
Setelah tertangkapnya Irwan, Mister X dan kelompoknya, mereka mengadakan pertemuan lagi.
" Sudah aku bilangkan ?, jika Brian sekarang bukan orang yang mudah di profokasi !, lihat Irwan sekarang, aku yakin dia tidak akan selamat jika sudah ditangan Brian !, sekarang terserah kalian, mau ikut rencanaku atau mau menyerahkan nyawa seperti Irwan !" ucap Mister X dingin.
" Benar kata Mister X, harusnya kita membuat rencana yang matang terlebih dahulu, semakin kita bertindak ceroboh, semakin sulit untuk kita menghancurkan Brian !"
" Tapi kita harus menunggu sampai kapan lagi ?, Sewaktu kita berhasil membunuh istri dan anaknya yang berada di pulau Senkuku kurasa cara itu bisa berhasil lagi !"
" Mustahil !, para pengawal Brian sekarang menjaga perairan Indonesia dengan ketat, di Bandara juga !, mereka bekerja sama dengan TNI !, jika kita mengirim ******* ke Indonesia yang ada kita malah akan hancur lebur !"
" Jadi apa yang harus kita lakukan ?"
" Kalian tenanglah, aku masih memiliki Cara, orangku yang bekerja ditempat Brian akan membuka peluang kita untuk menghancurkan Brian, kita tunggu waktu yang tepat !" ucap Mister X, menenang mereka semua.
Diskusi panas tersebut berakhir ketika Mister X, mengungkapkan rencananya, semua anggota yang ikut dalam rapat setuju dengan usulan Mister X.
Mereka kemudian mematikan layar Virtual masing - masing dan mengakhiri pembicaraan mereka yang Notabenya terpaut oleh jarak.
...****************...
Beberapa hari kemudian Zan liang sudah diperbolehkan pulang, Riska sudah seperti istri Zan liang, setiap pulang Kuliah dia pasti langsung menemani Zan liang.
Hari ini saat Zan liang akan pulang, jadwal Riska kebetulan padat, jadi dia tidak bisa mengantar Zan liang, tapi Riska tidak luoa memberi kabar pada Zan liang, Zan liang mengerti dengan kondisi Riska, toh selama ini dia sudah menemani terus dirumah sakit.
Sindi mendorong kursi Roda yang diduduki Zan liang sampai ke mobil, ditemani Mira dan Brian.
Saat mereka mau pulang, Sherli menghampiri mereka " Zan .. Maaf aku baru tahu jika kamu kecelakaan " ucap Sherli dengan memeluk Parstel di dadanya.
__ADS_1
Saat tahu Zan liang durawat di Rumah sakit, Sherli langdung bergegas ke Rumah sakit, tapi sayangnya Zan liang sudah mau pulang, untung saja dia melihat Zan liang saat baru turun dari mobil.
Zan liang menoleh kearah Sherli " Sherli !, kamu tidak ada kuliah hari ini ?"
Sherli mengangguk " Nanti Sore baru ada " jawab Sherli lembut.
Sindi, Mira dan Brian saling menatap, Mereka tersenyum karena ternyata Zan liang memiliki beberapa Wanita Cantik disampingnya.
' Ehem ' Brian berdehem " Lebih baik kita ngobrolnya dirumah saja Zan, Kamu mau ikut kami atau...?"
" Eh... Om, Tante... Saya bawa Mobil sendiri, kalau boleh saya akan mengikuti dari belakang " jawab Sherli sopan.
" Baiklah, Ayo.. Gak enak ngobrol di parkiran !" Brian membantu Zan liang masuk ke mobil.
Setelah Zan liang masuk Mobil, Brian juga masuk, Sementara Sindi dan Mira pakai Mobil yang lainnya.
Mobil Brian didepan, di ikuti Mobil Sindi dan Mira, sementara Sherli di belakang, dengan di ikuti Mobil pengawal Brian yang berjumlah tiga Mobil.
Sherli sangat takjub karena walaupun dia juga kaya, tapi dia tidak pernah berkendara dengan di iringi pengawal secara langsung.
Tapi untuk keluarga Axel itu bukanlah hal yang aneh, pasalnya kalau Brian mau bepergian pasti memang selalu dikawal dengan ketat.
" Non, Kita beneran mau ke kediaman Tuan Axel ?" tanya Sopir gugup.
" iya pak, aku juga bingung tadi mau menolak gak enak, jadi ikut sajalah.." jawab Sherli yang juga ikut gugup.
Dahi sopir terlihat bercucuran keringat dingin, pasalnya dia tahu siapa Axel Brian dan tentunya dia tidak bisa berbicara bebas saat disana.
__ADS_1
Hanya butuh waktu lima belas menit mereka sampai dikediaman Brian, iring - iringan Mobil tersebut memasuki Rumah yang sangat besar layaknya istana.
Sherli terpesona dengan rumah tersebut, Walaupun dia sudah melihatnya di foto dari situs Web, tapi melihatnya langsung ternyata lebih megah dari foto yang dia lihat.
' Ya ampun... Ternyata rumah orang terkaya di Indonesia sebagus ini ?, andai saja aku bisa tinggal dirumah ini ' gumam Sherli dalam hati.
Zan liang dan yang lainnya turun dari mobil, Pelayan langsung menghampiri " Nyonya, biar saya yang mendorong Tuan Muda " ucap Kasim, kepala pelayan Brian.
Sindi tersenyum " tidak perlu, Pak kasim siapkan minuman dan makanan ringan, ada tamu Tuan Muda "
Kasim menoleh kearah Sherli, dia langsung mengangguk " Baik Nyonya !" Kasim bergegas masuk kerumah.
Brian mengajak Sherli masuk kedalam Rumah, Sherli hanya mengangguk patuh dan mengikuti Brian.
Saat Sherli masuk kerumah tersebut, dia sangat takjub dengan dekorasi dan perabotan rumah yang menunjukan betapa tingginya status keluarga Axel.
Dia yang dibesarkan dengan segala sesuatu yang tidak kekurangan, tetap saja masih terpukau dengan kemegahan rumah Zan liang.
" Sherli, silahkan duduk, Zan liang harus kekamar istirahat dulu " ucap Sindi lembut.
" i..iya.. Nyonya Axel, silahkan.." jawab Sherli gugup kemudian dia duduk di sofa.
Karena anak - anak yang lain sedang bekerja dan sekolah, dirumah hanya ada istri - istri Brian dan Mindi yang masih belum berangkat sekolah akibat masih trauma.
Brian dan Mira yang menemani Sherli, Brian buka suara " kamu sudah kenal Zan lama Sherli ?"
" emm..anu... Saya baru kenal dekat Zan beberapa hari lalu Tuan Axel " jawab Sherli gugup.
__ADS_1
Brian mengangguk - anggukan kepalanya, dia menatap Sherli dari atas sampai bawah ' gadis yang cantik, sepertinya dia bukan dari kalangan bawah?, apakah Zan tahu latar belakang keluarganya atau gadis ini sedang menyembunyikan latar belakang keluarganya ? ' Brian bertanya - tanya dalam hatinya.