
''Kenapa tidak di angkat?'' Tanya Rendi.
''Telpon tidak penting, dari teman sesama guru saat mengajar di TK dulu, paling-paling mau curhat tentang suaminya'' Arumi beralasan.
''Oh'' tanggap Rendi dan melanjutkan makannya tanpa curiga sedikitpun.
''Sudah selesai aku ke ruang kerjaku dulu, ada banyak pekerjaan yang menumpuk selama aku tidak ke kantor.'' Rendi meletakkan alat makannya lalu pergi menuju ruang kerjanya.
Biasanya Arumi akan protes bila Rendi meninggalkannya begitu saja, tapi tidak kali ini Arumi justru senang Rendi segera pergi.
Dia segera mengambil henponnya dan menghubungi Hans.
''Akhirnya kamu menelponku cantik'' kata Hans dari seberang sana.
''Bukankah sudah aku katakan jangan menghubungi aku, tunggu aku yang menghubungimu. Aku bisa ketahuan Rendi kalau begini.'' Kesal Arumi karena ternyata hans tidak mengindahkan pesannya.
''Jangan marah cantik, aku hanya sedang ingin memberi kabar baik untukmu, yang pasti kamu suka.''
''Cepat katakan apa kabar baiknya.'' Arumi terus menoleh ke arah tangga takut kalau tiba-tiba Rendi akan turun.
Hans terkekeh mendengar betapa tidak sabarnya Arumi. ''Kamu tidak pernah berubah masih saja tidak sabaran.''
''Katakan atau aku tutup telponnya!''
"Baik-baik akan aku katakan, aku sudah tau di mana wanita bernama Sela itu tinggal, dan tadi aku juga mengirim sesuatu untuk sekedar bermain-main dengannya.''
''Bagus, tapi aku tidak suka kamu terlau lama bermain-main, cepat singkirkan dia dari sini.''
Arumi mematikan sambungan telpon dan kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya.
Begitu melihat Wisnu pulang Sela langsung menghampirinya.
''Bagaimana, apa sudah ada petunjuk tentang pengirim paket itu?'' Sela tidak bisa lagi menahan kecemasan di hatinya.
Wisnu menggelang ''belum ada, tapi tenang saja aku sudah menempatkan penjaga di sekitar rumah ini. Sela apa mungkin ini perbuatan Arumi?''
__ADS_1
''Kenapa kamu berpikir seperti itu? Aku rasa itu tidak mungkin. Walau aku kecewa dengan Arumi tapi aku tau dia bukan orang seperti itu.''
Wisnu tersenyum. Dia semakin kagum dengan Sela, walau Arumi sudah sangat menyakitinya tapi dia masih bisa berpikir baik tentang Arumi.
''Kalau bukan dia lalu siapa? Kamu bukan seorang pekerja jadi tidak mungkin memiliki saingan kerja.''
''Aku juga bingung, selama menikah dengan Rendi aku bahkan jarang berinteraksi dengan dunia luar.''
Wisnu tampak berpikir sejenak, ''semakin dipikir semakin aneh. Kamu bahkan belum sebulan ada di sini tapi orang ini sudah tau dan menyertakan namamu di paket itu artinya dia tidak salah kirim.''
''Huh'' Sela menghembuskan napas menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dada.
''Maaf menyusahkanmu!'' sesalnya.
''Bicara apa? Sekarang sebaiknya kamu bersiap-siap, kita akan pergi.''
''Ha'' Sela yang tadinya menunduk, mendongak untuk menatap Wisnu ''mau kemana?''
''Besok adalah ulang tahun Marisa aku ingin kamu bantu aku untuk memilih kado untuknya. Aku rasa selama ini dia tidak terlaulu suka dengan kado yang aku berikan tapi berpura-pura suka untuk menghargai aku.''
Sela tersenyum melihat expresi wajah Wisnu. ''Memangnya kado apa yang biasa kamu berikan?''
''Ha...ha...ha'' Sela tidak mampu lagi menahan tawanya mendengar cerita Wisnu.
Wisnu sampai kesal di buatnya. ''Apanya yang lucu?''
