan Axel kerumah sakit ini ?"
" Jangan - jangan Rumah sakit ini telah menyinggung Tuan Axel , karena aku dengar jika mereka berani menyinggung Tuan Axel , beliau akan langsung memberikan pelajaran !"
" Entahlah... jikapun itu benar ,kita lebih baik diam !"
Semua orang membicarakan Brian , karena tidak biasanya Brian mengunjungi sebuah rumah sakit umum , karena Keluarga Axel memiliki rumah sakit sendiri yang fasilitasnya lengkap.
Saat Brian sampai didepan pintu Rumah sakit , segerombolan Dokter menyambutnya , mereka membungkuk hormat menunjukan kesopanan mereka.
" Selamat datang dirumah sakit kami Tuan Axel " sapa Reynaldi Sopan.
Brian hanya menanggapi dengan anggukan kepalanya , dia kemudian memanggil Martin " Martin , tunjukan jalan ke ruangan Zan Liang !" ucap Brian tegas.
__ADS_1
Martin berjalan didepan , karena dia sudah tahu dari anak buahnya jika Zan liang di bawa kerumah sakit tersebut oleh Alicia.
Para Dokter hanya mengikuti patuh dibelakang Brian dan keluarganya , mereka tidak berani bicara sepatah katapun.
Saat Martin berhenti di ruangan Mawar yang merupakan ruangan pasien biasa , Brian mengerutkan keningnya.
Padahal Alicia bersama Zan liang , kenapa dia tidak meminta Ruangan VIP ?, Brian menatap Martin dengan tajam.
Martin menghela napas , dia Merasa akhir - akhir ini selalu salah dimata Brian , Martin berbalik menatap para Dokter dengan sinis.
Para Dokter langsung berkeringat dingin melihat tatapan Martin, Seketika mereka semua langsung menundukan kepalanya.
Pintu ruangan di buka terlihat Alicia dan Riska sedang menemani Zan liang yang terbaring lemah di ranjang.
Alicia yang melihat Brian dan ibunya langsung berteriak " Dady ,Momy ...!" Alicia menghampiri mereka.
Riska terkejut saat melihat Brian dan istri - istrinya , dia langsung melepaskan genggaman tangannya pada tangan Zan Liang.
Brian yang melihat hal tersebut ,menyuruh Mira menghampiri Riska " Apa kamu yang bernama Riska ?" Tanya Brian pada Riska.
Riska menjawab sambil menundukan kepalanya " Be..benar Tu..an A..xel " jawab Riska gugup.
Sindi buka Suara ,dia memegang dagu Riska dan menegapkan wajahnya " Jangan menundukan kepala pada kami , harusnya kami yang menundukan kepala pada kamu , karena selama ini kamu telah merawat putra kami " Ucap Sindi Lembut.
Riska menggeleng " Sa..ya ha..nya membantu yang saya bisa Nyonya , Sa..ya tidak melakukan banyak hal " Riska benar - benar gugup dihadapan kelurga Zan liang.
Alicia buka suara " jangan percaya Dad, Riska selalu memperhatikan kakak Zan , dari makanan kesukaan , kapan kakak Zan berangkat kuliah dia tahu semua , dan tadi saat dia meminta ruangan VIP tapi ditegur oleh Dokter ,dia juga berani marah - marah demi kakak Zan "
" Jadi.. maksud kalian tidak boleh minta ruangan VIP disini ?" tanya Brian dengan wajah menggelap.
Alicia mengangguk " Ya.. mereka mengira jika kami tidak sanggup membayar ,jadi tidak memperbolehkannya " ucap Alicia enteng.
Viona menghela napas , dia langsung menghampiri suaminya " Kamu jangan terlalu marah dulu, ingat kesehatanmu , biar aku yang urus masalah ini " ucap Viona lembut.
Brian menghela napas " Baiklah...terserah kamu saja.." ucap Brian Lembut.
.
__ADS_1