
Brian dan Husen membahas rencana bisnis, Krisna mendengarkan dengan seksama.
Sementara Zan liang sedang memandangi Wajah Zahra, dia seakan tidak mau berpaling dari Zahra.
Brian sebenarnya sedikit tidak enak dengan tatapan Zan liang yang seolah ingin menelan Zahra bulat - bulat.
Brian menghela napas " Zan, kamu ajak Zahra berkeliling rumah " ucap Brian lembut, pasalnya dia tidak ingin Zan liang mengganggu Fokusnya.
" Baiklah Ayah !" Zan liang terlihat bersemangat, dia langsung menarik tangan Zahra.
Anehnya Zahra tidak keberatan dengan perlakuan Zan liang, dia malah mengikuti Zan liang dengan patuh.
Brian dan Krisna saling menatap, Krisna yang melihat Ayahnya seperti itu hanya tersenyum kecut saja.
Husen kemudian menegur Brian " Tidak usah memikirkan mereka Brian, bukankah kamu dulu seperti itu ?"
Brian menghela napas " Tuan Husen, aku tidak ingin Zan liang sepertiku " ucap Brian tidak berdaya.
" Loh, apa salahnya seperti kamu ?, Semua orang di dunia tahu kamu, bukankah bagus jika dia seperti kamu ?" ucap Husen sembari tersenyum.
Brian tidak tahu harus tertawa atau menangis, pasalnya memang ucapan Husen ada benarnya, tapi yang dia maksud bukan seperti itu.
" Brian sebenarnya kedatanganku kemari bukan hanya ingin mmebicarakan bisnis, aku sudah bicara dengan Aisyah dan suaminya, mereka ingin salah satu anak kamu menikah dengan Zahra !" Ucap Husen serius.
" Apaaaa !!!, Tuan Husen anda jangan bercanda ?" ucap Brian kaget.
Krisna juga ikut kaget, tapi entah kenapa dia sedikit menyesal, pasalnya anak Brian yang pria cuma dia yang sudah menikah, jadi dia tidak memiliki harapan lagi.
Krisna berpikir seperti itu karena Zahra memang sangat cantik, mustahil pria manapun akan menolaknya.
Jika Melisa mendengar keluhan hati Krisna dalam hatinya, mungkin akan terjadi perang besar di antara mereka.
Husen menghela napas " Sebenarnya jauh sebelum Aisyah menikah, dia memberikan syarat pada suaminya, jika dia nanti mempunyai anak baik Wanita ataupun Pria, dia harus menjodohkan anaknya dengan anak kamu, Aku juga setuju dengan usulan tersebut "
Husen diam sebentar kemudian melanjutkan " Kamu tahu sendiri Aisyah mencintai kamu seperti apa, tapi dia berusaha menekannya, karena dia tahu tidak bisa memaksakan perasaan kamu, Kali ini aku juga memohon padamu Brian, tolong terima Zahra " Ucap Husen sembari menundukan kepalanya.
" Tuan Husen, anda tidak perlu seperti ini " jawab Brian cemas.
__ADS_1
Bukannya Brian tidak mau menjodohkan anak mereka, tapi dia sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusan pribadi anak - anaknya, dia juga tidak mau memaksakan kehendaknya.
Brian telihat dalam dilema, jika dia menolak usulan Husen maka dia akan menyakiti Aisyah untuk kedua kalinya.
Akhirnya Brian menyetujuinya " Tuan Husen, aku setuju saja tapi aku juga harus bertanya dengan Istri dan anak - anakku, aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri " ucap Brian lembut.
Husen mengangguk mengerti " Aku tahu itu Brian, kamu atur bagaimana baiknya saja "
Setelah ebahas hal tersebut, mereka kembali membahas masalah bisnis yang sedang mereka kembangkan.
Sementara itu Zan liang terlihat sedang duduk bersama di taman bersama Zahra.
Zan liang terlihat sangat senang, dia yang dari kemarin menekuk wajahnya, sekarang dia seperti orang bodoh yang di beri uang segepok.