''Mas Rendi aku ingin makan kue tart'' rengek Arumi sambil memeluk sebelah tangan Rendi.
Saat ini Rendi dan Arumi sedang berada di kantor Rendi. Awalnya Rendi enggan membawa Arumi namun karena Arumi terus merengek akhirnya Rendi mengiyakan Arumi ikut ke kantornya.
''Nanti aku suruh Alex untuk membelinya.''
''Tidak aku ingin kita yang pergi dan aku memilihnya sendiri.''
Rendi menghela napas dia mulai berpikir kalau Arumi sangat merepotkan. ''Baiklah sepulang kerja kita mampir ke toko kue.''
Arumi tersenyum bahagia ''terima kasih'' ucapnya sambil mencium pipi Rendi.
__ADS_1
''Ini aneh kenapa aku tidak merasakan apapun saat Arumi menciumku atau bermanja padaku, padahal dulu aku sempat begitu memikirkannya dan merindukannya tapi kenapa sekarang tidak, apa perasaanku pada Arumi hanya perasaan sesaat?''
Rendi memicit pelipisnya yang terasa berdenyut ''Sela dimana kamu? Apa kamu tidak merindukan aku? Apa kamu tidak berniat kembali padaku?'' pertanyaan-pertanyaan itu selalu terlintas di pikiran Rendi, meski dia sedang bersama Arumi.
Sela dan Wisnu sampai di toko mainan anak-anak. Sela langsung menuju rak yang berisi berbagai macam boneka berby. Sela mengambil satu kotak berby yang terdiri dari sepasang berby besar dan satu berby kecil. Dan Sela mengambil lagi satu kotak berby yang hanya berisi satu berby saja.
Wisnu yang merasa heran menghampiri Sela. ''Kenapa kamu memilih boneka berby? Bukankah tadi saat aku bilang aku membelikan boneka berby kamu menertawakan aku?''
''Kamu salah paham aku bukan tertawa karena itu, aku hanya lucu melihat wajahmu saat bercerita tadi.'' Sela meninggalkan wisnu yang terbengong.
Selesai dari toko mainan Sela dan wisnu pergi untuk membeli kue. ''Wisnu apa setiap ulang tahun Marisa selalu di rayakan di rumah?'' Tanya Sela saat mereka akan memasuki toko kue.
''Marisa tidak terlalu suka merayakan ulang tahunnya di luar. Katanya jika di rumah dia merasa mamanya ikut merayakan ulang tahunnya.''
''Kasihan Marisa dia pasti sangat merindukan mamanya.'' Sela jadi merasa sedih.
Wisnu mendorong pintu toko dan mempersilahkan Sela masuk.
Sela terkekeh di buatnya ''seperti tokomu saja'' komentarnya.
''Selamat datang tuan'' seorang pelayan toko buru-buru datang dan menghampiri mereka. Wisnu meletakkan jari telunjuknya di bibir mengisyaratkan agar pelayan toko itu diam, karena ternyata toko kue ini memang milik wisnu.
''Pilihlah yang mana yang menurutmu bagus''
''Hm'' Sela mengangguk dan melanjutkan langkakahnya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat sosok yang sangat dia kenal. ''Rendi'' gumamnya.
Sela ingin berbalik namun terlambat, Rendi sudah melihatnya. ''Sela!'' Rendi melepaskan rangkulan tangan Arumi dan mendekati Sela.
Tanpa berbicara apapun Rendi langsung memeluk tubuh Sela.
Sela benar-benar tidak berdaya. Rasa marahnya membuat dia ingin segera mendorong tubuh Rendi tapi rasa rindunya membuat dia tidak mampu melakukan itu.
Rendi mengurai pelukannya dan menangkup kedua pipi Sela, ''Sela ini benar kamu sayang, aku tidak bermimpikan?'' Rendi kembali memeluk tubuh Sela.
Wisnu memberi waktu untuk Sela dan Rendi, dia pergi menghampiri Arumi.
''Hai, apa kabar?'' Sapa Wisnu.
__ADS_1
Di luar dugaan, tubuh Arumi langsung bergetar.
''Mas Rendi'' teriaknya sebelum akhirnya kehilangan kesadaran dan ambruk ke lantai.