
" Zan aku ! "
" Zahra aku ! "
Zan liang dan Zahra sama - sama ingin bertanya, hingga ucapan mereka bertabrakan.
" Kamu dulu Zahra " Ucap Zan liang sambil tersenyum.
Zahra tersenyum kecut " Zan, apa tadi ucapan adik kamu benar ?, jika kamu sudah memiliki seorang pacar ?" tanya Zahra tanpa basa - basi.
Zan liang sudah menduga jika Zahra akan menanyakan hal tersebut, dia sangat geram dengan tindakan Rayan yang terlalu sembrono.
Zan liang menghela napas " Bisa dikatakan iya, bisa juga dikatakan tidak " jawab Zan liang ambigu.
" Maksud kamu ?" tanya Zahra menyelidik.
" Hubungan kami akhir - akhir ini sedang tidak baik - baik saja, kami juga sedang menjaga jarak satu sama lain, jadi entah aku masih ada di hatinya atau tidak " Zan liang menggendikan bahunya.
Ada sedikit perasaan Senang yang masuk dalam hati Zahra, tapi masih ada juga sedikit ke kecewaan, karena Zahra takut jika Zan liang hanya bermain - main dengannya saja.
Zahra takut jika Zan liang seperti pria kaya pada umumnya, karena biasanya anak orang kaya selalu mempermainkan Wanita, apa lagi Zan liang anak seorang Axel Brian yang kekayaannya tidak akan habis sampai tujuh generasi sekalipun.
Zahra terdiam dengan pikirannya yang sedang dilema, dia ingin mundur atau malah menerjang pembatas yang ada di depannya.
Zan liang menegur Zahra " Apa kamu sudah tidak bisa berteman denganku setelah tahu tentang hal ini ?"
" Eh... Bu..kan Seperti itu Zan, aku hanya takut mengganggu hubungan kalian saja " Ucap Zahra jujur.
Zan liang tersenyum " Bagaimana kalau aku kenalkan kamu dengan dia ?" usul Zan liang.
Zan liang ingin melihat bagaimana reaksi Riska ketika melihat Zahra, apakah dia masih bisa berdekatan dengan Mike atau tidak.
Zahra mengangguk " Boleh " Zahra juga ingin melihat Wanita seperti apa yang menjadi pacar Zan liang.
Zan liang tersenyum, dia yang beberapa hari ini tidak mengirim pada Riska, dia mengirimkan sebuah pesan untuk minta ketemuan di kafe dekat Universitas besok.
Sementara itu Riska sedang kesal dengan Zan liang di kamarnya, Mike mengajaknya jalan tapi Riska menolaknya karena Mood dia sedang buruk.
" Zan !, apakah kamu benar - benar mau meninggalkanku ?" gumam Riska sedih, dia masih terngiang - ngiang saat melihat Zan liang berboncengan dengan Wanita lain.
Tiba - tiba sebuah pesan masuk, Riska langsung membukanya " Zan liang !" Riska berteriak senang.
__ADS_1
Riska memeluk Ponselnya, karena akhirnya Zan liang mau bicara dengannya lagi, dia yang tadinya kesal entah kenapa merasa senang.
Riska langsung membalas pesan Zan liang, dia bilang pada Zan liang jika dia setuju untuk bertemu dengannya.
Di rumah Sherli, dia terlihat seperti mayat hidup, wajahnya pucat pasi karena dia tidak makam seharian, matanya juga terlihat bengkak karena menangis seharian.
padahal dia sudah menggunakan segala cara mendekati Zan liang, tapi hasilnya nihil, Zan liang tidak tertarik sama sekali dengannya.
Sherli berpikir lebih baik dia mati daripada dia tidak bisa mendapatkan cinta zan liang, dia mengurung diri di kamarnya seharian, pandangannya matanya kosong seperti orang yang sudah tidak memiliki semangat hidup saja.
Sebenarnya bukan salah Zan liang jika Sherli seprti itu, pasalnya Zan liang sudah berterus terang pada Sherli jika dia hanya bisa menjadikannya teman tidak lebih.
Tapi Sherli menganggap hal tersebut sebuah kegagalan, padahal awal datangnya Cinta kebanyakan dari teman terlebih dahulu.
