
Sherli mengobrol dengan Brian dan Tanti, walaupun dia gugup, tapi karena keramahan Brian, lama - lama dia terbiasa.
Sherli sangat senang karena bisa megobrol dengan orang tua Zan liang, jika orang tuanya tahu kalau Sherli berteman dengan anak Brian, mungkin dia akan sangat senang.
" Sherli, ayo dimakan dulu, maaf hanya ada seperti ini dirumah kami " ucap Sindi yang baru datang dan ikut duduk bersama mereka.
" hanya ada kaya gini apanya , ini semua makanan mahal, minuman ini juga terlihat seperti di restoran mahal , anda terlalu merendah Nyonya Axel " Ucap Sherli dalam hati.
Sherli tersenyum kecut " Terimakasih Tuan, Nyonya karena saya sudah di izinkan untuk masuk kerumah anda "
" Janngan sungkan, kamu adalah teman Zan, jadi anggap saja seperti rumah sendiri " Ucap Sindi lembut.
Sementara Tanti masih menatap menyelidik Sherli, karena Tanti tidak mau jika Zan lian di manfaatkan oleh seorang Wanita, kalau itu Riska, Tanti sudah bisa menerimanya.
Karena menurut Tanti, Riska adalah wanita yang jujur, apalagi dia sudan menyukai Zan liang semenjak belum tahu identitas Zan liang, hal tersebut saja sudah membuktikan jika Ruska wanita baik - baik.
Berbeda dengan Sherli, dia terlihat saat Zan liang sudah terungkap identitasnya, jadi Tanti sedikit curiga dengan Sherli.
Sherli ngobrol sebentar, kemudian dia pamit pulang, karena tidak enak jika wanita main kerumah pria, sementara si pria lagi sakit, apa lagi Sherli tidak di ajak masuk ke kamar Zan liang, jadi Sherli memutuskan untuk pulang saja.
Sindi dan Brian mengantar Sherli sampai didepan pintu, Setelah Mobil Sherli pergi, Mereka berdua kembali masuk.
Brian duduk disebelah Tanti, dia kemudian bertanya " Kenapa dari tadi kamu diam saja ?, sepertinya kamu tidak suka dengan Sherli ?"
Tanti menghela napas " Sayang, lihat baik - baik deh,Jika dia wanita baik - baik mana mungkin dia akan ikut Zan liang pulang, Riska saja yang notabenya suka dengan Zan liang, dia tidak pernah mau main kesini "
Brian tersenyum " Bukankah dia sama seperti kamu saat muda dulu, iyakan Sin ?"
__ADS_1
Sindi menimpali " Benar itu, lihatlah waktu kamu muda, betapa agresivenya kamu Tan, sampai - sampai kamu tidak mau pulang dari rumah Ibu dulu "
Tanti mendengus " Kapan ?, bukankah itu kamu Sin, lagian akukan beda dengan Sherli !" Walaupun sudah paruh baya, tingkah istri - istri Brian memang selalu seperti itu jika sedang tidak ada orang lain.
" Sudah, sudah, Sayang...., aku tahu kamu khawatir, tapi tidak baik menilai orang dari satu dua pertemuan, kita lihat saja nanti kedepannya bagaimana " Brian menengahi kedua istrinya.
Tanti menghela napas " Sudahlah, lagi pula mungkin dia kaya kamu akan memiliki banyak istri " ucap Tanti lemah.
Sindi terkikik geli " Hihihi... Sejak kapan kamu mempermasalahkan hal itu Tan ?, perasaan kamu sendiri juga merestui hubunganku dengan Brian ?"
Tanti langsung beranjak dari tempat duduknya, dia langsung menuju kamarnya, karena kalah debat dengan Sindi.
Brian menghela napas melihat istrinya yang seperti itu, Sindi menepuk tangan Brian dan tersenyum, pasalnya Sindi tahu jika Tanti hanya kesal sesaat.
Sementara itu di kamar Zan liang, dia sedang berbalas pesan dengan Riska, dia terlihat senyum - senyum sendiri sambil menatap Layar ponsel jadulnya.
Zan liang menoleh ke arah Mindi, dia tersenyum " tidak ngantuk Mind, ada apa Mind ?"
Mindi menghampiri Zan liang, dia duduk di tepi ranjang Zan liang " Kakak, Mindi minta maaf, gara - gara Mindi kakak seperti ini "
Zan liang tersenyum " Hei.. Ini bukan salahmu, jangan terus - terusan menyalahkan diri kamu, lagi pula kakak sudah tidak apa - apa " Zan liang mengusap pipi Mindi.
" Tap kak...." Suara Mindi tertahan.
Zan liang menggelengkan kepalanya " sudah menjadi kewajiban Kakak, untuk menjaga adik Kakak, jika kamu yang kenapa - napa, kakak yang akan merasa bersalah, jadi sudah yah, kamu harus ceria lagi oke !" ucap Zan liang lembut.
Mindi mengangguk sambil memegang tangan Zan liang yang ada di pipinya, Mindi merasa sangat tersentuh dengan ucapan Zan liang.
__ADS_1
Walaupun mereka sudah tidak bertemu lama, tapi Zan liang menyayanginya dengan tulus, Mindi tidak melihat keraguan sedikitpun di mata Zan liang.
***
Sementara itu Sherli yang sudah sampai rumah, dia langsung menemui orang tuanya untuk menceritakan jika dirinya bertemu dengan Brian.
Sherli bercerita dengan semangat didepan kedua orang tuanya, Orang tua Sherli terkejut karena tiba - tiba anaknya bisa mengenal anak Brian.
" Sherli !, kamu tidak sedang membohongi Ayah dan ibu kan ?" Tanya Wirad ayah Sherli.
Ratih, ibu Sherli menimpali " ayahmu benar, kamu tidak sedang membohongi kami agar tidak menjodohkan kamu kan ?"
Sherli menghela napas " Ayah, Ibu buat apa aku bohong, tanya saja sama pak Santo, kami tadi main kerumah Tuan Axel !"
Wirad dan Ratih saling menatap, mereka sedikit tidak percaya, jadi mereka menyuruh pembantunya untuk memanggi Santo.
Santo dengan tergopoh - gopoh bergegas menemui majikannya " Tuan, Nyonya ada apa yah ?"
" Pak Santo, apa benar tadi Sherli dan kamu ke Rumah Tuan Axel ?" tanya Wirad tanpa basa - basi.
Santo langsung mengangguk - anggukan kepalanya, dia berbicara dengan semangat " Benar Tuan, Nyonya, Rumah Tuan Axel sangat besar, kami juga kesana dengan di iring banyak pengawal !"
Wirad dan Ratih terkejut, dia menatap putrinya, Sementara Sherli sedang memanyunkan bibirnya karena orang tuanya, tidak mempercayai kata - katanya.
.
.
__ADS_1
.