
Anak dan Istri Brian yang melihatnya menangis , seketika mereka semua ingin tahu apa sebenarnya yang ada dalam buku tersebut.
Sindi mendekati Brian " Ayah , kamu kenapa ?"
Brian menatap Sindi dengan Air Mata berlinangan " Mei sia selama ini menderita Kanker payudara " ucap Brian Sendu.
" Apaaaa!" Semua orang yang ada ditempat tersebut terkejut , pasalnya mereka tidak tahu akan hal itu.
Brian mulai ingat kenapa waktu dia menemui Mei sia , Mei sia selalu memakai penutup rambut , tapi Brian tidak pernah punya fikiran kesana.
Waktu diajak berhubungan badan juga Mei sia selalu menolak dengan alasan dia cape ataupun sedang tidak bergairah.
Brian selalu mempercai kata - kata istrinya , hingga dia lupa jika Mei sia tidak ada yang menjaga , Brian pikir karena Mei sia adalah Wanita yang kuat jadi dia tidak khawatir sama sekali.
Krisna yang tadinya marah langsung luluh " Jadi karena itu dia sangat marah dengan Ayah ?" ucap Krisna sambil meneteskan Air matanya.
Tanti buka suara " apa karena dia meninggalkan kita juga saat dia sudah tahu penyakitnya ?, tapi kenapa dia tidak bilang sama kita ?"
Sindi yang dari tadi melanjutkan membaca buku Harian Mei sia , dia menunjukan isi buku harian tersebut " Alasannya dia tidak memberitahu kita , karena dia tidak ingin membuat repot Suami kita yang waktu itu memang sedang sibuk dengan bisnisnya di luar Negeri ,lihatlah .." ucap Sindi Sendu.
Brian tidak bisa memaafkan kebodohannya karena tidak mengerti penyakit istrinya , dia menangis terisak .
Keluarga besar tersebut semuanya tidak tahu harus berbuat apa , Brian juga tidak bisa memaafkan dirinya sendiri .
***
Ke esokan harinya , saat Zan liang akan berangkat ke kampus , Sindi sudah menunggunya di depan pintu.
" Sarapan dulu Zan " ucap Sindi lembut.
" Tidak perlu Bu , Aku sarapan dikantin saja " jawab Zan liang datar.
Sindi langsung memeluknya , Zan liang terkejut dengan tindakan sindi " Zan... maafkan kami karena tidak mengerti penderitaan kalian , tapi tolong beri kami kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki kesalahan kami " ucap Sindi tulus.
Zan liang melepaskan pelukan Sindi dan memaksakan senyum " tidak perlu minta maaf Bu, ini semua sudah takdirku seperti ini " Zan liang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Sindi.
__ADS_1
Sindi hanya bisa menatap Sendu Zan liang , walau dia ingin memperbaiki kesalahan Brian, tapi dia tahu jika waktu tidak bisa di ulang kembali.
Semua orang sedang sarapan bersama saat Sindi menghampiri meja makan , Krisna bertanya pada ibunya " Zan liang mana bu ?"
Sindi menghela napas " dia tidak mau makan bersama kita "
Krisna langsung berdiri , dia mengecup kening istrinya " Sayang aku berangkat dulu yah , Ibu ,Ayah aku mau mengejar Zan liang " Krisna langsung berlari mengejar Zan liang.
Semua orang tidak ada yang menghentikannya , Krisna naik mobilnya ,dia bergegas mengejar Zan liang.
Saat mobil baru keluar gerbang , benar saja Zan liang berniat naik kendaraan umum, Martin yang sedang membujuknya juga tidak di gubris.
Mobil Krisna berhenti di samping Zan liang , tapi Zan liang tidak menghiraukannya , dia tetap melangkahkan kakinya.
" Zan berhenti dulu !" Krisna turun dari mobil dan mengejarnya.
Zan liang berhenti dengan malas " Aku bisa berangkat sendiri Kak !" ucap Zan liang ketus.
" Aku tahu itu , tapi kamu baru saja keluar dari rumah sakit , naik kendaraan umum bakal desak - desakan ,luka kamu masih basah Zan !" Krisna mencoba membujuk.
