Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 81


__ADS_3

Wisnu begitu senang dengan jawaban Sela, dia repleks mengangkat tubuh Sela dan membawanya berputar-putar.


''Aaaa, Wisnu turunkan aku kepalaku pusing.''


''Maaf aku terlalu bahagia'' Wisnu menurunkan Sela perlahan dari gendongannya.


''Yeee'' Marisa bersorak kegirangan sambil bertepuk tangan. ''Akhirnya mama Sela akan jadi mama Marisa beneran.'' Gadis cilik itu melompat-lompat kegirangan.


Sela berjongkok di depan Marisa, ''memangnya selama ini mama Sela mama bo'ongan?'' Sela menoel hidung Sela.


Marisa terkikik dan langsung masuk ke pelukan Sela. ''Bukan bo'ongan tapi belum beneran.''


Sela geleng kepala mendengar jawaban Marisa.


''Baiklah karena saat ini saya sedang bahagia, besok saya akan memberi bonus tambahan untuk seluruh kariyawan S.P COPR. Yang hadir di sini.''


Seluruh ruangan itu mendadak riuh dengan suara tepuk tangan dan ucapan terima kasih dari para kariyawan.


Acara ulang tahun Sela berakhir dengan gembira. Semua tamu sudah pulang, hanya menyisakan para pelayan dari kediaman Wisnu dan juga Piter.


Wisnu meminta Piter mengantar mereka semua pulang termasuk Marisa.


''Marisa pulang duluan bersama bibik dan om Piter ya.'' Kata Wisnu pada putrinya.


''Oke papa'' Marisa mengacungkan jempolnya pada Wisnu tanda setuju.


''Dadah mama'' Marisa melambaikan tangan kearah Sela, lalu berlari mengikuti bik Wati dan Piter.


''Ayo'' Wisnu mengulurkan tangan mengajak Sela pergi.


''Kemana?''

__ADS_1


''Rahasia.''


''Wisnu'' Sela memasang wajah cemberut. ''Hari ini kamu sudah terlalu banyak memberi kajutan, jika beri kejutan lagi bisa-bisa aku kena serangan jantung.''


''Ha..ha..ha..'' Wisnu tertawa mendengar ucapan Sela.


Wisnu menggandeng tangan Sela membawanya masuk ke dalam mobil. Sela hanya tersenyum melihat Wisnu yang seolah tidak ingin jauh darinya.


Wisnu melajukan mobilnya lalu menghentikannya di pinggir sebuah danau.


Dia turun terlebih dahulu lalu berlari memutari mobilnya untuk membukakan pintu mobil untuk Sela.


''Wisnu untuk apa kita kesini?''Tanya Sela saat mereka sudah turun dari mobil dan berdiri persis di tepi danau.


''Melihat bintang'' jawab Wisnu sambil mendongak menatap kearah langit.


''Lihat bintang-bintang itu begitu indahkan? Sela kita akan segera menikah karena itu aku membawamu ke sini bertemu Sopia.''


''Hm, Sela sebelum kita menikah aku akan menceritakan semua ini padamu. Sopia adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku, bisa di katakan apa yang aku miliki sekarang adalah pembriannya. Aku menceritakan segala hal padanya termasuk tentang kesalahanku padamu. Sebelum dia meningal dia menyuruhku untuk melakukan dua hal yang pertama menemuimu dan meminta maaf secara langsung agar hatiku terbebas dari rasa bersalah dan yang ke dua dia menyuruh aku untuk segera menikah lagi agar aku tidak kesulitan dalam membesarkan Marisa.''


Wisnu menjeda ucapannya, dia menatap wajah Sela sambil menggenggam tangannya.


''Aku sangat mencintai Sopia jadi aku pikir tidak mungkin bisa mengabulkan permintaannya yang ke dua, karena itu aku pulang ke Indonesia untuk melakukan permintaan pertamanya. Aku tidak menyangka setelah bertemu denganmu ternyata kamu bisa mengisi kekosongan di dalam hatiku, tadinya aku pikir ini hanya kekaguman semata tapi saat melihat Anisa seperti berusaha mendekatkanmu kembali dengan Rendi hatiku benar-benar tidak nyaman, aku takut kehilangan kamu. Disitu aku menyadari kalau aku benar-benar mencintai kamu.''


Wisnu membawa sela untuk lebih mendekati air.


