
Saat ditanya seperti itu oleh Viona, Zahra malah tersenyum " Zan liang sebenarnya orang yang baik Tante, karena saking baiknya dia jadi seperti ini, aku percaya jika nanti dia akan seperti dulu lagi "
Viona tersentuh dengan jawaban Zahra, dia menghela napas " kamu mungkin benar Zahra, maafkan Zan liang karena di saat seperti ini dia memnunjukan sifat buruknya "
Zahra menggelengkan kepalanya " ini bukan salah Zan liang Tante, Zan hanya menunjukan kerapuhannya saja, jika aku di posisi Zan liang mungkin aku akan lama bangkit dari keterpurukan, tapi Zan berbeda, dia melakukan hal tersebut agar tidak berlarut - larut tenggelam bersama masalalunya "
Viona sangat mengagumi kedewasaan Zahra, Viona mengangguk setuju dengan ucapan Zahra " Ya sudah kamu istirahat gih "
" Baik Tante, selamat malam " Zahra memberikan salam sebelum pergi ke kamarnya.
Ke esokan harinya Zan liang bangun kesiangan, karena semua keluarganya sudah melakukan aktivitas masing - masing, Rumah terasa sepi.
Zan liang membersihkan diri dan turun dari ke kamarnya, dia langsung pergi ke dapur untuk memakan sesuatu.
Bi inah yang melihat Zan liang bertanya dengan lembut " Pagi Tuan Muda " padahal sudah siang, tapi Bi inah tidak mau membuat Zan liang yang baru bangun marah.
Zan liang menghela napas " Ini sudah siang Bi, Buatkan aku teh hangat Bi !"
Bi inah tersenyum kecut " Baik Tuan muda "
" Biar aku saj Bi yang menyiapkan !" Saat Bi inah akan membuatkan teh hangat, Zahra lbergegas menghampirinya.
" Tapi Non " Bi inah terlihat ragu.
" Sudah Bi, biar aku saja, sekalian belajar jadi istri yang baik " Ucap Zahra sembari tersenyum.
Zan liang mendengar hal tersebut tersedak pisang yang sedang dia makan ' uhuk... uhuk ..'
Zahra dengan sigap mengambilakn air putih untuk zan liang " hati - hati kalau makan " setelah memberikan air putih, Zahra langsung membuatkan Zan liang teh hangat.
Tak berselang lama Zahra kembali dengan membawa teh hangat " ini teh hangatnya " ucap Zahra lembut.
" Terimakasih " jawab Zahra datar.
Zahra memandangi Zan liang yang sedang menyeruput teh hangat, dia melakukan hal tersebut sama persis ketika Zan liang menatapnya saat pertama kali bertemu.
Zan liang mengernyitkan dahinya " kenapa kamu menatap aku seperti itu ?" tanya Zan liang dingin.
__ADS_1
" Karena kamu sangat tampan " Zahra meniru Zan liang.
Zan liang menghela napas " mau sampai kapan kamu seperti ini ?, aku tidak pantas untuk diperhatikan olehmu !"
Zahra tersenyum " Sampai kamu sadar, jika didepanmu ada orang yang sudah tergila - gila sama kamu !"
Zan liang terkejut dengan jawaban Zahra, pasalnya waktu pertama kali bertemu, Zahra terlihat sangat pemalu, dia yang seperti sekarang membuat Zan liang merasa aneh.
Zahra sebenarnya sudah risih dengan sikap Zan liang yang sangat cuek, dia lebih suka dengan Zan liang waktu pertama kali bertemu, untuk itu Zahra berinisiatif lebih agresive, karena sudah tidak ada gunanya jika dia terus malu - malu.
" Kenapa ?, kamu heran dengan perubahan sikapku ?, aku saja tidak heran dengan perubahan sikapmu !" Ucap Zahra tegas.
" Terserah kamu sajalah !" Zan liang menvoba mengabaikan Zahra, tapi Zahra masih tetap menatapnya terus menerus membuat dia sedikit canggung.
" Baiklah kalau mau kamu seperti itu, Ayo ikut aku !" Zan liang menarik Zahra.
Zahra terkejut " Kita mau kemana ?"
