
Riska menangis sepanjang jalan, entah kenapa dia merasa kehilangan saat Zan liang benar - benar akan menikah dengan Zahra.
" Kenapa aku begitu bodoh !, apakah ini benar - benar yang aku mau ?!" gumam Riska didalam Mobil.
Riska begitu terpukul dengan kenyataan yang sedang dia hadapi, dia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Pikirannya sekarang benar - benar kacau, ketika samlai Rumah, dia langsung berlari ke kamarnya walau kedua orang tuanya memanggil - manggilnya.
Kedua Orang tua Riska tidak tahu jika hubungan Riska dan Zan liang sudah berakhir, mereka berpikir jika Riska masih dengan Zan liang.
Tapi melihat akhir - akhir ini Riska sangat pendiam, mereka mulai berpikir jika Riska sedang ada masalah.
Untuk itu mereka berniat bertanya pada Riska secara langsung, tapi Riska selalu menghindar dari mereka.
***
Sementara itu sesuai janji Zahra tidak masuk ke kamarnya, dia langsung ke kamar Zan liang.
Zan liang mengerutkan keningnya " kenapa kamu ikut denganku ?"
" Loh, bukannya di Mobil tadi aku sudah bilang " jawab Zahra santai.
Zan liang menggelengkan kepalanya " Masuklah !" Zan liang menyerah.
Zahra yang ada di depan pintu langsung masuk, saat Zan liang sudah menutup pintu, Zahra langsung memelukanya dengan genit.
Zahra tersenyum " lakukan apapun yang kamu inginkan Zan, aku rela jika harus menyerahkan kesucianku untukmu " Ucap Zahra lembut.
Zan liang menghela napas, dia mengusap rambut Zahra " Aku tahu kamu melakukan ini karena terpaksa Zahra, aku tidak bisa melukaimu, seyelah kita menikah, maukah kamu pergi denganku dari sini dan membuka Kehidupan baru denganku ?"
Zahra mendongak menatap Zan liang, dia tersenyum " Asal kamu mau berubah aku tidak keberatan " jawab Zahra mantap.
" Walaupun nanti kita hidup susah ?" tanya Zan liang serius.
Zahra mengangguk " Aku sudah sangat yakin jika kamu yang terbaik untukku Zan, aku tidak ingin berpisah dengan kamu "
Zan liang menatap Zahra dengan seksama, pandangan mereka saling bertabrakan.
Zan liang merasa jika tatapan Zahra berbeda dengan Riska, dia terlihat benar - benar menyukainya.
Zan liang mendekatkan wajahnya pada wajah Zahra, Zahra memejamkan matanya, dia sudah menerima apapun yang akan dilakukan Zan liang padanya.
" Tok
__ADS_1
" Tok
" Tok
Tiba - tiba suara pintu kamar diketuk seseorang, sontak saja Zan liang yang hanya tinggal beberapa Senti lagi memagut bibir Zahra dia langsung berhenti.
" Zan, buka pintunya !" Brian terlihat berteriak dari luar.
Zan liang menghela napas, dia melepaskan pelukannya dan memencet hidung Zahra " kita lanjutkan nanti " ucap Zan liang lembut.
Zahra tersenyum kecut, sembari menganggukan kepalanya.
Zan liang membuka pintu kamarnya, terlihat Brian dan seseorang yang mirip Zahra berada dihadapannya.
" Ada apa Ayah ?" tanya Zan liang datar.
" Ibu !!!" Zahra terkejut dengan kedatangan ibunya, dia menghambur kepelukan ibunya.
" Dasar kamu anak nakal !, berani sekali kamu masuk kamar pria !" Aisyah mencubit pipi Ibunya.
" Ibu ?" Zan liang membeo terkejut.
" Beri salam pada calon mertua kamu Zan !" Brian memelototi Zan liang.
Zan liang tersenyum " Tante, saya Zan liang calon suaminya Zahra " Zan liang memperkenalkan dirinya dengan sopan.
Zan liang menggelengkan kepalanya " Seharusnya aku yang berterimakasih dengan tante, karena memperbolehkan aku dekat dengan Zahra "
Brian menyipitkan matanya, dia sedikit terkejut karena ternyata Zan liang tidak mempermalukannya, malahan Zan liang terlihat sangat bertanggung jawab karena terang - terangan mengakui kalau dia calon suami Zahra.
