
Martin sedang makan siang bersama Zan liang di Kantin perusahaan, walaupun Zan liang seorang anak Milyarder tapi dia tidak gengsi untuk makan bersama sebagian besar Karyawannya.
" Paman Martin, apakah ada solusi untuk membuat sejahtera para kuli di kota ini ?" tany Zan liang tiba - tiba.
Martin menghela napas " sepertinya susah tuan Muda, Ayah anda saja sudah mencoba melakukan hal tersebut dulu, tapi hasilnya masih banyak kuli yang tidak bisa masuk dalam jangkauan proyek tersebut. Memang sebagian mereka sudah sejahtera karena bisa masuk dalam proyek tersebut, tapi sebagian lagi masih seperti yang anda lihat ketika perjalanan kesini " Martin tahu jika Zan Liang bertanya seperti itu ketika dia melihat para Kuli di pinggir jalan, dia merasa iba.
" Paman benar, mungkin hal itu akan sangat susah untuk tercapai, Ayah saja yang notabenya orang paling cerdas di masanya hanya bisa mensejahterakan Kuli sebagian saja, apakah aku bisa menutupi kekurangan Ayah ?" ucap Zan liang getir.
Martin tersenyum " sebenarnya ada satu cara yang belum di coba Ayah anda Tuan muda "
Zan liang yang sedang menyendok makanan ke mulutnya, dia menatap Martin dengan penasaran, dia langsung menelan makanannya dan bertanya " Apa itu paman ?"
" Tuan Muda tentu tahu jika Perusahaan kita disini hanya melakukan Ekspor hasil pertanian saja, kita belum memiliki sebuah perusahaan yang mengelola hasil pertanian, jika kita bisa membuat hal tersebut, kemungkinan untuk menambah karyawan baru akan sangat besar, tapi ya itu, kita harus mempromosikan produk kita dulu, dan prosesnya akan lama mungkin ?" Martin menggendikan bahunya.
" Paman memang terbaik !, kita ambil cara itu, tolong suruh orang paman Survei ke perusahaan lain, tanya pada mereka. Produk apa yang paling diminati oleh masyarakat menengah kebawah dengan bahan hasil pertanian kita. untuk urusan Promosi biar aku yang nanti memikirkannya " ucap Zan liang percaya diri.
Awalnya Martin ragu, tapi melihat keseriusan Zan liang, dia akhirnya setuju, karena menurutnya hal tersebut bagus untuk pertumbuhan Zan liang.
Mereka berdua melanjutkan makan siangnya, sebelum kembali ke kantor.
Orang - orang di kantin sebenarnya dari tadi memperhatikan Zan liang, pasalnya dengan status Zan liang yang sekarang dia masih mau berkumpul dengan mereka.
Kebanyakan dari mereka kagum dengan prinsip Zan liang yang tidak memandang rendah orang yang statusnya di bawah dia.
__ADS_1
Orang yang tidak suka, hanya orang yang iri karena Zan liang terlahir dari seorang Milyarder, tapi tetap saja walaupun mereka tidak suka tapi masih menghormati Zan liang.
Zan liang dan Martin kembali ke kantor setelah selesai makan siang.
Sesampainya di kantor, Martin menghubungi anak buahnya yang tersebur diseluruh penjuru indonesia untuk melakukan survei tersebut.
Karena Martin pernah memegang Axel Capital Pusat, dan dia yang merintisnya bersama Brian, Otomatis anak buah Brian bukan hanya menuruti ucapan Brian, tapi dia juga menuruti ucapan Martin juga.
David juga tidak luput mendapatkan Perintah tersebut.
David sedang duduk santai di ruangannya, karena dia baru istirahat makan siang, Mei terumi yang terbiasa menemaninya ketika makan siang dia bertanya saat melihat wajah lesu Suaminya " Kamu kenapa sayang ?"
David menghela napas " Aku tidak apa - apa, hanya saja keponakanmu itu sedang membuat gebrakan, dia itu mirip dengan Tuan Axel, langsung berani memgambil resiko yang besar, padahal dia belum tahu hasil pastinya "
" Loh bukankah itu bagus ?, dengan begitu kakak di alam sana pasti akan senang karena Zan sekarang sudah tumbuh menjadi pria dewasa " ucap Mei terumi senang.
" Benarkah ?, Aku ikut dong, sekalian bawa anak - anak yah sayang ?" Ucap Mei Terumi bersemangat.
David menganggukkan kepalanya, tentu saja dia setuju, karena dia juga ingin sekalian Cuti, untuk melepas penat.
...***...
Sementara itu Zan liang terlihat mau pulang dari kantor bersama Martin, karena jam kerja sudah berakhir setengah jam yang lalu. Kantor juga sudah terlihat sepi, hanya ada beberapa karyawan yang belum pulang dan penjaga keaman yang akan bertugas di malam hari.
__ADS_1
Mobil yang dinaiki Zan liang dan Martin meninggalkan tempat tersebut, mereka langsung pulang ke kediaman Axel yang ada di Brebes.
Kedua istri Zan liang sudah menunggu di teras, bersama dengan Anita istri Martin.
Riska dan Zahra terlihat begitu antusias menyambut Zan liang, Anita dan Martin yang melihat itu hanya tersenyum.
Karena mereka juga dulu seperti itu, apa lagi Zan liang masih pengantin baru, jadi wajar jika kedua istrinya sangat bersemangat untuk menyambutnya pulang.
" Selamat datang sayang " ucap Riska dan Zahra bersamaan sambil merangkul tangan Zan lian dari kanan dan kiri.
Zan liang tersenyum " Kalian ini, lihat ada paman Martin dan Bibi Anita, tidak enak dengan mereka "
Anita buka suara " Sudah, abaikan kami saja, pengantin baru memang harus seperti itu " goda Anita.
Riska dan Zahra tersipu, Zan liang menjawab " Bibi Anita bisa saja, ya sudah...paman, Bibi, kami masuk dulu "
Martin mengangguk dan tersenyum, begitu juga Anita melakukan hal yang sama dengan suaminya.
Zan liang bersama kedua istrinya masuk kedalam Rumah, Riska dan Zahra terlihat sangat perhatian, mereka juga sudah menyiapkan air hangat untuk berendam Zan liang agar lelahnya hilang.
Zan liang tersenyum senang mendapat perhatian seperti itu dari kedua istrinya, dia langsung berendam di air hangat yang disiapkan kedua istrinya " Ah... kalau tahu menikah akan se'enak ini, kenapa aku harus menunggu lama ?" gumam Zan liang sambil membaringkan tubuhnya di bak mandi.
.
__ADS_1
.
.