" Aku sudah tidak apa - apa kak " Zan liang melangkah pergi.
" Tidak apa - apa ? , apanya coba ?, ayo masuk mobil kakak , biar kakak antar !" ucap Krisna tegas.
Zan liang diam ditempat , Krisna menarik Baju Zan liang " Ayooo...!"
Zan liang dengan terpaksa naik mobil Krisna , dia tidak bicara didalam mobil , karena dia sedang tidak mood berbicara dengan keluarganya.
Krisna membuka pembicaraan " Kamu masih marah sama Ayah ?"
" Tidak !" jawab Zan liang singkat.
Krisna menghela napas " Jangan seperti ini terus Zan , semakin kamu menutup diri pada kami , Semakin besar pula rasa bersalah kami pada kamu ?, apa kamu tahu kenapa Ayah jadi seperti sekarang ?, dia tiga tahun ini selalu memikirkan kalian , Ayah juga sudah menyadari kesalahannya , jangan membuat Ayah semakin terpuruk Zan , kakak yakin ibu Mei juga tidak ingin kamu seperti ini "
Zan liang tidak membalas ucapan Krisna , dia hanya diam menatap kedepan pura - pura tidak mendengar apa yang di ucapkan krisna.
__ADS_1
Krisna menghela napas " Kamu tahu sejak ayah tahu jika kamu masih hidup ,dia mulai bersemangat hidup lagi , dia yang selama tiga tahun tidak tersenyum , dia kembali tersenyum lagi seperti dulu , Zan Ayah sangat sayang sama kamu , tidak cuma Ayah ,kami juga sayang sama kamu , kamu tidak sendirian Zan ,kita keluarga , jadi tolong jangan menyiksa diri kamu sendiri " Mobil sampai didepan kampus.
Zan liang langsung membuka pintu dan akan meninggalkan mobil Krisna , Krisna mencekal lengan Zan liang lagi " Aduuhhh !" Zan liang kembali berteriak.
" Eh.. maaf , kakak lupa , oh ya kamu pulang jam berapa ?, biar nanti kakak jemput kamu " Ucap Krisna penuh perhatian.
" Tidak perlu , aku bisa pulang sendiri !" Zan liang menutup pintu mobil dan masuk kedalam Kampus.
Riska yang sudah menunggu Zan liang di depan gerbang , pasalnya Riska tahu walaupun Zan liang sakit dia akan tetap berangkat sekolah jika dia bisa berjalan.
Zan liang sangat terobsesi menjadi Dokter spesialis ,karena dia ingin menemukan obat yang ampuh untuk menyembuhkan penyakit kanker.
Untuk itulah Zan liang seakan tidak lelah untuk belajar ,demi mewujudkan mimpinya , walaupun orang yang ingin dia sembuhkan sudah tidak ada ,setidaknya dia tidak ingin ada orang lain yang menderita seperti ibunya.
" Pagi Zan .." Sapa Riska ramah.
Zan liang mengangguk " pagi juga Ris "
" kenapa kamu tidak istirahat dulu Zan ?, lukamu parah loh.." ucap Riska khawatir.
" Ini hanya luka kecil kok , aku tidak apa - apa , Ris .. kamu sudah sarapan ?" tanya Zan liang tiba - tiba yang membuat Riska terkejut , pasalnya Zan liang tidak pernah mau makan bareng dia , tapi sekarang Zan liang malah bertanya.
" Belum , mau sarapan bareng Zan ?" Walaupun sebenarnya Riska sudah sarapan tapi demi Zan liang dia rela berbohong untuk menemaninya.
Zan liang mengangguk , dia kemudian mengajak Riska ke Kantin , Riska sangat senang karena akhirnya Zan liang seperti membuka diri untuknya.
Zan liang yang wajahnya masih terlihat lebam tentu saja membuat semua mahasiswa /i memandanginya , karena dia mahasiswa teladan jadi mereka bertanya - tanya kenapa dia bisa babak belur.
Tapi Zan liang tidak menghiraukannya , lagi pula dia juga tidak terlalu dekat dengan Mahasiswa yang lain , jadi dia tidak peduli sama sekali jika dirinya jadi pusat perhatian.
.
.
.
__ADS_1
.
.