
Aalasan kenapa Brian memberikan sebuah Black Card untuk Riska, sebenarnya bukan seperti perkataan Martin yang menyuruh Riska untuk membiasakan diri dengan kehidupan kelas atas.
Tapi Brian memberikan Black Card tersebut agar Riska ingat siapa yang sedang dia jaga, jika Riska mengetahui hal tersebut, kemungkinan dia akan berpikir ulang untuk pergi berdua dengan Mike.
Fkatanya dugaan Brian benar, ternyata Riska tidak mampu memenuhi harapannya, padahal di awal Brian sempat percaya pada Riska.
Di kamarnya, Riska sedang menangis, dia memikirkan semua perkataan Krisna.
" Kenapa aku jadi bodoh seperti ini ?, apakah aku benar tidak mencintai Zan liang ?, terus selama ini apa yang aku rasakan padanya apa jika bukan Cinta ?" Riska bermonolog sendiri sembari menangis.
Riska membayangkan semua momen saat dia mendekati Zan liang, memberinya perhatian dan memberinya makanan.
Riska tersentak saat mengingat momen - momen tersebut " Apakah aku hanya kasihan padanya ?, dan setelah Zan mendapatkan kekayaannya kembali aku secara tidak langsung sudah membuang perasaan kasihan itu dan sekarang aku seperti ini !?"
Riska mulai menyadari semenjak Zan liang sudah memiliki segalanya dia juga sudah tertarik dengannya, seolah beban yang dia pikul selama ini terlepas.
Riska juga tidak merasa tertekan saat Zan liang mendiamkannya, dia yang biasanya over Protektif saat Zan liang masih miskin tapi nyatanya sekarang dia seolah mengabaikannya.
Hati Riska benar - benar sangat rumit, dia tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang, tapi benar kata Krisna, jika dia hanya sebatas mengagumi Zan liang bukan mencintainya.
Riska menyeka air matanya " Apakah aku harus melepaskannya ?"
***
Sementara itu di kamar Zan liang, dia yang sebenarnya tidak tertidur mulai risih dengan kehadiran Zahra dan Mindi yang masih duduk di sofa.
Zan liang menghela napas " Mau sampai kapan kalian disitu terus !, keluarlah biarkan aku sendiri dulu !" ucap Zan liang ketus.
" Kakak tidak tidur ?" tanya Mindi polos.
Tapi Zahra yang mengerti, dia beranjak dari duduknya dan menarik tangan mindi sembari menggelengkan kepalanya.
Mindi mengangguk mengerti, merrka berdua meninggalkan Zan liang sendiri di kamarnya.
Zan liang meneteskan Air matanya saat Zahra dan Mindi sudah keluar dari kamarnya, dia sudah tidak bisa menahan lagi kesedihan yang sedang dia derita.
" Kenapa kamu lakukan ini padaku Riska !, apakah kamu benar - benar tidak pernah mencintaiku ?!, selama ini kamu menganggap aku apa ?!"
__ADS_1
Zan liang benar - benar tidak bisa menerima kenyataan yang sedang terjadi, Hatinya hancur - sehancur - hancurnya.
Perasaan yang sangat tulus mencintai seorang wanita, malah dijadikan mainan oleh wanita tersebut.
Kenangan indah yang selama ini bayangkan, Menjadi Mimpi buruk dalam hidupnya.
Semua yang dia lakukan, semua yang dia usahakan, semua terasa hanya seperti sebuah kisah dongeng dalam cerita.
***
Beberapa hari berlalu, Mike akhirnya tewas di tempat pengurungannya akibat dia terlalu banyak kehabisan darah dan tidak diberi apapun.
Studi Zan liang yang tinggal beberapa bulan lagi, dia tinggalkan begitu saja.
Zan liang yang dulunya tidak pernah berkeinginan untuk menjadi Pria bejad, dalam hitungan hari saja dia berubah total.
Zan liang sering keluar malam dan pulang pagi, dia sudah tidak peduli dengan hidupnya lagi, yang dia pikirkan sekarang ingin mengubur dalam - dalam kenangan kelamnya.
Keluarga Zan liang sering menegur Zan liang, tapi Zan liang mengabaikannya, dia sekarang menjadi pria kaya yang begitu arogan.