" Apa kamu disini akan lama Zahra ?" Zan liang membuka pembicaraan.
Zahra menggeleng " Kata Kakek, kita disini cuma satu minggu "
" Cepat banget " Ucap Zan liang reflek.
Zahra menghela napas " aku juga harus menyelesaikan studiku dulu, ini saja aku di paksa Kakek untuk ikut, entah untuk apa dia mengajakku, padahal aku tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan kakek "
" Eh.... bertemu aku ?" Zan liang menunjuk dirinya sendiri.
Zahra mengangguk " Ya, aku sangat senang bisa bertemu denganmu, entah karena apa ?, yang pasti aku merasa senang saja "
Zan liang juga merasakan hal yang sama, dia juga sangat senang bertemu dengan Zahra.
Entah karena apa, yang pasti dia merasa nyaman, jika di bilang karena kecantikannya mungkin iya, tapi ada sesuatu yang lain sehingga membuat Zan liang begitu senang.
Mereka sebenaranya memiliki pemikiran yang sama, tapi mereka tidak tahu apa itu, karena perasaan tidak bisa di ungkapkan hanya dengan sebuah kata saja. Keduanya terhanyut dalam pemikiran masing - masing.
Zan liang Membatin " Kenapa aku jadi seperti ini ?, apakah semudah itu aku menyukai orang lain ?, apakah yang aku rasakan ini benar ?"
Zahra membatin " Sebenarnya apa yang aku rasakan ini?, kenapa aku begitu nyaman saat bersamanya ?, apakah ini yang dinamakn cinta seperti yang umi bilang ?"
Keduanya mempertanyakan hati mereka pada diri sendiri, Zan liang yang masih tidak percaya jika perasaan itu Cinta, Zahra yang baru pertama kali merasakan hal tersebut.
__ADS_1
Mereka berdua saling menatap, darah mereka berdua berdesir, jantung mereka berdegup dengan kencang seperti Genderang yang di tabuh dengan sangat cepat.
Rasa itu memang ada dan Mulai tumbuh bagi keduanya, tapi keduanya belum berani menyatakannya, apa lagi Zan liang yang masih memiliki tempat spesial untuk Riska di hatinya.
" Astaga kakak !, apa kamu sedang berselingkuh !" Tiba - tiba Rayan datang dan berbicara seperti tidak punya dosa.
Sontak saja keduanya menoleh ke Arah Rayan.
Zahra mengerutkan keningnya, dia bertanya - tanya siapa pria yang tiba - tiba menegur mereka.
Sementara Wajah Zan liang menggelap, karena momen indahnya di ganggu Oleh adik tengilnya tersebut.
Rayan terkejut saat melihat wajah Zahra, dia seakan tidak punya salah sama sekali dan berkata " Cantik, jangan mau sama kakak Zan, dia sudah punya pacar !, mendinga sama aku saja " Rayan menaik turunkan alisnya.
" Pletakkk !"
" Aduh !" Zan liang menjitak Rayan dengan sangat keras.
Rayan memegangi kepalanya yang di jitak Zan liang hingga Benjol " Sakit kak " ucap Rayan sendu.
" Sakit - sakit, mau yang lebih sakit lagi !" Zan liang mengepalkan tangannya.
" Ampun kak !" Rayan Lari terbirit - birit, seperti maling dikejar warga sekampung saja.
Zan liang menghela napas " Maaf Zahra, kamu harus melihat kejadian seperti ini "
Zahra tersenyum kecut " Tidak apa - apa, dia memangnya siapa ?" tanya Zahra penasaran.
" Adik ke empat aku, dia memang seperti itu " ucap Zan liang tidak berdaya.
Zahra mengangguk mengerti, karena dia juga tahu jika Axel Brian memiliki Lima istri jadi tidak heran jika Zan liang memiliki banyak adik.
Mereka berdua kembali duduk dengan canggung, karena setelah mendengar ucapan Rayan, Zahra sedikit khawatir jika Zan liang tidak akan bisa bersamanya, karena dia sudah memiliki seorang pacar.
.
.
__ADS_1
.