Jika Sherli mau bersabar dan membuat Zan liang nyaman mungkin pandangan Zan liang padanya akan sedikit berubah.
Tapi itulah Cinta, bisa membuat luka tanpa menggoresnya.
Bisa membuat berbunga tanpa harus menyiraminya.
Istilah Cinta itu buta sebenarnya ada karena sebuah kebodohan seseorang, jika orang tersebut pintar tidak akan istilah Cinta itu buta.
****
Di kediaman Axel...
Rayan masuk ke rumah masih dengan memegangi kepalanya yang benjol, dia mendengus kesal dengan Zan liang.
Sindi yang melihat mulut Rayan berkomat - kamit begumam tidak jelas, dia menegurnya " Kamu kenapa Rayan ?" tanya Sindi penasaran.
" Huufttt, Kakak Zan Bu, mada dua menjitak Rayan sampai seperti ini " Rayan memperlihatkan benjolan di kepalanya.
Sindi mengerutkan keningnya " Lah kok bisa ?, kamu pasti menjaili kakakmu kan ?" Sindi menebak apa yang terjadi.
Rayan menghela napas " Habisnya masa kakak Zan bersama Wanita Lain, kasihan Riska bu " Rayan memasang wajah sedi sambil memonyongkan bibirnya.
" Apa maksudmu Rayan ?" Sindi tidak percaya begitu saja dengan ucapan Rayan, pasalnya dia yakin jika Zan liang bukan orang yang seperti itu.
" Kalau ibu tidak percaya, lihat saja sendiri di taman !" Rayan langsung pergi meninggalkan Sindi, karena dia tahu jika Sindi tidak percaya dengan ucapannya.
Sebenarnya istri - istri Brian tidak tahu jika Husen dan Zahra datang, mereka soalnya dari tadi sedang sibuk dengan urusan masing - masing.
__ADS_1
Sindi yang sedang berada di teras rumah, dia langsung bergehas ke taman untuk memastikan ucapan Rayan.
Beelum sampai dia ke taman, dia di kejutkan dengan Zan liang yang sedang berjalan dengan seorang Wanita Cantik.
Sindi sedikit terkejut, dia tidak percaya jika Zan liang benar - benar menggandeng Wanita lain.
Tapi semakin dekat Zan liang dan Zahra ke arah Sindi, Sindi sedikit familiar dengan wajah Zahra, dia sepertinya pernah melihat Zahra tapi entah dimana ?.
" Zan siapa dia ?" tanya Sindi ketus, saat Zan liang sudah di hadapannya.
Zan liang mengerutkan keningnya " Loh ibu tidak mengenalnya ?" Zan liang malah balik bertanya.
Sindi menghela napas " Zan, apa kamu mau seperti Ayah kamu ?, apa yakin kamu sanggup ?"
Zan liang bingung mau menjawab apa " Sepertinya ibu salah paham, lebih baik kita masuk dulu biar Ayah yang nanti menjelaskan "
Sindi yang selalu punya pikiran positif dia mengangguk, mereka bertiga memsuki rumah bersama.
Setelah sampai di ryang tamu Sindi terkejut " Tuan Husen !" Sindi langsung bergegas memberi salam.
Zahra langsung duduk di samping Kakeknya, Sindi langsung tahu jika Zahra adalah anak Aisyah pasalnya wajah mereka sama.
" Kenapa Ayah tidak bilang jika Tuan Husen kemari ?" tanya Sindi menyelidik.
" Kalian juga kan lagi sibuk, aku tidak mau mengganggu kalian, oh iya Bu, Tuan Husen dan Zahra akan tinggal disini selama satu minggu " ucap Brian lembut.
" Oh... jadi namanya Zahra, semoga betah disini yah nak " ucap Sindi lembut.
Zahra tersenyum manis " terimakasih Tante "
Husen dan Zahra tinggal di Rumah Brian, pasalnya Brian tidak enak jika menyuruh Husen tinggal di hotel, dia juga ingin memberikan kesan yang baik pada Husen.
Lagi pula rumah Brian sangat besar dan memiliki banyak kamar yang kosong walau keluarga besar mereka tinggal bersama.
Zan liang sangat senang ketika mendengar Zahra akan tinggal dirumah tersebut, Sindi mengerutkan keningnya melihat wajah bodoh Zan liang.
.
.
.
__ADS_1