
Riska bergegas menemui Zan liang yang sudah menunggunya, dia langsung menghambur merangkul lengan Zan liang tanpa rasa malu sedikitpun.
" Maaf Zan, kamu pasti sudah menunggu lama " Ucap Riska lembut.
Zan liang tersenyum " Buat kamu, menunggu sampai lumutan juga aku bersedia "
" Ih... belajar gombal dari mana kamu ?, gak pantas tahu !" Ucap Riska mencibir.
" Yah... padahal sudah berusaha, tapi usahaku ternyata sia - sia " Zan liang pura - pura lesu.
Riska terkikik geli " Dasar yah... Ayo pulang !" Riska menarik tangan Zan liang.
Zan liang tersenyum kecut, mereka berdua kemudian menuju Motor yang berada diparkiran.
Saat Zan liang akan menyalakan motornya, tiba - tiba ada tangan yang menghentikannya, Zan liang menoleh kearah orang tersebut, begitu juga Riska.
" Sherli, apa yang kamu lakukan ? " tanya Zan liang terkejut.
Sherli terlihat murung " Zan, aku ingin bicara denganmu sebentar " ucap Sherli lirih.
Riska mengerutkan keningnya " Sherli !, kami mau pulang, bisakah kamu tidak mengganggu kami ?" tanya Riska ketus.
" Zan, hanya sebentar saja, aku janji tidak akan lama " Ucap Sherli sambil menarik tangan Zan liang.
Riska mau marah, tapi Zan liang menghentikannya " Baiklah, sebentar saja yah ?, Ris.. kamu tunggu sebentar disini oke "
" Tapi Zan..."
Zan liang menutup mulut Riska dengan jarinya " Aku tidak akan kemana - mana, tunggu disini yah " ucap Zan liang sembari tersenyum.
Riska hanya bisa mengangguk dengan cemberut, pasalnya dia tahu jika Zan liang orang yang sangat peduli dengan Wanita.
Zan liang turun dari motornya, dia mengikuti Sherli yang mengajaknya ke pojokan parkiran.
__ADS_1
" Jadi apa yang ingin kamu bicarakan ?" tanya Zan liang tanpa.basa - basi.
Tiba - tiba Sherli menangis " Hiks..Hiks.. Zan, aku sangat mencintaimu, aku tahu kamu sudah memiliki pacar, tapi bisakah kamu memberikan kesempatan padaku ?"
Zan liang menghela napas " Maaf Sherli, tapi itu tidak mungkin, aku sudah punya Riska kamu tahu itu, lebih baik kamu lupakan saja aku dan cari orang lain yang lebih baik dariku !"
Zan liang tidak mau bertele - tele, pasalnya dia tahu jika seorang wanita diberi kelembutan, mereka akan menaruh harapan, jadi Zan liang lebih baik memyakitinya sekalian.
Tapi Sherli tidak mau menyerah, dia kekeh dengan pendiriannya, karena menurut Sherli hanya Zan liang yang cocok untuknya.
Zan liang mau melangkah pergi, tapi Sherli menarik tangannya, Zan liang terpaksa menoleh lagi.
" Ada apa la..."
" Cup !" Sherli tanpa ragu mengecup bibir Zan liang, sontak saja Zan liang terkejut, dia langsung mendorong Sherli.
" Sherli !, apa yang kamu lakukan !?, semakain kamu seperti ini aku semakin tidak suka !" Zan liang mengusap Bibirnya dengan tangannya.
Sherli tersenyum masam " Itu bukti kalau aku rela melakukan apapun untukmu Zan, aku nuga rela jika harus melepas kesucianku untukmu !" Ucap Sherli yakin.
Sherli memanggil - manggil Zan liang, tapi Zan liang mengabaikannya, dia sangat kesal dengan tindakan Sherli yang notabenya sangat murahan.
Zan liang bergegas ke motornya, dia tidak mau melihat kebelakang lagi, pasalnya dia sudah sangat marah dengan Sherli hingga tidak ingin melihat wajahnya lagi.
" Ayo kita pulang Ris !" ucap Zan liang ketus.
Riska mengerutkan keningnya, dia bertanya sembari memakai helmnya " Kamu kenapa Zan ?"
Zan liang tidak menjawab, dia langsung menyalakan motornya dan meninggalkan Universitas.
Di jalan Zan liang sudah semakin tenang, dia yang melihat jika Riska tidak berpegangan padanya, Zan liang menarik tangan Riska untuk memeluknya.
" Maaf Ris, tadi aku sedikit emosi " Ucap Zan liang.
__ADS_1
Riska yang mendengar ucapan Zan liang hanya menggelengakan kepalanya, dia memeluk Zan liang dengan erat.
Motor membelah keramaian kota Jakarta, Zan liang mengendarai motornya dengan santai, pasalnya dia merasa nyaman di peluk Riska seperti itu.
Zan liang tidak ingin momen seperti itu cepat berakhir, karena hanya dengan bersama Riska dia bisa merasakan kenyamanan seperti itu.
Tapi sayangnya kebersamaan mereka harus disudahi dulu, karena mereka sudah sampai di rumah Riska.
Motor berhenti didepan rumah Riska, Riska menyurh Zan liang untuk mampir terlebih dahulu.
Dewi, Ibu Riska yang kebetulan ada diteras juga langsung menghampiri Zan liang, dia juga meminta Zan liang untuk mampiri dulu.
Zan liang terpaksa menurut, dia mampir dulu dirumah Riska, kali ini Riska dibebaskan berduaan dengan Zan liang dirumahnya, mereka mau berbuat apa juga tidak masalah.
Karena semakin intim mereka, orang tua Riska semakin senang, pasalnya jika Riska sudah mau bercocok tanam dengan Zan liang, kemungkinan mereka menjadi besan Tuan Axel, akan semakin besar.
" Zan, anggap seperti rumah sendiri, Ibu ada urusan dibelakang " Dewi pamit undur diri.
Zan liang tersenyum kecut, dia hanya memganggukan kepalanya, tanpa berbicara apapun, pasalnya dia tahu jika Orang tua Riska berubah sikapnya setelah tahu tentang identitasnya.
" Maafkan orang tuaku yah Zan " Ucap Riska sendu.
" Apa yang kamu katakan, aku tidak pernah memikirkan hal itu, yang penting sekarang mereka sudah mau menerimaku, itu saja sudah cukup " jawab Zan liang tulus.
Riska menghela napas " andai saja dari dulu mereka seperti ini sama kamu "
" Sudah, sudah, yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita buka lembaran baru " ucap Zan liang sembari tersenyum.
Riska juga ikut tersenyum, dia sangat senang karena Zan liang sangat pengertian pada orang tuanya, walaupun dulu dia dicaci mali oleh orang tuanya, tapi Zan liang tetap bisa memaafkan mereka.
Riska berharap agar orang tuanya cepat sadar, jika bukan hanya uang yang menjadi patokan, Atitude juga sangat diperlukan dalam bermasyarakat.
.
__ADS_1
.
.