Zan liang tidak menjawab dia menarik tangan Zahra dengan langkah cepat, Zahra terpaksa berlari kecil untuk mengikuti langkah Zan liang.
Zahra terkejut saat Zan liang membawanya ke atas, dia membawa Zahra ke kamarnya.
Zan liang mengira jika Zahra akan ketakutan, tapi Zahra terlihat hanya diam dan menatapnya sembari terbaring di ranjang.
Zan liang melepaskan pakaian atasnya " Kamu bilang sudah tergila - gila padaku bukan ?, Mari kita lihat sampai mana kamu akn tergila - gila padaku !"
Jantung Zahra berdegup dengan kencang, karena dia sebenarnya hanya berpura - pura tenang saja, padahal dalam hati dia sangat ketakutan.
Setelah melepas pakaiannya, Zan liang yang masih mengenakan celana, dia merangkak di atas Zahra dan menekan kedua tangan Zahra.
Zahra menghela napas " Apa kamu sudah tidak sabar menunggu pernikahan kita Zan ?" tanya Zahra pura - pura tenang.
Zan liang tersenyum " Memangnya kenapa ?, bukankah kamu tidak keberatan melakukan hal ini untukku ?"
" Lakukanlah semaumu Zan, tapi karena ini baru pertama kali dan kamu belum menikahiku, izinkan aku meminta satu syarat padamu " ucap Zahra lembut.
Zahra mengira jika Zan liang sangat serius dengan tindakannya, jadi dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, toh dia juga akan menjadi istri Zan liang.
__ADS_1
" Apa itu ?" tanya Zan liang.
" Izinkan aku ikut kemanapun kamu pergi !" ucap Zahra membulatkan tekadnya.
Zan liang tidak melihat ketakutan sedikitpun di mata Zahra, Zahra terlihat sangat serius dengan tindakannya.
Zahra menggigit bibir bawahnya, dia benar - benar sangat takut, tapi dia sudah memutuskan untuk memberikan dirinya pada Zan liang.
Zan liang menghela napas, dia beranjak dari atas Zahra dan duduk di samping Zahra sembari memijat pangkal hidungnya.
" Zahra, Aku ini Pria yang bodoh !, seharusnya kamu menolak perjodohan kita !" ucap Zan liang ketus.
Zahra menghela napas lega, dia duduk dan menatap Zan liang " Zan, aku tahu kamu bukan orang yang jahat, itulah kenapa aku tidak menolak perjodohan kita "
Zahra mendekat kearah Zan liang, dia merebahkan kepalanya di bahu Zan liang dan bicara lagi " Aku sudah menetapkan hatiku untukmu Zan, tolong jangan seperti ini terus, kita buka lembaran baru lagi "
Zan liang tidak menjawab, dia berdiri mengambil bajunya dan memakainya " Maaf Zahra, aku belum bisa memenuhi harapanmu !" Setelah mengatakan hal itu Zan liang keluar dari kamar.
Zahra hanya memandangi punggung Zan liang yang semakin menjauh, dia menghela napas " Zan, kenapa kamu membohongi dirimu sendiri ?, aku tahu kamu tidak nyaman menjadi seperti ini "
***
Sementara itu Riska terlihat sudah seperti biasanya, dia pergi ke kampus dan pulang ke rumahnya seolah tidak punya beban.
Riska mencoba untuk melupakan Zan liang, tapi perasaan yang dia anggap hanyalah belas kasih untuk Zan liang sebenarnya sudah berubah menjadi Cinta.
Tapi Riska mencoba menepis hal tersebut, dia pikir dengan dia meninggalkan Zan liang maka Zan liang tidak akan tersakiti lagi.
Riska tidak tahu jika kehidupan Zan liang berubah sangat drastis.
Saat Riska sedang ke kafe dekat Universitas bersama teman - temannya, dia terkejut melihat Zan liang yang sedang bersama preman Lokal daerah situ.
Zan liang terlihat sedang memangku seorang Wanita Gold Diger, tapi Zan liang tidak merasa risih sama sekali, padahal jika itu Zan liang yang dulu, dia sangat benci dengan wanita yang seperti itu.
.
.
__ADS_1
.