
Beberapa hari berlalu, Zan liang sudah bisa berjalan sendiri walau masih menggunakan tongkat, dia jalan - jalan di halaman untuk melepas penatnya.
Karena dia selalu berada di kamar, jadi Zan liang merasa jenuh, dia ingin pergi menemui Riska, tapi Ayah dan Semua ibunya melarang dia untuk bepergian dulu. Jadi Zan liang hanya bisa diam dirumah saja.
" Kamu kemana sih Ris !, kenapa beberapa hari ini tidak kemari !, Nomor kamu juga tidak aktif " Zan liang menghela napas panjang.
" Hayo loh, mikirin apa ?" tegur Alicia yang tiba - tiba ada dibelakang Zan liang.
Zan liang terlonjak kaget " Alicia !, apa - apaan kamu sih !, bikin kaget saja "
Alicia menjulurkan lidahnya " hehehe... habisnya kakak terlihat serius amat, Mikirin Riska yah ?" tanya Alicia sambil duduk di samping Zan liang.
Zan liang tidak menjawab, dia hamya menghela napas panjang, Mau cerita malu, tidak cerita cuma Alicia yang dekat dengan Riska di antara yang lainnya.
Alicia tersenyum " tidak usah malu - malu seperti itu kak, aku tahu kok dari Ekspresi kakak "
Zan liang menghela napas lagi " Kamu ini... "
Zan liang menatap langit dan berbicara lagi " Riska berangkat ke kampus Lice ?" tanya Zan liang lemah.
" Berangkat " jawab Alicia singkat.
" Dia tidak menanyakan aku ?" tanya Zan liang lagi.
" Tidak "
Saat mendengar jawaban tidak dari Alicia, Zan liang langsung menegapkan tubuhnya, dia langsung menatap Alicia.
Alicia tersenyum, dia kemudian berkata lagi " Kayaknya dia sudah lupa deh sama kakak, kemarin saja dia jalan dengan seorang pria " Alicia sengaja menggoda Zan liang.
' Deg !' Jantung Zan liang terasa tertusuk duri, dia merasakan sakit yang tidak bisa dirasakan orang lain.
" Oh... gitu yah, baguslah kalau dia sudah bahagia dengan orang lain " jawab Zan liang lemah, nada suaranya tersirat sebuah kekecewaan.
" Kakak cemburu ?" tanya Alicia lagi.
__ADS_1
Zan liang menatap Alicia sambil memaksakan sebuah senyum " Untuk apa cemburu, jika dia memang punya yang lain, ya sudah... "
Alicia tersenyum geli, dia tahu jika Zan liang merasa tertekan " maaf yah kak, aku terpaksa berbohong " gumam Alicia dalam hati.
Zan liang berdiri, dia meninggalkan Alicia yang masih duduk di tempat tersebut.
" Kakak mau kemana ?" tanya Alicia lembut.
" Masuk kerumah !" Nada suara Zan liang terdengar sendu.
Alicia tidak tega melihat Zan liang yang seperti itu, tapi karena perintah Riska, dia terpaksa melakukan hal tersebut.
Zan liang berjalan masuk ke rumah dengan wajah di tekuk, dia seakan habis kehilangan uang milyaran rupiah.
Sindi yang berpapasan dengan Zan liang bertanya " Dari mana Zan ?"
Zan liang tidak menjawabnya, dia naik kekamarnya dan langsung mengunci kamar.
Air mata Zan liang menetes tiba - tiba, padahal dia susah payah menahannya, tapi entah kenapa air mata tersebut tidak bisa terbendung lagi.
Tapi Air mata tersebut terus keluar dari pelupuk matanya, Zan liang belum pernah sesedih itu, kecuali saat dia kehilangan ibunya.
Mungkin bagi sebagian orang dia pria yang cengeng, tapi nyatanya Zan liang tidak seperti itu, dia tipikal Pria yang memprioritaskan Wanitanya.
Jadi saat dia merasa akan kehilangan orang yang dia sayang, maka naluri alamiah seorang manusia yang sebenarnya rapuh muncul.
Entah sampai berapa lama dia menangis di kamar, Zan liang mengurung dirinya hingga malam hari, sampai makan malampun dia tidak keluar dari kamar.
" Ayah, Zan liang kenapa, dia Ibu panggil - panggil tapi tidak menyaut " Sindi terlihat cemas.
Brian mengerutkan keningnya " Bukankah tadi pagi juga baik - baik saja ?" tanya Brian pada Sindi.
Krisna menimpali " Biar aku coba panggil, Ayah , Ibu !"
Saat Krisna baru bangun dari duduknya, Alicia buka suara " Lebih baik jangan kak, biarkan kakak Zan sendiri dulu " ucap Alicia lembut.
__ADS_1
Krisna mengerutkan keningnya " Maksud kamu apa Alicia ?"
Alicia tersenyum " duduk dulu, nanti aku jelaskan "
Semua orang saling menatap, Krisna kemudian duduk dengan patuh.
Alicia langsung menjelaskan apa yang terjadi pada Zan liang, dia menceritakan semuanya tentang rencana Riska untuk Zan liang.
" Astaga... bukankah kalian terlalu kejam ?, aku yakin Kakak lagi Nangis di kamar !" Celetuk Rayan.
" Pletak !" Mira menjitak anaknya.
" Kamu ini kalau bicara asal ceplos saja !" Mira memarahi anaknya.
" Maaf Bu " Ucap Rayan sambil memegang kepalanya.
Brian menghela napas " Alicia, benar kata Rayan, kalian terlalu berlebihan menurut Ayah "
" Ayah tenang saja, Kakak Zan itu orang yang kuat, mana mungkin dia sampai depresi gara - gara masalh seerti inikan ?" tanya Alicia.
Tanti menjawab " Alicia, Ayahmu saja pernah depresi gara - gara wanita, semua pria sama saja, jika dia mencintai wanita terus di tinggalkan, mereka akan depresi, iyakan Ayah ?" Tanti menyeringai.
Sindi memelototi Tanti, pasalnya dia tahu jika arah pembicaraan Tanti tertuju padanya, Sindi yang biasanya bijaksana, kali ini dia sedikit terusik.
Sindi menjawab " Tapi ayah kalian beruntung, saat dia depresi ada wanita yang setiap hari menemaninya, Wanita itu terus memberikan perhatian dengan alasan kasihan, padahal dia dulu merendahkannya " ucap Sindi sinis.
Tanti menimpali " Tapi setidaknya wanita tersebut tidak meninggalkannya begitu saja, dia selalu memberikan semangat pada Ayah kalian !"
Viona, Mira dan anak - anak saling menatap, karena mereka tidak tahu arah pembicaraan keduanya, mereka menatap Brian secara bersama.
Brian menghela napas " Sudah, sudah, kenapa malah mengungkit masalalu, Ayo lanjutkan makannya !" ucap Brian menghentikan perdebatan tersebut.
.
.
__ADS_1
.