
Keluarga Zan liang langsung di evakuasi, mereka semua langsung di antar pulang ke kediaman Axel.
Riska dan Zahra terlihat masih ketakutan, mereka berdua bersender di bahu Zan liang, Riska di kiri dan Zahra di kanan.
" Zan, aku sangat takut " ucap Riska lirih.
Zahra menimpali " kenapa hari baik kita malah jadi seperti ini Zan ?"
Zan liang menghela napas " Kalian tenang yah, Ayah pasti akan menyelesaikan semuanya "
Sebenarnya Zan liang masih memikirkan bagaimana bisan Sherli tiba - tiba muncul dan ingin membunuhnya.
Zan liang berpikir jika Sherli terlalu Frustasi dengannya, tapi kenapa harus di bunuh ?, padahal dia bisa di lumpuhkan saja.
Zan liang mengra jika anak buah Ayahnya yang membunuh Sherli, dia tidak tahu jika ada pembunuh bayaran yang mengincarnya.
Sementara itu di tempat Mister X, dia lagi - lagi marah " Apaa!!!, kenapa mereka berdua bisa gagal ?, bukankah mereka harusnya dapat membunuh anak Brian dengan Mudah !?"
" Saya juga tidak tahu Tuan, karena tiba - tiba ada seorang wanita gila yang ingin membunuh anak Brian, tapi dia yang malah melindungi anak Brian, karena dia berlari tepat di arah Bidik mereka berdua " ucap tangan kanan Mister X.
" Anak ini benar - benar sialan !, dia memiliki keberuntungan yang sangat tinggi !, Je, cepat cari cara yang lain untuk membunuhnya !" ucap Mister X geram.
" Baik Tuan !" Je langsung pergi meninggalkan Mister X.
Mister X sangat geram karena tidak berhasil membunuh Zan liang, waktu di pulau senkuku juga dia tidak bisa membunuhnya, padahal waktu ktu dia sudah mengerahkan sebagian dari anak buahnya.
Mister X sebenarnya hanya mengincar Zan liang, alasan dia mengincar Zan liang, karena Zan liang tahu semua rahasianya.
Saat Zan liang berlibur di Obyek wisata lokal pulau Senkuku, Zan liang tidak sengaja mendengar Mister X yang sedang mengobrol dengan seseorang membahas tentang pemberontakan di Indonesia.
Zan liang waktu itu mendengar semua percakapan Mister X dengan seseorang.
Padahal sebenarnya Zan liang tidak peduli akan hal tersebut, tapi demi menjaga Rahasianya, Mister X mencari tahu keberadaan dan Identitas Zan liang.
__ADS_1
Dan secara kebetulan ternyata Zan liang adalah anak Brian yang Notabenya benteng terakhir Indonesia dengan kekuatan Milter pribadinya.
Zan liang mungkin lupa dengan percakapan Mister X, karena dia tidak pernah menganggapnya Serius, Zan liang pikir jika Mister x hanya sedang bercanda dengan temannya.
Zan liang dan keluarganya mereka sudah sampai dikediaman Axel, Ke empat Istri Brian yang melihat Zan liang murung, mereka menyarankan agar Zan liang istirahat.
" Zan, kamu bawa Riska dan Zahra ke kamar untuk Istirahat, jangan terlalu di pikirkan masalah ini " ucap Sindi lembut.
Mira menimpali " Benar kata Ibu Sindi, kamu dan Istri kamu jangan terlalu memikirkan masalah ini, biar Ayah dan anak buahnya yang menangani masalah ini."
Zan liang mengangguk " Baik Bu, kami ke kamar dulu "
Zan liang membawa kedua istrinya ke kamar, Zan liang sebenarnya tidak peduli dengan masalah tersebut, karena dia berpikir itu bukan masalah serius, dia hanya memikirkan Sherli kenapa dia begitu sangat nekad.
Ketiak di dalam kamar, Zan liang bertanya pada kedua istrinya " Apa kalian masih takut ?"
" Sedikit Zan, aku.... "
Riska belum selesai bicara, Zan liang mengecup bibir Riska, hingga membuatnya terdiam dan menyambut kevupan tersebut.
Zan liang lupa jika dia memiliki dua wanita di kamarnya.
Zan liang melepaskan pagutannya dari Riska dan langsung beralih pada Zahra.
Zahra terlihat sangat agresive, walaupun gerakannya masih sangat kasar.
Tapi tetap saja, hal tersebut membuat Zan liang menaikan libidonya.
Zan liang menggilir mereka berdua dengan adil, Riska dua kali clup, Zahra juga sama, Riska 10 menit, Zahra juga sama.
Entah kenapa Zan liang terlihat sangat bersemangat menggarap mereka berdua.
Zahra yang kali pertama melakukan hubungan badan, dia meringis kesakitan ketika Zan liang partama kali merobek mahkotanya.
__ADS_1
Riska.yang pernah merasakan hal tersebut, dia berbisik pada Riska " Rilex saja, semakin lama semakin enak kok Zah "
Zahra mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya.
Benar kata Riska setelah sepuluh menit berlalu, dia merasakan kenikmatan yang belum dia rasakan, walau masihbsedikit perih, tapi lebih banyak nikmatnya.
Zan liang menggarap mereka hingga waktu makan malam tiba.
Zahra benar - benar di buat tidak bisa berjalan oleh Zan liang, Riska menghiburnya di kamar, sementara Zan liang mengambilkan makanan untuk mereka berdua.
Ketiak Zan liang mau mengantar makanan ke kamar, Brian menegurnya " Zan, nanti kemari, Ayah ingin bicara padamu !" ucap Brian tegas.
Zan liang mengangguk " Baik Ayah !".
Zan liang ke kamarnya, dia melihat Zahra yang terbaring diam seperti patung, dia seolah tidak bergerak membuat Zan liang cemas.
" Zah, kamu kenapa ?, apa kita perlu kedokter ?" tanya Zan liang.
Riska tersenyum " Tidak perlu sayang, inilah kenikmatan pertama kali ketika kami melepas mahkota kami, aku juga waktu itu merasakannya, tapi aku coba tahan demi kamu " ucap Riaka lembut.
Zan liang mengerutkan keningnya " Tapi kamu aku garap berkali - kali malah ke enakan ?, benarkah kamu menahan sakit ?, atau aku harus menggarap Zahra lagi agar dia seperti kamh ?"
Zahra membelalakan matanya " Tunggu besok lgi aja Zan, aku benar - benar tidak nyaman " ucap Zahra memelas.
Membayangkan saja Zahra sudah merasa ngilu, apa lagi jika Zan liang menggarapnya lagi, Zahra begidik ngeri ketika membayangkannya.
Sementara Riska tersenyum penuh arti saat melihat Zahra yang seperti itu, pasalnya dia yakin jika Zahra sedang membayangkan di hajar Zan liang lagi.
" Ya sudah, aku menemui Ayah dulu, Ris, kamu bantu Zahra makan yah " ucap Zan liang lembut.
Riska mengangguk, Zan liang kemudian keluar kamar dan menemui Ayahnya yang sudah menunggunya di ruang keluarga.
.
__ADS_1
.
.