
Wildan membuka amplop tersebut, dia tercengang karena ternyata isinya 30 juta Rupiah.
Wildan mengeluarkan uang tersebut dan mengipas - ngipaskannya dihadapan anak buahnya " Malam ini kita Pesta !, untuk yang tidak ikut pesta datang padaku !, akan kusisihkan buat kalian !" ucap Wildan tegas.
Tentu saja anak buah Wildan bersorak gembira, karena merrka memang sering mendapatkan bonus jika mendapat perintah langsung dari Yugi, pasalnya Yugi adalah pemimpin pengawal pribadi Brian, dia juga yang mengatur seluruh preman atau mafia yang berada di bawah kendali Brian yang ada di Indonesia.
Bukan hal yang tabu jika Milyarder akan menggunakan para Mafia dan sejenisnya untuk melakukan pekerjaan kotor demi menjaga reputasi baik mereka.
Brian juga melakukan hal tersebut, tapi bedanya Brian menkordinir semua bawahannya dengan menunjuk Yugi sebagai pemimpin mereka, jadi jika ada sesuatu yang berurusan dengan bawahan, maka Yugi yang menghadapinya.
Dirumah sakit, Brian yang mendapat telepon dari Yugi, dia berpamitan pada Sindi dan Zan liang untuk pergi sebentar.
Sindi mengangguk mengerti, karena semenjak Brian sudah pulih dari lumpuhnya, dia kembali bekerja lagi seperti biasanya, Walau hanya dibalik Layar.
Martin yang menunggu di lorong Rumahsakit dengan beberapa anak buah Brian, diabangkit saat melihat Brian keluar dari ruangan tersebut.
" Tuan Axel !" Martin dan Anak buah Brian membungkuk hormat.
" Martin kita ke Markas menemui Yugi !, Kalian separuh jaga disini, separuh lagi ikut denganku !" perintah Brian tegas.
" Baik Tuan !" Ucap mereka serempak.
Brian berjalan didepan, di ikuti Martin dan anak buahnya.
Sementara itu, Zan liang sedang disuapi Bubur oleh Riska " Ayo Zan makan lagi "
" Sudah cukup Ris, aku sudah kenyang " ucap Zan liang lemah.
Riska menghela napas " Kamu ini kalau disuruh makan susahnya minta ampun !" ucap Riska meletakan mangkuk bubur di laci.
Sindi yang melihat kedekatan keduanya tersenyum, dia teringat saat masih berpacaran dengan Brian, dia juga melakukan hal yang sama seperti Riska.
__ADS_1
Sindi berasa Nostalgia melihat Zan liang dan Riska, kenangan manisnya dengan Brian, seakan muncul lagi dihadapannya.
Tanti dan Mira datang menjenguk, bersama anak - anak mereka, Rayan langsung bergegas menghampiri Zan liang.
" Kakak gokil sih, kamu bisa terluka parah tapi motornya baik - baik saja, aku tidak salah memberikan Motor itu untuk kakak, karena kamu dapat menjaganya dengan baik !" ucap Rayan seperti orang bodoh.
Sonta saja Mira marah, dia langsung memlintir kuping anaknya " kamu ini yah, kalau bicara disaring dulu kenapa !, udah gede masih kaya bocah terus !"
Axelin tertawa " hahaha... Jewer saja terus Bun, biar tahu rasa "
Aditya menimpali sambil menggelengkan kepalanya " Lain kali berpikir dulu kalau mau bicara makanya "
Tanti menegur kedua anaknya " Huss... Kalian juga sama saja !"
" Eh.. Maaf Bund " Axelin dan Adit tersenyum kecut.
Tanti kemudian menghampiri Zan liang " Kamu sudah baikan Zan ?, Habis ini kamu tidak boleh kemana - mana dulu !, kamu harus istirahat total dirumah !"
Mereka semua ngobrol - ngobrol sebentar, kemudian menentukan siapa yang berjaga lebih dahulu untuk menemani Zan liang, Karena Riska, Alicia dan Axelin tidak mungkin menemani Zan liang sampai pagi. Jadi Sindi, Mira, Rayan dan Aditya yang akan menemani Zan liang.
***
Sementara itu Brian dan Marti sudah sampai di Markas pengawal pribadinya, disana terlihat banyak orang bertubuh kekar yang berlalu lalang.
Saat Melihat Brian, semua orang membungkuk hormat, karena dasar pelatihan mereka, Wajib mengetahui wajah semua Keluarga Axel.
" Tuan Axel !" Yugi membungkuk hormat.
" Dimana dia Yugi ?" tanya Axel tanpa basa - basi.
Yugi langsung membawa Brian ketempat orang yang telah membuat Zan liang babak belur.
__ADS_1
Yugi, Brian dan Martin masuk ke ruang bawah tanah Markas, disana terlihat berjejer rapi ruang tahanan layaknya di penjara polisi. Bedanya ruangan di situ sangat tertutup dan lembab.
Sebenarnya ruangan tersebut digunakan untuk menghukum anak buah Brian yang tidak disiplin, mereka akan dikurung beberapa hari agar kembali disiplin, Jika ruangan tersebut kosong, berarti anak buah Brian tidak ada yang membuat kesalahan.
Satu penjara terlihat lampunya menyala, Brian menatap pria yang ada dalam penjara dengan tangan dan Kaki yang di ikat.
" Lama tidak bertemu Irwan !" ucap Brian ketus.
Irwan yang lemas karena habis dipukuli anak buah Wildan, dia mendongak menatap Brian yang ada diluar Penjara " Bajingan kamu Brian !, aku pasti akan membunuhmu !!" Irwan meraung - raung.
Brian menghela napas " Irwan !, mau sampai kapan kamu terus mengincarku !?, bukankah kamu sudah tahu jika Tanti sendiri yang memilihku ?!"
" Sampai kapanpun, aku tidak akan sudi mengakui itu, kalau bukan karenamu aku sudah memilikinya, ingatlah Brian !, aku akan menghancurkan keluarga kalian !" ucap Irwan sinis.
Wajah Brian menggelap, dia yang tadinya bersabar sangat marah karena jika Brian mendengar keluarganya dalam bahaya, Brian sangat mengutuk keras orang yang telah menyinggungnya.
" Yugi !, Berikan pistolmu !" Brian menengadahkan tangannya.
Tanpa ragu Yugi memberikan pistolnya " Dorrr !!! "
" Arggghhh !!" timah panas mengenai paha Irwan.
" Siksa dia sampai dia mengatakan lebih baik Mati dari pada hidup !" Ucap Brian tegas. Sambil mengembalikan pistol Yugi.
" Baik tuan !"
Brian pergi dari tempat tersebut, dia datang Menemui Irwan hanya ingin memastikan saja jika dia benar - benar Irwan atau bukan, karena dia tidak ingin salah menangkap orang. Dengan tertangkapnya Irwan, setidaknya musuhnya berkurang.
.
.
__ADS_1