" Aisyah, kamu baru datang lebih baik istirahat dulu, aku ingin mengobrol berdua dengan Zan liang "ucap Brian lembut.
Aisyah mengangguk " Ya sudah, kami pergi dulu, Ayo Zah "
Zahra mengangguk, dia berpamitan dengan Brian dan Zan liang, kemudian pergi mengantar ibunya untuk istirahat.
Sementara Brian memasuki kamar Zan liang, dia menyapu pandangannya keranjang Brian, terlihat ranjang tersebut masih rapi.
Brian duduk di sofa, di ikuti Zan liang yang duduk di seberangnya.
" Zan kamu...?"
Brian belum selesai bicara Zan liang memotongnya " Aku belum melakukan apapun dengan Zahra, karena kalian keburu datang "
__ADS_1
Brian mengerutkan keningnya " jadi kamu tadi ..."
Zan liang memotong kembali ucapan Brian " Apakah Ayah tidak bisa berpikiran positif denganku ?, atau aku memang terlihat seperti itu dimata Ayah ?"
" Zan, Ayah hanya ingin yang terbaik buat kamu, Ayah tidak punya maksud lain " Brian mencoba untuk menjelaskan.
Zan liang menghela napas " Apakah Ayah sadar jika tindakan Ayah yang membuatku seperti ini ?, Ayah tidak pernah bisa membebaskanku seperti anak Ayah yang lainnya, apakah aku seburuk itu dimata Ayah ?"
Brian bingung mau menjawab apa, dia merasa jika selalu kalah ketika berdebat dengan Zan liang, padahal niatnya baik, tapi di mata Zan liang tidak seperti itu. Brian bingung mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
Sebenarnya wajar saja jika Zan liang merasa di perlakukan tidak adil, pasalnya semenjak Zan liang tinggal bersama keluarganya, Brian selalu mengawasi gerak - geriknya.
Maksud Brian sebetulnya baik, dia tidak ingin Zan liang kenapa - napa, tapi di sisi Zan liang, dia mwrasa risih dengan tindakan yang di lakukan Brian.
" Zan, Ayah tidak pernah berpikir seperti itu " Ucap Brian sendu.
" Sudahlah yah, yang penting sekarang aku mau menikah dengan Zahra, itu sudah cukup bukan ?, aku mau istirahat maaf " ucap Zan liang santai.
Zan liang kemudian meninggalkan Brian yang masih duduk di sofa kamarnya, sementara dia langsung berbaring di ranjang.
Brian menghela napas, dia beranjak dari duduknya dan meninggalkan kamar Zan liang.
Sementara itu dikamar Zahra, dia sedang di interogasi oleh ibunya, karena Zahra terlihat berubah setelah tinggal dikediaman Axel.
" Zahra, sekarang kamu jelaskan semuanya pada ibu !" Aisyah menyilangkan tangannya di depan dada.
" Jelasin apa Bu ?, bukankah ibu sudah melihatnya sendiri kalau aku mencintai Zan liang, kalau ibu ingin bertanya kenapa aku berani masuk kama Zan, itu tadi hanya kebetulan saja kami baru pulang dari kencan " jawab Zahra santai.
Aisyah menghela napas " kenapa sifat buruk ibu yang harus menurun pada kamu ?" ucap Aisyah tidak berdaya.
Zahra tersenyum " Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, hihihi " ucap Zahra sembari cekikikan.
Aisya menggelengkan masih mengingat jelas saat dia mengejar - ngejar Brian, dia juga rela melakukan apapun demi mendapatkan Brian.
Tapi sayangnya Cinta dia bertepuk sebelah tangan, karena Brian tidak pernah mencintainya dan lebih memilih menjadikannya hanya sebagai teman saja.
Aisyah akhirnya lebih memilih Move on dari Brian dengan cara melanjutkan studinya, tapi nyatanya dia tidak Move On sama sekali dan malah membuat perjanjian sebelum menikah dengan Suaminya, jika nanti mereka punya anak akan menjodohkannya dengan anak Brian.
Hal tersebut saja sudah membuktilan jika Aisyah tidak pernah bisa Move on dari Brian, mungkin sampai sekarang juga seperti itu.
Tapi Zahra berbeda, Zan liang tidak menolak Zahra sama sekali, malahan dia membuka hatinya untuk mencoba menerima Zahra.
.
__ADS_1
.
.