
Alex melajukan mobilnya dengan ke cepatan tinggi. Dia meninggalkan semua urusan kantor begitu mendapat kabar dari Rendi bahwa Anisa sudah pergi.
''Anisa semua bisa di bicarakan baik-baik kenapa harus langsung pergi.'' gumam Alex yang berpikir kepergian Anisa akibat perdebatan mereka siang tadi.
Hari sudah semakin sore, Wisnu mengajak Sela dan Marisa untuk kembali kerumah.
''Sela, Marisa ayo kita pulang hari sudah sore!''
''Yaah, sebentar lagi dong pa, masih seru ni'' kata Marisa yang sedang asik menggambar sesuatu di pasir bersama Sela.
''Sayang kita pulang ya? Lain kali kita ke sini lagi.'' Bujuk Sela.
''Mama Sela janji?''
Sela melirik Wisnu untuk meminta pendapat. Wisnu mengangguk mengisyaratkan bahwa dia setuju.
''Iya mama Sela janji'' jawab Sela setelah memdapat persetujuan dari Wisnu.
''Papa Marisa mau itu'' tunjuk Marisa pada pedagang yang sedang menjual kembang gula di pinggir jalan.
''Sayang lain kali saja ya, jauh kalau harus putar balik lagi.'' Kata Wisnu yang melihat pedagang yang di maksud Marisa berada di sebrang jalan, sementara mereka sedang berada di jalur satu arah.
Marisa tidak membantah ucapan Wisnu, namun matanya terus tertuju pada pedgang itu.
''Wisnu pinggirkan mobilnya sebentar, aku akan turun untuk membeli kembang gula itu.''
''Tapi...''
''Sudah tidak apa-apa, sepertinya Marisa sangat menginginkannya.''
Wisnu terpaksa mengalah dan memarkirkan mobilnya. ''Aku saja yang beli'' kata Wisnu.
''Tidak kamu di sini saja jaga Marisa!'' Belum sempat Wisnu melayangkan protes, Sela sudah keluar dari mobil dan menyebrang.
''Pak kembang gulanya dua.'' Kata Sela pada pedagang itu.
''Sela'' Anisa yang sedang berada di dalam taksi melihat Sela yang sedang membeli kembang gula.
''Pak berhenti sebentar.'' Anisa turun dari taxsi dan menghampiri Sela.
''Sela'' Anisa langsung memeluk Sela. ''Kamu kemana saja aku sangat mengkhawatirkanmu'' Anisa mengurai pelukannya untuk melihat wajah Sela.
''Kamu tinggal di mana? Aku ingin berkunjung ada banyak hal yang ingin aku bicarakan.''
__ADS_1
''Aku menumpang di rumah teman, jadi lain kali saja kalau ingin berkunjung.''
''Tapi Sela aku akan pulang kampung, setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu lagi.'' Raut wajah Anisa berubah sedih.
''Apa yang sudah terjadi?''
Anisa diam, dia bingung harus mulai dari mana menjelaskan kepada Sela.
''Ikut aku'' Sela menarik tangan Anisa agar ikut dengannya.
''Tunggu, koperku ada di dalam taxsi.''
Setelah mengambil koper Anisa dari dalam taxsi Sela membawa Anisa ke mobil Wisnu.
''Wisnu ini temanku Anisa, ada yang ingin aku bicarakan dengannya, boleh dia ikut kita?''
''Hm'' Wisnu mengangguk.
Setelah semua duduk dengan benar. Wisnu kembali menjalankan mobilnya.
''Sayang ini kembang gulanya'' Sela menyerahkan kembang gula yang di belinya tadi kepada Marisa.''
''Terima kasih mama Sela'' Marisa menerima kembang gula itu.
Namun dengan cepat Marisa yang menjawab ''iya tante ini mama Sela, mamanya Marisa. Karena mama Sela tidak punya anak dan Marisa tidak punya mama jadi kami sepakat untuk menjadi ibu dan anak.'' Kata marisa dengan polosnya, yang mengundang tawa Sela dan Anisa.
Dulu Sela akan selalu bersedih jika seseorang mengatakan dia tidak punya anak. Namun entah kenapa saat kata itu keluar dari mulut Marisa Sela sama sekali tidak merasa sedih.
Anisa yang merasa gemas langsung mencibit pipi Marisa. ''Anak pintar berapa usiamu?''
''Hampir lima tahun!'' Marisa mengangkat lima jarinya ke atas.
