
Mobil yang ditumpangi Zan liang dan Riska sampai di keduaman keluarga Axel.
Zan liang keluar dari Mobil terlebih dahulu dan membukakan pintu Mobil untuk Riska, Riska tersenyum, padahal dia merasa ingin pingsan saja, karena Goanya benar - benar Ngilu dan perih.
Padahal Riska sudah memakai dalaman yang menurutnya paling nyaman, tapi tetap saja hal tersebut tidak berguna.
Riska berjalan hampir mengangkang, membuat Yugi semakin yakin jika Zan liang telah menggarap Riska.
" Dasar Tuan Muda !, besok juga mau menikah sudah tidak sabar saja ?" Yugi menggeleng - gelengkan kepalanya.
Yugi membawa Mobil ke garasi, sementara zan liang langsung masuk rumah bersama Riska.
Brian dan ke empat istrinya menyambut Zan liang dan Riska, Sindi langsung menghampiri Riska " Selamat datang kembali Ris " ucap Sindi lembut.
Riska tersenyum " Terimakasih Bu "
Riska mau bersujud pada Brian, tapi Brian menahannya " Sudahlah, Ayah sudah memaafkan kamu, toh ayah tidak bisa menjauhkan kalian jika Zan memang suka padamu " ucap Brian santai.
" Terima kasih Ayah " ucap Riska sopan.
Riska kemudian menyalami Istri Brian yang lain, Sindi mengerutkan keningnya saat melihat cara jalan Riska.
Sindi menatap.Zan liang yang terlihat tersenyum bahagia, dia menghela napas " Bawa Riska ke kamar dan suruh istirahat !" ucap Sindi tegas pada Zan liang.
Brian mengerutkan keningnya, dia menatap Sindi dengan heran, Sindi menghela napas lagi " sudah biarkan Zan dan Riska istirah dulu "
Zan liang tidak tahu jika Sindi menyadari jika dia telah menggarap Riska, dengan bodohnya dia membawa Riska ke kamarnya.
Ketiga istri Brian yang lain mulai mengerti kenapa Sindi melajukan hal tersebut.
" Astaga !, dia memang mirip Ayahnya !" ucap Mira tanpa sadar.
" Ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya memang benar !" Tanti menimpali.
Viona tersenyum kecut " Mau bagaimana lagi, memang dia yang paling mirip dengan Ayahnya !"
Brian mengerutkan keningnya " Kalian sedang membicarakan apa sih ?" tanya Brian yang belum menyadari tindakan Zan liang.
Mira tersenyum ke arah Brian " Kamu ingat sehari sebelum menikahiku Sayang ?" tanya Mira lembut.
__ADS_1
Brian mengernyitkan dahi " Apa hubungannya dengan hari i..."
Brian langsung teringat kejadian tersebut, dia langsung menoleh ke arah Zan liang dan Riska yang sedang menaiki tangga.
Benar saja Cara jalan Riska sedikit mengangkang, Brian tersenyum kecut " kenapa aku tidak menyadarinya ?" Brian memijat pangkal hidungnya.
" Sudah, sudah, toh ini semua juga sudah terjadi, yang penting besok mereka akan menikah " ucap Sindi lembut.
Brian menghela napas tidak berdaya, dia tidak me yangka jika sifat buruknya akan menurun pada Zan liang, padahal anak - anak yang lainnya cenderung meniru sifat baiknya, hanya Rayan yang sedikit meniru kakeknya waktu muda, dia sedikit tengil.
Zan liang membawa Riska ke kamarnya, dia menyuruh Riska istirahat, tentu saja Riska sangat senang, dia langsung membaringkan tubuhnya di ranjang Zan liang.
Riska tidak sadar jika Zan liang terus terngiang - ngiang ketika dia menggarapnya.
Saat mereka baru masuk kamar beberapa saat, Zahra yang tahu jika Zan liang sudah dikamarnya, dia langsung ke kamar Zan liang.
Zahra langsung memeluk Zan liang " Kamu jahat Zan !, kenapa kamu tidak mengajakku, bukankah kamu sudah janji akan membawaku kemanapun kamu pergi ?!" Zahra merajuk manja.
