Zan Liang ( Menjadi Kaya 2 )

Zan Liang ( Menjadi Kaya 2 )
Zan liang Ke Brebes


__ADS_3

Zahra dan Riska saling menatap, mereka saling menatap kemudian tersenyum.


" Kami akan ikut kemana kamu pergi Zan, iya kan Ris ?" tanya Zahra pada Riska.


Riska mengangguk " Benar Zan, kami akan mengikuti kamu kemanapun kamu akan pergi "


Zan liang tersenyum senang " Terimakasih Ris, Zah "


Mereka bertiga kemudian keluar dari kamar untuk makan bersama, pasalnya dari pagi mereka belum memakan apapun.


Satu minggu berlalu, Zan liang dan Kedua istrinya, bersiap - siap untuk ke Brebes.


Zan liang juga sudah mempelajari berkas - berkas yang diberikan oleh Martin, dia kurang lebih sudah tahu semua tentang perusahaan Ayahnya di Brebes.


Orang Tua Riska juga datang ke Vila Brian untuk mengantar kepergian Riska dengan Zan liang " Zan, Ayah dan ibu titip Riska yah ?"


Zan liang tersenyum " Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir, Zan pasti akan menjaga Riska "


Zan liang kemudian berpamitan dengan keluarganya " Ayah, Ibu, Kakak, dan kalian semua, Zan pamit " ucap Zan liang sopan.


Brian menjawab " Buktikan sama ayah jika kamu memang seorang pria Zan " Brian memeluk Zan liang dan menepuk - nepuk bahunya.


Zan liang mengangguk, Krisna buka suara " Jangan Seperti anak kecil lagi Zan, kamu sekarang sudah menikah "


Zan liang tersenyum " Zan tahu kak, terimakasih karena selama ini telah memberi Zan pelajaran yang berharga "


Zan liang kemudian menyalami semua keluarganya dan keluarga Riska, Karena keluarga Zahra sudah pulang, dia berpamitan dengan mereka ketika mengantar ke bandara.


Riska dan Zahra juga berpamitan dengan keluarga Zan liang, mereka beryiga kemudian menaiki Mobil untuk segera berangkat ke Brebes.


Martin membawa Anita dan Anaknya yang masih duduk di bangku SMP, mereka menaiki Mobil yang berbeda dengan Zan liang.


Lambaian tangan Keluarga Zan liang dan Riska mengantar kepergian mereka.

__ADS_1


Zan liang menatap Vila Brian ketika Mobil mulai menjauh, setelah beberapa Bulan dia hidup bersama keluarganya, sekarang dia berpisah lagi dengan mereka untuk menempuh hidup baru bersama keluarganya Sendiri.


Perjalanan dari Jakarta ke Brebes memakan waktu lima jam perjalanan.


Ketika Mereka sampai di Tol pejagan, mereka mulai melihat hamparan persawahan penduduk setempat yang di tanami Padi dan jagung.


Mereka belum terlalu banyak melihat petani bawang merah disana, pasalnya di Mulai dari Kota laranganlah kebanyakan petani Bawang berada.


Zan liang menatap para petani Bawang yang sedang panen, mereka memikul bawang sampai di pinggir jalan, ada juga yang menggunakan motor untuk mengangkut bawang - bawang tersebut.


Walaupun pekerjaan mereka berat, tapi mereka terliahat sangat antusias, karena mungkin hanya dari situlah tempat mereka menyambung Hidup.


Ketika iring - iringan Mobil Zan liang lewat, para tukan Songgol ( Kuli Pengangkut bawang ) heboh.


" Wih ... pak presiden liwat ndea yah ?" ( Wah... Pak Presiden Lewat kali Yah ?.)


" Ndea tah iya Parjo, soale di iring polisi keding !" ( Mungkin iya Parjo, karena di iring polisi Juga )


" Enak nemen yah dadi Wong sugih, ngendi - ngendi ana sing njaga !" ( enak sekali yah jadi orang kaya, kemana - mana ada yang menjaga )


" Pak, di depan berhenti sebentar !" perintah Zan liang pada sopirnya.


" Baik Tuan muda " Sopir menurut saja, dia kemudian memelankan Mobilnya dan berhenti di pinggiran jalan.


Mobil yang lain juga Ikut berhenti, Para penjaga yang ikut Zan liang langsung turun dari Mobil dan bersiaga.


" Zan, kamu mau kemana ?" tanya Zahra bingung.


Zan liang tersenyum " Berbagi rejeki sama mereka, kalian mau ikut atau di mobil saja ? " Zan liang menatap para songgol yang tadi melambaikan tangannya.


" Ikut !" Ucap Zahra dan Riska kompak.


Ketika Zan liang keluar dengan kedua istrinya, para penjaga langsung dengan sigap mewaspadai tempat tersebut.

__ADS_1


Zan liang menghampiri para Songgol yang sedang beristirahat, Parjo yang tadi melambaikan tangannya pada Zan liang ketakutan.


" Dul, ganing marani enyong, aduh aku kudu pime ?" ( Dul, kenapa dia menghampiri aku, aduh aku harus ngapain ?)


" Koen sih Jo kakeen gaya dadi kue akibate !" ( Kamu sih Jo banyak gaya, jadi ginikan akibatnya !)


" Lah, aku mukur nyapa tok, emanage salah nyapa ?" ( Lah, aku cuma nyapa saja, emangnya salah Menyapa ?)


Mereka takut buka karena apa, tapi takut karena Penjaga Zan liang semuanya kekar dan terlihat sangar.


Sontak saja ketika Zan liang dan Kedua istrinya menghampiri Parjo, songgol yang lain langsung berkumpul, karena mereka tidak mau temannya di apa - apakan.


" Selamat siang bapak - bapak " Ucap Zan liang ramah ketika sampai dihadapan mereka.


" Siang juga Mas, ana apa yah mas ?" tanya Parjo dengan bahasa indonesia medoknya.


Zan liang tersenyum " tidak ada apa - apa, aku hanya ingin tanya saja sama bapak - bapak, penghasilan kalian perhari berapa yah kalau boleh tahu ?"


" Lah, Tak kira ana apa, Mase bikin aku takut saja " Parjo mengelus dadanya.


Sedul menimpali " Masnya orang mana yah kalau boleh tahu ?"


" Aku dari jakarta pak, kebetulan aku juga akan tinggal dekat sini nanti, apakah aku boleh tahu pendapatan bapak - bapak seharinya berapa ? " jawab Zan liang ramah.


Sedul tersenyum " Tentu saja Boleh mas, pendapatan kami sehari bisa 200 ribu kalau musim panen seperti sekarang, tapi kalau tidak ya kami tidak punya penghasilan, paling - paling kalau ada yang menyuruh kami nyangkul sehari dapat 50 ribu, ya itu juga kadang - kadang "


" Iya mas, wong Tani itu tidak Pasti penghasilane, Kalau musim panen kaya gini alhamdulilah bisa ngajak anak istri Makan bakso bersama, tapi kalau lagi sepi ya terpaksa ngutang sana - sini, hehehe..."


Zan liang tersenyum kecut ketika mendengar penjelasan parjo, faktanya memang seperti itu, untuk kuli seperti mereka dapat uang jika ada yang menyuruh, jika tidak ada yang terpaksa gali lobang tutup Lobang.


Berbeda dengan petani yang memiliki tanah Luas, kata lainnya Juragan tanah, mereka bisa mendapatkan banyak uang ketika panen, sedangkan para Kuli hanya kebagian uang recehnya saja.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2