Sementara Zahra masih tinggal dikediaman Axel, karena Husen menyuruh Zahra agar lebih mendekatkan diri dengan Zan liang.
Tapi kenyataannya Zan liang malah makin menjauh dengan Zahra, tatapan Awal bertemu mereka yang begitu indah, hilang seketika, karena perubahan sifat Zan liang.
Tengah malam Zan liang pulang dengan keadaan mabuk, Brian yang sedang menunggunya bersama ke empat istrinya untuk menyidang Zan liang dia langsung menarik Zan liang ke ruang keluarga saat melihat Zan liang pulang.
" Ada apa lagi Ayah ?" tanya Zan liang malas.
" Zan, kenapa kamu jadi seperti ini ?" tanya Sindi lembut.
Zan liang mengerutkan keningnya " Kenapa apanya ?, aku memang seperti ini bukan ?" ucap Zan liang cengegesan.
" Zan Cukup !!, jika kamu seperti ini terus kamu sama saja mempermalukan Ayah !" Brian berkata dengan tegas.
Zan liang menyipitkan matanya " Jadi Ayah malu punya anak sepertiku ?, hahaha... Memangnya Ayah pernah menganggapku ada ?, Apa Ayah pernah bertanya keadaanku saat Ayah berkunjung di pulau Senkuku ? ,kenapa Musti malu ? "
" Zan kamu ...!" Brian menunjuk Zan liang.
__ADS_1
Zan liang berdiri " Kamu apa Ayah !, Semenjak kecil aku tidak pernah membelanjakan uangmu yang begitu banyak ini bukan ?, apakah kamu keberatan jika aku menagih hakku sebagai anak kamu ?!"
Zan luang berlalu pergi, tapi dia kemudian berhenti sejenak dan berkata lagi " Anggap saja aku tidak ada di kehidupan kalian,dan tidak uasah mengurusi aku, Aku hanya ingin bersenang - senang beberapa saat saja disini !, setelah itu akan pergi agar tidak mengganggu kehidupan keluarga Axel yang terhormat !" setelah mengatakan itu Zan liang pergi ke kamarnya.
" Braakkkkk !!!"
" Argggghhh !" Brian sangat marah hingga dia menggebrak meja dengan sangat keras.
Ke empat Istri Brian merasa sedih, mereka tidak berani bicara pada Zan liang karena faktanya memang seperti itu.
Di antara anak - anak Brian, yang tidak tertarik sama sekali dengan kekayaan Brian hanya Zan liang, dia dari kecil tidak pernah menonjolkan dirinya dengan kekayaan Ayahnya.
Saat Zan liang meminta Haknya tadi, mereka jadi merasa semakin bersalah, pasalnya dulu mereka membiarkan Mei sia hidup di pulau senkuku hanya dengan Zan liang saja.
" Sayang, kita pelan - pelan saja menyadarkan Zan liang kembali, tidak perlu terlalu keras padanya " ucap Sindi lembut.
Ketiga istri Brian mengangguk setuju dengan ucapan Sindi, karena mereka pikir Zan liang sedang berada dalam masa memberontak.
Zan liang memasuki kamar dengan langkah gontai, dia tidak menutup pintu kamar, dia langsung ambruk di ranjang dan tertidur lelap karena saking mabuknya.
Zahra yang mendengar perdebatan Zan liang dengan Ayahnya, dia menunggu di atas untuk melihat Zan liang dan berencana berbicara padanya.
Tapi saat dia masuk kamar, ternyata Zan liang sudah tertidur lelap.
Zahra melepas sepatu Zan liang, dia juga membenarkan posisi tidur Zan liang yang tertelungkup, Zahra menyelimuti Zan liang dan meninggalkannya.
Saat Zahra sudah menutup pintu, dia dikejutkan oleh Viona yang hari ini bertugas untuk mengurus Zan liang, pasalnya setiap hari pasti seperti itu.
" Tante " Zahra terkejut saat melihat Viona.
Viona tersenyum " Kamu memang anak yang baik Zahra, Tante tidak tahu harus berkata apa padamu, melihat Zan liang yang seperti ini, apa kamu yakin tidak mau menolak perjodohan kalian ?" ucap Viona Lembut sembari mengusap pipi Zahra.
.
.
.
__ADS_1