Wisnu, Sela, Anisa dan Marisa tiba di rumah.
''Waaahhh, Tuan wisnu rumah anda besar sekali'' puji Anisa.
''Ini rumah Marisa peninggalan dari mendiang ibunya'' kata Wisnu merendah, padahal dia juga ikut membangun rumah ini walau benar Wisnu sudah memindah namakan rumah ini menjadi milik Marisa.
''Letakkan saja koper kamu di kamar yang ada di sebelah kamar Sela.'' Wisnu menunjuk sebuah kamar kepada Anisa.
''Tidak tuan saya hanya sebentar, sehabis magrib saya akan pergi keterminal untuk naik bus yang berangkat malam, agar pagi saya sudah sampai di kampung.''
''Panggil Wisnu saja, kamu teman Sela berarti teman saya juga. Kenapa buru-buru ingin pulang, apa ada yang penting?''
__ADS_1
''Tidak juga, tapi saya sudah tidak bekerja makanya ingin segera pulang.''
''Anisa kamu sudah tidak bekerja di rumah rendi lagi?'' Sela membawa Anisa untuk duduk di sofa.
''Kalian ngobrollah dulu, aku akan membawa Marisa untuk mandi.'' Wisnu mengangkat Marisa dan menggendongnya dengan sebelah tangan.
''Bik buat minum untuk tamu kita'' setelah itu Wisnu melanjutkan langkahnya membawa Marisa ke kamarnya untuk mandi.
''Ceritakan apa yang terjadi di rumah?'' pinta Sela.
''Sela sebelumnya aku ingin minta maaf, karena sebenarnya aku sudah tau mengenai pernikahan tuan Rendi dan Arumi.''
Sela menutup mata menahan kekecewaan yang menjalar di hatinya. ''Tapi sungguh saat itu aku benar-benar bingung harus memberitahumu atau tidak hingga tuan Rendi meminta aku untuk merahasiakannya sampai dia sendiri yang akan mengatakannya. Sela sungguh aku tidak pernah punya niat buruk padamu.'' Anisa menggenggam tangan Sela.
''Sudahlah lupakan, lagi pula ini bukan salahmu.''
''Apa kamu tidak berniat untuk pulang? Tuan sudah membawa Arumi untuk tinggal di rumah. Sela kalau kamu tetap di sini dia akan mengambil semua milikmu'' Anisa berusaha meyakinkan Sela.
''Milikku? Kamu salah Anisa, aku tidak punya apa-apa. Kalaupun ada yang aku miliki dulu itu hanya Rendi, dan sekarang sudah tidak lagi.''
''Kenapa kamu sangat lemah? Sebagai seorang wanita harusnya kamu bisa mempertahankan apa yang menjadi milikmu. Walau sudah tidak menginginkannya, setidaknya jangan biarkan ular betina itu bahagia di atas penderitaanmu.''
Sela hanya diam mendengar ucapan Anisa, bukannya Sela tidak ingin memperjuangkan kebahagiaannya tapi sebagai wanita yang tidak sempurna, Sela merasa tidak mampu bersaing dengan Arumi. apa lagi saat ini Arumi tengah hamil.
Sela yang sejak kecil hidup dalam kesusahan menjadikannya wanita yang selalu pasrah menerima keadaan tanpa berani melawan.
''Anisa sudahlah mungkin jodohku dengan Rendi hanya sampai di sini. Aku akan merelakannya dan berdoa untuk kebahagiaannya.''
''Sela kamu benar-benar bodoh, sia-sia aku bicara padamu. Hubungi aku jika berubah pikiran, aku akan dengan senang hati membantu memberantas ular betina itu.''
Anisa meninggalkan rumah Wisnu dengan kesal.
''Kenapa dia bodoh sekali'' gerutunya.
''Tin, tin, tin''
Sebuah mobil menghampiri Anisa begitu dia keluar dari gerbang rumah Wisnu yang ternyata adalah Alex.
''Alex'' jantung Anisa seperti ingin melompat keluar sangking kagetnya.
''Anisa masuklah kita perlu bicara'' tadinya Alex pikir akan sulit membujuk Anisa untuk ikut. Di luar dugaan Anisa langsung masuk kedalam mobil tanpa membantah.
Sebenarnya bukan tanpa alasan. Anisa ingin cepat pergi sebelum Alex menyadari keberadaan Sela.
__ADS_1
Untunglah tadi saat Sela menawarkan diri untuk mengantar sampai depan Anisa menolak.