
Zan liang dan Yugi keluar dari kediaman Axel, karena pernikahan Zan liang besok, Yugi langsung menghubungi anak buahnya agar memperketat pengawalan.
" Tuan Muda kita mau kemana ?" tanya Yugi saat sudah di jalan.
" Rumah Riska !" jawab Zan liang singkat.
Yugi terkejut ketika Zan liang ingin pergi kerumah Riska, pasalnya dia takut tindakan Zan liang akan membuat kacau pesta pernikahannya.
Tapi Yugi tidak bisa menolak perintah Tuan mudanya, dia hanya melirik - lirik spion dalam Mobil untuk memastikan perkataan Zan liang.
Tapi Zan liang terlihat sedang menatap ke luar Mobil, Yugi merasa jika Zan liang seperti orang yang sedang cemas.
" Tuan muda, apakah anda yakin ingin kerumah Nona Riska ?" tanya Yugi memastikan.
Zan liang hanya menagngguk lirih, dia tidak buka suara lagi setelah itu.
Mobil membelah jalanan Kota jakarta yang padat, Tapi karena iring - iringan Mobil Zan liang di dampingi Polisi juga, tentu saja perjalanan mereka sangat lancar, selancar orang B.A.B habis makan cabai Rawit satu kilo.
Hanya butuh Waktu 15 menit saja Mobil Zan liang sampai di rumah Riska, satapam yang menjaga gerbang ketakutan saat melihat iring - iringan Mobil tersebut, di tambah ada Polisi yang mengawal.
Yugi membuka kaca jendela Mobil " Buka gerbangngya !, Tuan muda Zan mau menemui Nona Riska !" ucap Yugi tegas.
" Ba..Baik Tuan !" Satpam langsung bergegas membukakan gerbang.
Dewi yang sedang merawat tanamannya di teras tentunsaja terkejut melihat keramaan di depan gerbang rumahnya.
Para tetangga juga pada keluar Rumah, mereka ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dirumah Riska.
" Eh..ada apa itu ?, Apakah Tuan Julius di bawa KpK ?!"
" Husss... ngawur kamu !, mana ada pebisnis di bawa KpK !, kalau pejabat mungkin !"
" Eh.. itu bukannya Tuan Muda Zan liang !"
" Mana, mana, Ya ampun kamu benar, itu Tuan muda Zan !"
" Pantas saja ramai begini, ternyata anak Milyarder kita yang datang !"
Semua tetangga Riska berkerumun, mereka membicarakan kehadiran Zan liang, yang datang membawa Rombongan seperti mau demo saja.
__ADS_1
Zan liang turun dari Mobilnya, dia memberikan salam pada Dewi " Selamat suang Tante, Riskanya ada ?" tanya Zan liang sopan.
" Tu..Tuan Muda Zan !, ada, ada, Riska ada didalam kamarnya , silahkan masuk !" Dewi langsung membawa Zan liang masuk.
Sementara Yugi langsung menyuruh anak buahnya menyebar untuk menjaga ke amanan Zan liang.
Dewi hany mengantar Zan liang sampai depan pintu kamar saja, pasalnya Dewi tahu jika akhir - akhir ini Riska tidak mau mendengarkannya.
" Tok
" Tok
" Tok
Zan liang mengetuk Pintu kamar Riska, tapi Riska tidak menyaut dari dalam.
" Ris, bisa buka pintunya !" ucap Zan liang sedikit keras.
Riska yang didalam kamar sedang melamun menatap keluar dsri jendela kamarnya tersadar saat mendengar suara Zan liang.
Tapi Riska menganggap dirinya hanya berhalusinasi, dia mengira jika suara tersebut bukan Zan liang.
Tapi terdengar Zan liang bersuara lagi " Ris, ini aku Zan liang, tolong buka pintunya !"
Riska langsung bergegas membuka pintu kamar, di benar - benar melihat Zan liang di hadapannya.
Riska menitihkan air matanya " Zan..."