Zan liang menghela napas " Aku hanya ke rumah Riska, maaf Zah, aku harus melakukan ini semua "
" Aku sudah dengar semua dari kakek, aku tidak keberatan kamu menikahi kamu berdua, asal kamu harus adil kalu membagi ini !" Zahra meremas celana Zan liang.
" Eh..ini...Zan kamu ?" Zahra yang merasakan pusaka Zan liang mengeras, dia terkejut.
Riska menatap kemesraan keduanya, Riska menghela napas, dia sadar jika akan berbagi Zan liang dengan Zahra.
" Aku harus menguatkan mentalku, Ayah Brian saja bisa adil pada ke empat Istrinya, aku harap Zan liang juga bisa seperti itu, apa lagi hanya ada kami berdua saja " ucap Riska dalam hati.
Zahra langsung berbaring di dekat Riska, dia tersenyum menatap Riska " Semoga kita akur Ris "
Riska mengangguk " Aku juga berharap seperti itu Zah, mulai seksrang mohon bantuannya " ucap Riska lembut.
Zan liang yang melihat kedua calon istrinya tersenyum cerah, dia sudah membayangkan bagaimana nanti malam - malam yang akan di laluinya.
Zan liang berharap agar pusakanya mampu menghadapi mereka berdua.
Zan liang menatap ke arah pusakanya, dia membatin " Mulai besok mungkin kamu akan bekerja keras !, semangat masa depanku, kita akan menajalani masa - masa indah !"
Zan liang kemudian berbaring juga di tengah - tengah mereka " Zah, kamu mau tidur di sini juga ?" tanya Zan liang.
__ADS_1
" Memangnya tidak boleh ?" Zahra menggembungkan pipinya.
Zan liang menghela napas " Bukan begitu Zah "
Zahra tersenyum " Aku cuma mau melihat calon saudariku saja, Ibu juga pasti melarangku tidur dengan kalian dulu, ya sudah aku keluar yah, Ris, sampai jumpa besok " Zahra beranjak dari tempat tidur zan liang dan meninggalkan kamar Zan liang.
Zan liang mengunci pintu, dia kembali berbaring dan tidur berpelukan dengan Riska.
Saat subuh menjelang, Riska terbangun karena merasa ada sesuatu yang mengganjal di Goanya.
Riska terkejut saat matanya terbangun sepenuhnya, ternyata Zan liang sedang memompa Goanya.
" Zan...ihhhhh.... " Riska menatap Calon suaminya yang sedang memompanya dengan mantap.
Riska tidak menolak sama sekali, dia membiarkan Zan liang berbuat semaunya.
Riska hanya heran saja kenapa Zan liang begitu ketagihan menggarapnya.
" Zan, satu kaki saja yah, kita akan menikah takut telat nanti " ucap Riska dengan suara yang masih parau.
Zan liang hanya mengangguk lirih, Riska mulai mengimbangi Zan liang, agar Zan liang cepat mencapai puncak.
Benar saja setelah beberapa menit, Zan liang mencapai puncak.
Mereka berdua kemudian mandi bersama dan keluar kamar.
Keluarga Zan liang terlihat sudah bangun semuanya, mereka menyiapkan semua yang akan di bawa ke tempat pernikahan.
Sindi menghampiri Riska " Ayo ke kamar Zahra, nanti kamu giliran di rias disana " ucap Sindi lembut.
Riska mengangguk, dia mengikuti Sindi yang membawanya ke kamar Riska.
Sementara Zan liang yang malas bergabung dengan keluarga besarnya, dia lebih memilih pergi ke taman depan.
Zan liang duduk di kursi bawah pohon taman, dia mendongakan kepalanya ke langit " Bu... Zan akan menikah hari ini, maaf Zan tidak bisa memegang prinsip Zan yang ingin menikah dengan seorang wanita saja !, Zan berharap Ibu mengerti dengan keadaan Zan "
Walaupun hari ini adalah hari bahagia, Zan liang tidak melupakan Ibunya sama sekali, dia masih mengingat jelas bagaimana Mei sia mendidiknya hingga menjadi seperti sekarang.
.
__ADS_1
.
.