Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 10


__ADS_3

di rumah pak kades.


''pak kades terima kasih banyak sudah mengizinkan kami menginap.''


''nak Rendi tidak usah sungkan, Saya malah bersyukur bisa kedatangan orang baik seperti kalian ini ke kampung kami.''


''Pak kades bisa saja kami hanya melakukan apa yang sudah menjadi tugas kami.'' Rendi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


''Biar bagai manapun saya sangat berterima kasih kalian sudah menyelamatkan Sela, dia gadis yang baik, hanya saja nasibnya kurang beruntung.''


'-Ya sudah kalau begitu pak kades kami permisi, biar tidak kemalaman sampai kota.''


'' Iya, hati-hati di jalan, jika ada waktu mampirlah lagi ke sini'' ucap pak kades sambil melambaikan tangan


Rendi dan Alex pergi maninggalkan perkampungan itu.


''Tuan bukankah itu Sela?''


''mana?''


''itu yang berjalan sambil membawa tas besar.''


''iya kamu benar, tapi dia mau kemana? Sebaiknya kita dekati.''


'' Baik tuan.'' Alex segera mengarahkan mobilnya menuju ke arah Sela


''tin...tin...'' Sela menghentikan langkahnya karena mendengar suara klakson mobil.


''hai, Sela kamu mau kemana?'' tanya Rendi dari dalam mobil


''Rendi, Alex kalian sudah mau pulang?''


''haduh, kebiasaan deh ditanya bukannya jawab malah balas nanyak.'' keluh Rendi


''maaf, tapi aku juga tidak tau mau kemana.'' jawab Sela apa adanya


''ayo masuk!'' Rendi membukakan pintu mobil untuk Sela


Sela masuk kedalam mobil dan duduk di jok belakang dan Rendi yang semula duduk di depan pindah duduk di samping Sela.


''hem, sepertinya tuan Rendi benar benar peduli dengan gadis ini, atau jangan jangan tuan Rendi jatuh cinta lagi sama gadis ini.'' Gumam Alex dalam hati.


''Ceritakan sebenarnya apa yang terjadi?''


''aku di usir dari kontrakan karena aku tidak punya uang untuk bayar.'' Air mata Sela Segera turun membasahi pipi mulusnya.


''Jadi sekarang apa rencanamu?''


''maukah kamu menikah denganku?''


''ciiittttt....buukkkk.....''


Alex ngerem mendadak mendengar ucapan Sela.


Rendi tersenyum mengingat bagai mana Sela melamarnya karena putus asa.


dan gilanya, Rendi meng iyakan lamaran itu.


''Ha...ha....ha...'' Alex tiba-tiba saja tertawa


''plakk....'' Rendi menjitak kepala Alex.


''Apa yang kau tertawakan?''


''kisah cinta anda tuan. Pernikahan pertama, anda yang di lamar, pernikahan kedua, menikah di bawah ancaman. Sungguh kisah cinta yang tidak biasa.''


''klek'' pintu ruangan itu terbuka dan ternyata Sela lah yang membukanya.


''Sa...sa....sayang a...a..ada apa?'' Rendi gugup melihat Sela tiba-tiba membuka pintu


Sela mendekat, hal itu membuat Rendi semakin gugup.

__ADS_1


Sela mengangkat tangannya dan Rendi sepontan menutup matanya.


''Kamu sakit Ren? Tapi kening kamu tidak panas?'' kata Sela sambil menempelkan punggung tangannya di kening Rendi


''tidak aku baik-baik saja, kenapa kamu bisa berpikir aku sakit?'' tanya Rendi yang sudah bisa menekan ke gugupannya.


''tadi aku sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada yang menjawab, jadi aku langsung masuk dan saat aku masuk aku lihat wajah kamu tegang sekali dan berkeringat makanya aku pikir kamu sakit.''


Rendi dan Alex saling tatap, keduanya mesara bingung bagaimana mungkin mereka sama-sama tidak mendengar Sela mengetuk pintu.


''Apa urusan kalian belum selesai?'' tanya Sela yang merasa Rendi sudah cukup lama berada di ruang kerjanya.


''sebentar lagi sayang, kalau kamu sudah ngantuk tidurlah duluan.''


''baiklah, tapi jangan terlalu malam, bukankah besok harus berangkat pagi-pagi.


aku duluan ya.''


''ceklek...'' pintu kembali di tutup oleh Sela.


''huh, untung dia tidak dengar apa-apa.'' kata Rendi.


'' Jantung saya rasanya sudah mau copot tuan.'' Alex ikut menimpali


''apa lagi saya! Sebaiknya kita istirahat karena besok sebelum pergi kita harus ke rumah papa dulu untuk menjemput Arumi.'' Rendi keluar dari ruang kerjanya dan menuju kamar


''Sela, kamu sedang apa?'' tanya Rendi yang melihat Sela ternyata belum tidur


''ini, aku sedang meyiapkan keperluanmu untuk di sana nanti.'' kata Sela sambil menyusun baju-baju milik Rendi


''tidak perlu repot-repot sayang, disana sudah di siapkan semua untuk keperluanku dan Ar....Alex.


astaga hampir saja. Bagaimana mungkin bisa hampir ke ceplosan.'' gumam Rendi dalam hati.


