Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 13


__ADS_3

''Arumi kamu demam?''


Rendi meletakkan tangannya di dahi Arumi, ''panas sekali.''


Rendi kembali kedapur, diambilnya sebuah baskom di isinya dengan air dan es batu.


lalu Rendi kembali lagi ke kamar, di ambilnya sapu tangan dari dalam lemari.


Rendi mengompres kening Arumi dengan sapu tangan yang sudah dibasahi dengan air es.


Setelah beberapa kali mengganti kompresan. Rendi memengang kembali kening Arumi.


''sudah agak reda, sebaiknya aku membuatkan bubur untuknya.''


Rendi pergi ke dapur dan membuatkan bubur untuk Arumi.


''Bagaimana caranya membuat bubur ya?


harusnya gampang waktu itu aku pernah melihat Sela memasak bubur waktu mama sakit.Ambil sedikit beras, lalu rebus dengan air yang banyak. Aku rasa begitu.'' Rendi berbicara dengan dirinya sendiri


''akhirnya jadi, ternyata benar masak bubur memang gampang. Tapi kenapa tampilannya beda sama yang di masak Sela ya? Rendi sedikit ragu dengan hasil masakannya, namun dia tetap membawa bubur itu ke kamar Arumi


''klek'' pintu di buka oleh Rendi, hal itu membuat Arumi yang tadinya sudah terbangun menutup kembali matanya.


Rendi meletakkan bubur yang ia bawa ke atas meja yang ada di samping tempat tidur.


''Dia belum bangun juga, padahal panasnya sudah turun.'' sambil memengang dahi Arumi


''apa aku telpon dokter saja?''


Mendengar ucapan Rendi, Arumi berpura pura baru bangun.


''emm, uh'' Arumi memegang kepalanya yang terasa pusing saat dia membuka mata


''Arumi kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?''


''ke palaku pusing.'' kata Arumi tanpa menatap Rendi


''Ayo duduk dulu, ini aku sudah buatkan bubur untukmu. Kamu makan dudu ya, habis itu minum obat.'' Rendi membantu Arumi untuk duduk


Arumi mengerutkan kening menatap bubur buatan Rendi.


''kenapa, kamu tidak suka bubur?''


Arumi hanya menggeleng, dia masih malas berbicara dengan Rendi


''kalau begitu makanlah, ini.'' Rendi memberikan bubur itu ketangan Arumi


Arumi memakan bubur buatan Rendi dengan terpaksa, karena dia tidak ingin membuat Rendi kecewa jika dia tidak memakan bubur yang di buat Rendi dengan susah payah.


Kalau di tanya soal rasa tentu saja tidak enak. Karena Rendi hanya merebus beras dengan air yang banyak, tanpa menambahkan apapun lagi kedalamnya.


''Aku sudah kenyang.'' Arumi menyodorkan bubur itu kembali ketangan Rendi

__ADS_1


''kamu baru makan dua suap lo, sedikit lagi ya?'' bujuk Rendi


''tidak mas aku sudah kenyang.'' tolak Arumi


''Rasa buburnya tidak enak ya?''


''bukan mas, memang aku sudah kenyang.'' kata Arumi berbohong


''Kruuukk....'' perut Rendi berbunyi.


''kamu lapar mas, apa kamu belum makan?'' pelan-pelan Arumi bisa melupakan kekesalannya kepada Rendi


''he..he..belum'' jawab Rendi sambil menggaruk kepala


''maaf ya mas karena mengurusi aku, mas jadi belum makan sampai sesiang ini.'' sesal Arumi


''sebenarnya tadi pagi aku sudah membuat nasi goreng untuk kita berdua, tapi karena kamu sedang sakit aku pikir lebih baik kalau kamu makan bubur'' jelas Rendi


''benarkah, aku mau coba nasi goreng buatan kamu mas.'' kata Arumi antusias


''sekarang pasti sudah dingin, sudah tidak enak.'' kata Rendi


''Tidak apa-apa aku mau coba.'' Arumi benar-benar penasaran dengan nasi goreng buatan Rendi


''tunggu sebentar aku bawa ke sini.'' Rendi beranjak, ingin mengambil nasi goreng yang tadi dia masak, namun segera di hentikan oleh Arumi


''tidak usah, kita makan di bawah saja.'' Arumi turun dari ranjangnya


''kamu yakin bisa?'' tanya Rendi memastikan


''ayo aku bantu.'' Rendi mendekat dan ingin memapah Arumi


''mas, aku hanya demam, bukan cacat'' protes Arumi


Arumi dan Rendi turun untuk menikmati nasi goreng buatan Rendi.


''hem, seprtinya ini enak.'' Arumi memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya, kening Arumi seketika berkerut dan dengan susah payah Arumi berusaha menelan nasi goreng yang ada di dalam mulutnya.


