
Zan liang menatap Riska yang di gandenga oleh Sindi, Riska terlihat menoleh kearah Zan liang dengan tatapn Khawatir.
Zan liang hanya tersenyum ke arah Riska sembari melambaikan tangannya.
Krisna menegur Zan liang " Besok kamu ada waktu Luang Zan ?"
" Aku ada Kuliah Siang, Memangnya ada apa Kak ?" tanya Zan liang penasaran.
" Baguslah, nanti pagi - pagi kamu ikut kakak ke kantor, ada yang ingin kakak perlihatkan sama kamu " jawab Krisna santai.
Zan liang mengerutkan keningnya, karena menurut dia jika Krisna ingin memperlihatkan sesuatu, kenapa tidak sekarang saja ?, kenapa Musti meninggu Besok ?.
Zan liang menatap Curiga Krisna, tapi Krisna mengabaikannya, dia malah menarik Zan liang agar ikut kumpul bersama keluarganya.
Perjamuan untuk Riska sangat meriah, terlihat semua keluarga Zan liang sangat ramah dengan Riska, sampai - sampai di buat bingung oleh mereka yang terlalu baik padanya.
Riska merasa canggung nerada ditengah - tengah keluarga Zan liang.
Zan liang yang tahu jika Riska menutupi kegelisahannya, dia segera duduk disamping Riska, Riska menghela napas lega saat Zan liang duduk di sampingnya.
" Ris, setelah kuliah, rencana kamu selanjutnya apa ?" tanya Brian tiba - tiba.
Riska tersenyum kearah Brian, dia menggelenga " Saya belum tahu A...yah "
" Ayah ?" Beo Zan liang.
Rayan buka suara " Iyalah Ayah, diakan akan menikah dengan kakak, gimana sih ?"
Zan liang menatap Riska, dia mengernyitkan dahi, pasalnya sejak kapan Riska memanggil Brian Ayah dan kapan mereka akrab ?.
Riska menghela napas saat melihat tatapan Zan liang " Ayah menyuruhku memanggilnya seperti itu saat kamu koma dirumah sakit, memangnya tidak boleh ?" Riska bertanya menyelidik.
" Eh... Bukan begitu, aku heran saja, sejak kapan kalian sedekat ini ?" Zan liang malah di buat serba salah oleh tindkannya.
" Sudah, Sudah, jangan bertengkar disini, Ayo lanjutkan makannya " Ucap Sindi lembut.
__ADS_1
Riska mengangguk sembari tersenyum, sementara Zan liang menghela napas lega karena Riska tidak marah padanya.
Keluarga tersebut menikmati momen itu dengan bahagia, Riska juga merasa sangat senang karena dia bisa diterima oleh keluarga Zan liang.
Waktu berlalu tanpa terasa hari sudah malam, Riska yang awalnya canggung sudah mulai terbiasa dengan keluarga Zan liang.
" Ris, kamu menginap disini saja !" ucap Alicia santai.
Zan liang langsung bergegas menjawab " Tidak boleh, mana ada Wanita menginap dirumah pria !"
Alicia menyeringai " Idih... kakak ke Pede'an, lagian Riska juga temanku, diakan bisa satu kamar denganku " goda Alicia pada Zan liang.
Viona menimpali " benar itu Zan, dulu ibu juga menginap dirumah Ayahmu waktu belum menikah "
" Tapi Bu..."
Zan liang belum selesai bicara Brian memotongnya " lagi pula apa salahnya Riska menginap disini Zan, rumah ini juga masih banyak kamar kosong "
Rayan ikut menimpali " Benar kak, kami juga tidak melarang jika Riska satu kamar denganmu "
Zan liang juga menatap Sinis Rayan, membuatnya menundukan kepalanya, dia tidak berani menatap Zan liang.
" Ris...., Apa kamu mau menginap disini ?" tanya Sindi menengahi mereka.
Riska mengangguk malu - malu, dia tidak keberatan sama sekali menginap dirumah Zan liang, pasalnya dia sangat senang berada di keluarga Zan liang, daripada dirumah Orang Tuanya akan selalu menanyakan hubungannya dengan Zan liang.
Riska.sangat risih jika setiap hari ditanyai terus tentang hubungannya dengan Zan liang oleh orang Tuanya, untuk itulah dia ingin sedikit menjauh dsri orang tuanya.
Zan liang tercengang saat Riska mau menginap dirumahnya, dia menatap Riska dengan heran, pasalnya Riska yang di kenal Zan liang dulu tidak seperti itu, tapi hari ini dia sangat berbeda.
Alicia menarik tangan Riska " Ayo ke kamarku Ris !, Kak aku pinjam Riska yah ?"
Riska hanya mengangguk, dia mengikuti Alicia ke kamarnya, tanpa menoleh kebelakang.
" Kenapa kalian memgijinkannya, Astaga...." Zan liang menghela napas kesal.
__ADS_1
" Sudahlah Zan, toh dia juga akan menjadi bagian dari keluarga kita, atau kamu....?" Brian memicingkan matanya pada Zan liang.
Zan liang menghela napas " Jangan berpikiran aneh - aneh Ayah, aku serius dengannya tapi tidak se...."
" Ya sudah, berarti tidak ada masalah bukan ? " Brian memotong ucapan Zan liang.
Zan liang hanya bisa pasrah saja, dia kemudian beranjak dari duduknya dan langsung pergi ke kamar.
Sementara itu Riska yang sudah berada di kamar Alicia, dia terkagum - kagum dengan kamar Alicia yang sangat besar.
Ranjang yang begitu besar, seperti ranjang Raja, Lemari dengan delapan pintu, Meja Rias dengan perlengkapan Riasannya.
Riska sedikit tertegun menatap kamar Alicia, pasalnya jika dibandingkan dengan Kamar Alicia, kamarnya mungkin hanya sepojokan kamar Alicia.
" Kenapa.kamu diam disitu ?, Ayo sini !" Alicia menepuk - nepuk ranjangnya.
Riska tersadar, dia tersenyum kecut dan langsung menghampiri Alicia sembari langsung duduk disampingnya.
" Kamar kamu besar banget Alicia " ucap Riska jujur.
" Ini biasa saja, dibandingkan kamar Ayah tidak ada apa - apanya " Jawab Alicia santai.
' Uhuk..uhuk...' Riska tersedak ludahnya sendiri, pasalnya kamar seperti itu dibilang biasa saja, jadi sebesar apa kamar Brian ?.
Alicia menepuk - nepuk punggung Alicia " Kamu kenapa Ris ?"
Alicia mengangkat tangannya " Aku tidak apa - apa " Ucap Riska tersenyum getir.
Riska kemudian kepikiran dengan kamar Zan liang, apakah kamar Zan liang juga begitu besar seperti kamar Alicia ?.
Riska sangat penasaran, terlintas dibenaknya untuk pergi kekamar Zan liang, karena Riska pikir jika dia menginap disana, sekalian saja untuk melihat - lihat rumah besar tersebut.
.
.
__ADS_1
.