''Sudah tinggalkan saja itu, ayo sini'' Rendi menarik Sela ke dalam pelukannya.


di dekapnya tubuh mungil Sela lama, seakan tidak ingin melepaskannya lagi.


Sela merasa sesak karena Rendi memeluknya dengan erat, di dorongnya pelan tubuh Rendi.


''yakin hanya ingin seperti ini?''Sela menaik turunkan alisnya bermaksud ingin menggoda suaminya.


''mulai nakal ya.''


dan terjadilah pergulatan panas antara suami istri itu.


Pagi harinya Rendi langsung bersiap untuk berangkat sedangkan Alex sudah rapi sejak tadi dan duduk di sofa sambil memperhatikan Anisa yang sedang beres-beres rumah.


''Tuan, Sela'' sapa Anisa sambil sedikit membungkuk.


Sela hanya tersenyum sambil berkata ''lain kali tidak perlu seperti itu.''


''Alex sudah siap?''


''sudah tuan.''


''bagus ayo kita berangkat.''


''lo, nggak sarapan dudu?'' tanya Sela


''nanti saja di jalan, aku berangkat dulu ya sayang''


Sela mencium tangan Rendi, sementara Rendi mengecup kening Sela.


sementara Alex dan Anisa hanya saling curi-curi pandang.


Rendi dan Alex memasuki mobil dan segera melajukan mobil itu meninggalkan pekarangan rumah Rendi.


Rendi terus melihat Sela dari sepion, terlihat Sela masih berdiri sambil melambaikan tangan ke arah mereka.


''maaf.'' Lirih Rendi.

__ADS_1


''sudahlah tuan, aku yakin semua akan baik-baik saja.'' ucap Alex menenangkan Rendi


Anisa datang menghampiri Sela yang masi berdiri mematung memandangi jalan.


''Sela ayo kita masuk'' kata Anisa sambil menepuk pelan bahu Sela dari belakang.


Tanpa di duga Sela langsung berbalik memeluk Anisa sambil menangis.


''Anisa ..hu...hu...hu...''


''Sela ada apa?'' Ayo kita masuk. Anisa menuntun Sela masuk kedalam rumah, masih dalam ke adaan menangis.


Anisa membawa Sela duduk di sofa.


ceritakan ada apa sebenarnya.


'' Hu...hu..hu...''


Sela tidak menjawab dia hanya terus menangis.


Anisa dengan sabar menemani dan menunggu sampai Sela merasa lebih baik.


''kau tau Anisa ini pertama kalinya Rendi meninggalkan aku begini.


selama lima tahun kami menikah kami belum pernah berpisah.'' kata Anisa masih dalam kondisi terisak


''oh, jadi kamu menangis karena itu?''


''iya.''


''ternyata kamu lucu ya.'' Anisa sudah bisa mulai akrab dengan Sela dan tidak merasa canggung lagi.


''Jadi kenapa kamu tidak bilang kalau kamu tidak ingin di tinggal.'' tanya Anisa penasaran


''aku tidak ingin menyusahkan dan membuat dia serba salah.''


''kalau begitu artinya kamu harus bersabar dan menahan diri.'' bujuk Anisa


''Agar kamu tidak terlalu sedih, bagaimana kalau kita berkebun saja?''


''berkebun?''


''iya, menanam sayuran. Aku lihat halaman belakang lumayan luas, sayang kalau hanya di biarkan saja.''


''Tapi,,,,aku tidak bisa berkebun.'' jawab Sela dengan tampang polosnya.


''tenang saja nanti aku ajari mudah kok. Ayo!''


Sela mengangguk, tanda setuju.


Rendi dan Alex tiba di rumah Bastian, dan langsung di sambut oleh Arumi.


''Sudah sampai mas?'' sambil mencium tangan Rendi ''mas sudah sarapan?''


''belum, nanti saja saat di perjalanan.'' walau sudah tidak ketus lagi namun Rendi belum bisa bersikap manis kepada Arumi


''sudah siap?''


''sudah mas.''


''ayo kita pergi!'' kata Rendi sambil langsung berbalik


''tidak pamit sama mama dan papa dulu?'' Arumi merasa tidak enak sama mertuanya kalau dia main langsung pergi saja


''Tidak perlu, kita sudah ke siangan.''


''Rendi apa kamu masih marah sama mama?'' Kata Monika yang baru saja turun dari lantai atas bersama Bastian.


''Papa dan mama melakukan ini demi kebaikan kamu Rendi'' kali ini Bastian yang bicara.


''kebaikan yang mana pa?'' Rendi geram setiap kali mendengar papanya berusaha membenarkan tindakannya dengan mengatas namakan demi kebaikanya.

__ADS_1


''Kalau soal anak, sampai saat ini walaupun aku sudah melarang tapi Sela masih terus menjalani pengobatan alternatif. Dia terus berusaha untuk bisa punya anak , demi memenuhi ke inginan kalian. Tapi kalian sama sekali tidak memberi dia waktu.


apa susahnya memberi kami waktu beberapa tahun lagi. Toh kami juga masih muda.''


__ADS_2