''Bagaimana?'' tanya Rendi penasaran


''kamu cicipi sendiri saja ya.'' kata Arumi sambil nyengir kuda


''expresimu itu mencuringakan.'' Rendi menyendokkan satu sendok nasi goreng itu ke mulutnya. ''cuih'' Rendi meludahkan nasi goreng yang ada di dalam mulutnya.


''Bagaimana?''


''kita pesan makanan saja, aku rasa karena sudah dingin rasanya jadi seperti itu. Tadi tidak begitu.'' kata Rendi berdalih


Arumi hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya itu. ''Tuhan bolehkah aku berharap bisa menikmati saat saat seperti ini selamanya'' Arumi memanjatkan doa di dalam hatinya.


''Sela kenapa kamu murung?'' Anisa menghampiri Sela yang sedang terlihat murung


''Nisa lihatlah'' Sela menunjukkan hpnya pada Anisa

__ADS_1


''kenapa dengan hpmu? Aku lihat tidak ada yang aneh'' komentar Anisa


''Is, kamu ini, apa kamu tidak lihat sama sekali tidak ada notip di hpku, sejak pagi Rendi sama sekali tidak menghubungi aku, dan sekarang sudah sore dia belum menghubungi aku juga.'' Sela mengomel karena merasa Anisa sama sekali tidak peka


''Mungkin tuan sedang sangat sibuk, bukannya kamu bilang cabang perusahaan yang ada di sana sedang bermasalah. Begini saja bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan, apa kamu mau?''


''aku sedang tidak ingin.''


''Ayolah, sekalian kita cari bibit bunga krisan dan bunga lili untuk taman kita, mau ya?'' Anisa berusaha membujuk Sela


''Baiklah aku ganti baju dulu.''


''ye... Gitu dong, aku tunggu di mobil ya.'' Anisa segera pergi menuju mobil sebelum Sela berubah pikiran.


benerapa menit kemudian Sela sudah siap dan masuk kedalam mobil.


''oke, sudah siap, kita berangkat!'' teriak Anisa, sementara Sela hanya tersunyum. tinggah konyol Anisa ini memang selalu bisa membuat Sela merasa lebih baik.


''Sela kita ke mana dulu?'' tanya Anisa sambil menyetir


''terserah kamu.''


''ayolah Sela jangan murung terus, wajah kamu tidak enak di lihat.'' goda Anisa


''Anisa, Menurut kamu apa Rendi akan meninggalkan aku, jika di sana dia bertemu dengan wanita yang lebih segalanya dari aku?'' terdengar nada sedih dari ucapan Sela


''Sela kamu bicara apa? Tuan Rendi sangat menyayangi kamu, jadi hal seperti itu tidak akan pernah terjadi.'' Anisa berusaha membujuk Rendi yang terlihat semakin murung


''apa kamu tau Anisa aku juga tidak mau seperti ini. Tapi aku ini wanita yang tidak sempurna. aku tidak bisa memberikan keturunan untuk suamiku. Hal itu membuat aku sangat takut, aku tau walaupun Rendi tidak pernah mempermasalahkan hal ini, tapi jauh di lubuk hatinya dia pasti menginginkan seorang anak.'' air mata Sela jatuh begitu saja


''Aku sering memperhatikannya, saat kami pergi jalan-jalan ke taman, dia suka melihat anak-anak yang bermain bersama orang tuanya. Aku benar benar merasa gagal menjadi seorang istri. Pernah terpikir untuk menyuruhnya menikah lagi, tapi hanya memikirkannya saja hatiku sudah sakit.


Katakan Anisa apa aku egois?'' Sela menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya


''dan setiap kali dia pulang terlambat atau jauh dariku ketakutan ini menghantui hatiku.


aku takut karena keinginannya untuk punya seorang anak, dia memilih untuk menikah diam-diam. Dan jika mereka nanti sudah punya anak dia akan meninggalkan aku.''


Air mata Sela jatuh semakin deras. hal ini membuat Anisa ikut merasa sedih. Anisa tidak menyangka di balik keharmonisan rumah tangga Sela ternyata dia juga menyimpan kesedihan yang besar.


Anisa menyodorkan tisu kepada Sela. ''Sela kamu berpikir terlalu jauh. Aku rasa tuan Rendi tidak mungkin melakukan hal itu, dia sangat mencintai kamu.'' Anisa berusaha menenangkan Sela


''Tapi Anisa orang tuanya juga selalu mendesaknya untuk menikah lagi.''


''kita berdoa saja semoga apa yang kamu takutkan tidak akan pernah terjadi'' Anisa kehabisan kata-kata untuk menghibur Sela


mobil yang dikendarai Anisa dan Sela terus melaju dengan kecepatan sedang, melewati gedung-gedung tinggi pertokoan di sisi kiri kanan jalan.


Hingga mata Anisa tertuju pada seseorang yang berada di depan sebuah kafe.


''Sela bukankah itu tuan Alex?'' tanyanya memastikan


''mana?''

__ADS_1


'' Itu yang sedang berjabat tangan di depan kafe itu.''


''Iya benar itu Alex, ayo kita kesana.''


__ADS_2