Zan liang langsung memeluk Riska, dia tidak peduli jika penampilan Riska sekarang seperti orang gila, Rambut yang acak - acakan, pakaiannya yang seraba kedodoran, Matany bengkak.
Riska terkejut saat Zan liang memuluknya, tapi dia yang sudah sangat Rindu dengan Zan liang balas memeluk Zan liang.
Riska terisak dalam dekapan Zan liang " Aku mencintaimu Zan, hiks..hiks..."
Zan liang mengusap puncak kepala Riska sembari mencium keningnya " Aku juga sangat mencintai kamu, maaf karena aku terlalu egois Ris " Zan liang juga menitihkan air matanya.
Dewi yang melihat anaknya dan Zan liang berpelukan, dia juga ikut menitihkan Air matanya, karena Dewi tahu semenjak Zan liang akan menikah Riska mengurung dirinya di kamar saja.
Zan liang melepas pelukannya, dia menatap Ruska yang acak - acakan " Apakah kamu mau menikah denganku Ris ?"
__ADS_1
Tanpa Ragu Riska langsung menagangguk " Aku mau, aku sangat mau Zan " Ruska memaksakan sebuah senyum di sela tangisnya.
Zan liang tersenyum, dia menghapus Air mata Riska, dan memapahnya untuk duduk di ranjang.
Zan liang menagambil Ponselnya yang ada disaku, dia menelpon nomor Krisna.
Di kediaman Axel, keluarga Axel sedang berkumpul bersama, tiba - tiba Ponsel Krina berdering.
Tentu saja tatapan semua orang tertuju pada Krisna, Krisna tersenyum kecut, dia kemudian mengangkat panggilan Zan liang.
" Halo ada apa Zan ?" tanya Krisna santai.
Zan liang terdengar menghela napas diseberang telepon " Kak, apa kamu masih berkumpul dengan yang lainnya ?".
" Iya, aku masih bersama mereka, ada apa memangnya ?" tanya Krisna penasaran.
" Bisa tolong Speaker pembicaraan kita agar semuanya mendengar kak ?" Suruh Zan liang pada Krisna.
" Baiklah, Ayah Zan liang mau mengatakan sesuatu dengan kita semua " Krisna menekan speaker.
Brian dan yang lainnya menunggu apa yang ingin Zan liang bicarakan.
Terdengar Zan liang menghela napas berat " maaf karena mengganggu kebersamaan kalian "
Zan liang diam sebentar kemudian melanjutkan " Ayah, Ibu, aku sudah merenungkan apa yang ingin aku lakukan, terserah kalian akan membenciku setelah ini atau apa !, Aku hanya ingin bilang pada kalian kalau aku tidak akan menikah dengan Zahra jika aku juga tidak menikah dengan Riska !, aku sadar keputusanku terlambat, tapi aku tidak ingin menyesal untuk seumur hidupku nantinya !, jika kalian tidak merestuiku aku akan melakukan apapun untuk menikahi Riska !"
Setelah Zan liang mengatakan hal tersebut, Semua yang ada di tempat tersebut saling menatap, mereka kemudian menatap Brian.
Wajah Brian terlihat datar, dia tidak berekspresi sedikitpun, tidak ada yang bisa menebak apa yang sedang Brian pikirkan.
Brian kemudian berkata dengan dingin " Apakah ini keputusan Final kamu Zan ?!, apakah kamu yakin bisa melawan Ayahmu !"
" Ini sudah keputusan Finalku Ayah, jika Ayah bertanya aku bisa melawan Ayah atau tidak jawabannya tidak, tapi Jika aku terpaksa harus melawan Ayah, akan aku lakukan itu walau aku harus bertaruh nyawaku !" Zan liang memegang Erat tangan Riska.
Riska menatap Zan liang dengan penuh kekhawatiran, hanya gara - gara dia Zan liang selalu mendapatkan masalah.
Riska tidak tahu harus berbuat apa, dia sadar tidak mungkin bisa membantu Zan liang melawan Ayahnya.
.
__ADS_1
.
.