Sela tidak melakukan apapun dia hanya mendengarkan dan mengikuti apa yang Wisnu lakukan.


''Dan aku sudah berjanji pada Sopia jika nanti aku menemukan wanita yang bisa membuat aku jatuh cinta lagi, aku akan membawanya menemui Sopia. Namun jika ingin membawamu ke makam Sopia pasti butuh waktu karena makamnya berada di New Zeland, lalu aku teringat dengan ucapan pamanku saat dulu aku sering teringat dengan mendiang ayah dan ibuku, jika orang-orang yang sudah meninggal akan menjadi bintang-bintang di langit dan selalu memperhatikan kita karena itu aku membawamu kesini.''


''Benarkah?''

__ADS_1


''Entahlah'' Wisnu menaikkan bahunya tanda dia tidak tahu tentang kebenarannya. ''Tapi dulu saat aku masih kecil setiap kali aku rindu orang tuaku aku selalu merasa tenang jika menatap bintang.''


''Baiklah kalau begitu'' Sela melepaskan tangan Wisnu lalu meletakkan masing-masing tangannya di sudut bibirnya, lalu dia berteriak ''Sopia jika saat ini kamu sedang melihat kami, aku mohon restuilah kami. Aku tidak ingin berjanji apapun kepadamu aku hanya ingin kamu menyaksikan aku, Wisnu dan Marisa hidup bahagia dan semoga saat ini kamu juga sedang bahagia di sana.''


Sela kembali menggenggam tangan Wisnu. ''Mungkin saat ini aku belum bisa mencintaimu seratus persen tapi aku akan selalu berusaha dan belajar untuk bisa mencintaimu sepenuh hatiku.''


Wisnu melepaskan genggaman tangan Sela kemudian memengang kedua belah pipinya ''itu sudah cukup bagiku, kamu tidak perlu berusaha cukup beri kesempatan untukku dan biarkan aku yang berusaha membuat kamu mencintai aku.''


Wisnu menarik Sela kedalam pelukannya, cukup lama mereka berdiri menikmati pemandangan danau dan bintang-bintang yang bertaburan di langit.


Alex mengantarkan Monika dan Bastian ke rumah Rendi yang berada di pinggir kota.


''Kita sudah sampai nyonya besar.'' Kata Alex saat dia sudah mematikan mesin mobilnya tepat di depan sebuah rumah yang terlihat sederhana tapi cukup nyaman untuk di tempati.


''Alex tidak perlu memanggil aku nyonya besar lagi aku sudah tidak pantas, kami sudah tidak punya apa-apa.''


''Nyonya apa yang anda bicarakan? Selamanya anda tuan Rendi dan Tuan Bastian adalah tuan saya.'' Alex turun dan membukakan pintu mobil untuk Monika, lalu membantu Bastian turun dan memdudukkannya di kursi roda.


Monika mendorong Bastian masuk ke dalam rumah, sementara Alex menurunkan barang bawaan Monika dan memasukkannya ke dalam rumah.


''Terima kasih banyak Alex, kamu masih mau memperlakukan kami dengan sangat baik.'' Kata Monika.


Bastian yang sedang duduk di kursi roda meneteskan air mata. Tidak ada yang tau apa yang di pikirkannya. Entah dia menyesali sikapnya dahulu atau menyesali nasibnya yang sekarang.


''Kamu kenapa?'' Monika panik melihat Bastian tiba-tiba menangis.


''Tuan anda tidak usah khawatir, selama tuan Rendi masih di penjara saya akan menyempatkan waktu mengunjungi anda dan nyonya besar di sini.'' Seolah tau apa yang di khawatirkan oleh Bastian Alex berusaha menenangkannya.


Di Suka Bumi pak Yanto dan Erina sibuk mengurusi Fais. Bayi ini langsung sakit begitu tiba di Suka bumi.


Menurut dokter setempat itu wajar mengingat Fais lahir prematur otomatis ketahanan tubuhnya berbeda dari bayi yang lahir dalam keadaan cukup bulan. Namun demikian Fais harus tetap mendapat perawatan khusus.

__ADS_1


Hal ini membuat Erina dan pak Yanto khawatir, ''pak apa keputusan kita membawa Fais ke sini sudah tepat? Mengingat dia harus mendapat perawatan khusus apa tidak sebaiknya kita kembali ke kota?''


__ADS_2