
Ke esokan harinya Zan liang mengantar Mindi ke Salon, sebenarnya Zan liang malas , karena hal paling menjengkelkan bagi pria itu saat menunggu Wanita di Salon. Walaupun kata Wanita jika pria yang rela menungguinya ke Salon katanya pria yang sabar . Tapi yakinlah sebagian besar pria benci itu.
Zan liang duduk di kursi tunggu , dia berbalas pesan dengan Riska dengan hanphone lamanya .
Tiba - tiba Mindi mengagetkan " Kak... potong rambut dong , gak bagus loh Cowo rambut panjang " ucap Mindi jujur.
Zan liang mengerutkan keningnya " apa urusannya denganmu " Jawab Zan liang ketus.
Mindi menghela napas " Kakakku yang ganteng , banyakan Wanita itu suka pria yang rambutnya pendek , percaya deh sama Mindi , aku yakin kak Riska juga begitu "
Setelah mendengar nama Riska , Entah kenapa Zan liang jadi sedikit tertarik untuk potong rambut , pasalnya dia juga sedikit repot mengurus rambut panjang.
Zan liang terdiam cukup lama , dia sedang berpikir bagus mana ,rambut pendek atau rambut panjang , hingga akhirnya dia memilih memotong rambutnya.
Mindi sangat senang saat Zan liang memotong rambutnya , Karena dia yakin jika Zan liang pasti akan sangat tampan setelah memotong rambutnya.
Benar saja saat Zan liang sudah potong rambut , Mindi dan semua Wanita yang ada di Salon semuanya tercengang , melihat ketampanan Zan liang.
Zan liang benar - benar terlihat pangling , Mindi sja jika Zan liang bukan kakaknya mungkin dia akan jatuh Cinta padanya.
" Min... kamu kenapa hei !, sudah selesaikan kamu ?!" Zan liang menegur Mindi yang sedang tertegun di kursi tunggu.
" Eh.. iya kak, Ayo pulang !" Mindi merangkul lengan Zan liang.
Zan liang melihat tangan adiknya yang merangkul lengannya , dia hanya menggelengkan kepala . jika itu Wanita lain mungkin Zan liang akan melepaskannya , tapi karena Mindi adiknya jadi dia membiarkannya.
Zan liang dan Mindi keluar dari Salon , mereka berdua langsung bergegas pulang, awalnya Mindi minta jalan - jalan tapi Zan liang menolaknya , karena dia bermaksud untuk mengajak jalan Riska.
Di tengah perjalanan pulang , Zan liang melihat sebuah mobil Van yang mengikuti mereka ,semenjak dari Salon.
Zan liang mengerutkan keningnya , karena dia pikir mobil tersebut sangat mencurigakan " Mindi pegangan yang Erat !" ucap Zan liang keras.
Mindi bingung dengan perintah Zan liang yang tiba - tiba " Ada apa kak ?"
__ADS_1
" Cepat pegangan yang Erat !, dan hubungi Ayah ,bilang padanya ada yang mengikuti kita !" ucap Zan liang tidak mau mengambil resiko.
Mindi menoleh kebelakang dia melihat Mobil Van yang memang mengikutinya , Mindi ketakutan tapi dia bergegas mengikuti intruksi Kakaknya.
Mindi memeluk Erat Zan liang sambil menelpon Ayahnya , Zan liang langsung menarik gas dengan kencang.
Di Vila ponsel Brian berdering ,Brian tanpa ragu langsung mengangkatnya " ha...."
Brian baru mau menyapa Mindi , tapi Mimdi sudah memotongnya " Ayah Tolong , ada yang mengikuti kami !" Suara Mindi berbaur dengan gemrisik suara angin.
Brian berdiri dari duduknya " Apa !, Sayang kamu tenang yah , Bilang ke kakakmu untuk mengulur waktu sebisa mungkin !"
" Baik Ayah !" Mindi mematikan ponselnya, dia langsung berpegangan Erat pada Zan liang dengan kedua tangannya.
Brian langsung menyuruh pengawalnya untuk menjemput Zan liang dan Mindi , Wajah Brian juga terlihat panik.
" Sayang ada apa ?" Tanya Tanti yang kebetulan sedang bersama Brian.
" Ada yang mengikuti Zan liang dan Mindi !" Brian sangat Khawatir , pasalnya dia tidak memberi pengawalan pada kedua anaknya tersebut.
Brian meremas Ponselnya dengan sangat keras hingga layarnya retak " Kalau sampai anak - anakku tergores sedikit saja !, aku akan mencari kalian walau sampai ke ujung duni sekalipun !!" Wajah Brian menggelap.
Di jalan dalam Mobil Van , Lima orang dengan menggunakan penutup wajah sedang memperhatikan Motor Zan liang yang makin menambah kecepatan.
" Boss... Sepertinya mereka menyadari kita !" ucap Sopir pada orang disampingnya.
" Cepat kejar mereka !!"
" Baik Boss !!"
Kejar - kejaran anatara Motor dan Mobil tidak terelakan , Zan liang di untungkan dengan keadaan kota jakarta yang padat , dia juga senagaja mencari jalan yang ramai.
Walaupun beresiko menabrak seseorang , tapi itu lebih baik dari pada dia harus berhadapan dengan para penjahat di tempat sepi.
__ADS_1
" Tiiiiinnnnn !
" Tiiiinnnnn !
" Tiiinnnnn !
Zan liang tidak henti - hentinya memencet klakson, untuk memecah ramainya jalanan kota.
Mindi bergetar ketakutan , Zan liang buka Suara " Tutup Mata kamu Mindi !"
Mindi mengangguk Lirih , dia memejamkan matanya , Zan liang merasakan jika adiknya tersebut benar - benar ketakutan.
" Sial...!, Lincah sekali anak ini !!" Gerutu Bos pengejar Zan liang.
" Bos... kalau begini kita bisa kehilangan mereka , jalannya terlalu ramai !" Ucap sang sopir.
" Ambil jalan pintas !"
" Baik Bos !"
Mobil Van tersebut mengambil jalan pintas untuk mencegat Zan liang dan mindi.
Sementara itu Zan liang yang mengira jika mobil Van sudah jauh ,dia memperlambat motornya " Min.. buka mata kamu , mereka sudah tidak mengejar kita lagi "
Mindi membuka matanya , dia langsung menoleh kebelakang , saat dia sudah tidak melihat Mobil Van lagi , Mindi menghela napas lega.
" Kak , tadi itu siapa ?" suara Mindi masih bergetar.
Zan liang menepuk - nepuk tangan mindi dengan tangan kirinya " Kamu tenang yah , kakak juga tidak tahu mereka siapa ?" jawab Zan liang tidak berdaya.
Mindi menyenderkan kepalanya di punggung Zan liang dan mengangguk lirih , Emosi Zan liang membuncah , pasalnya dia teringat dengan kematian ibunya.
Pada waktu itu dia tidak bersama ibunya ,jadi Zan liang tidak busa berbuat apa - apa , tapi kali ini dia bersama adiknya , jadi Zan liang akan melakukan apapun untuk melindunginya.
__ADS_1
.
.