Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 72


__ADS_3

Rendi membawa pulang Arumi ke rumah yang pernah dia tempati bersama Sela.


Arumi merasa lega karena berpikir Rendi memaafkannya.


Rendi menghentikan mobilnya di depan rumahnya itu. Dia turun lalu membukakan pintu untuk Arumi, namun sama sekali tidak ada wajah lembut yang dia tunjukkan.


Dia meraih tangan Arumi dan menyeretnya turun.


''Aaawww Rendi pelan kamu menyakitiku.''


Rendi sama sekali tidak menghiraukan keluhan Arumi. Dia terus menyeret Arumi sampai di sebuah kamar yang berada di paling belakang rumahnya itu.


''Mulai sekarang kamu akan menghabiskan hari-harimu disini'' katanya sambil memasukkan arumi ke dalam kamar itu.


Rendi pun pergi meninggalkan Arumi yang sudah dia kunci di dalam kamar itu.


''Mas Rendi buka, masss, buka pintunya aku takut di sini.'' Teriak Arumi sambil menggedor-gedor pintu. Namun di abaikan oleh Rendi.


Wisnu membiarkan Sela melepaskan semua kekesalan hatinya. ''Sela apa sesulit itu untuk melepaskan Rendi?'' Batin Wisnu.


Sela menghapus air matanya dia sudah bertekat ini terakhir kalinya dia menangis karena Rendi. ''Wisnu kita pulang sekarang'' Sela keluar dari kafe itu tampa menoleh kebelakang.


''Sudah tertangkap?'' Tanya Rendi pada Alex melalui sambungan telpon.


''Sudah tuan, dan orang-orang kita sudah memasukkannya ke gudang yang berada di belakang pabrik lama kita.'' Jawab Alex.


''Bagus sekarang kamu bawalah Anisa ke rumahku.'' Baik tuan.


''Anisa ayo.''


''Hm'' mereka berdua pergi mengendarai mobil menuju rumah Rendi.


Tidak butuh waktu lama merekapun sampai di kediaman Rendi.

__ADS_1


''Tuan'' sapa Alex dan Anisa begitu memasuki rumah Rendi dan melihatnya sedang duduk sendiri di sofa.


''Duduklah, Anisa tolong rahasiakan semua ini dari Sela.'' Kata Rendi begitu Alex dan Anisa duduk.


''Tapi kenapa tuan? Apa tuan tau Sela sangat hancur melihat tuan tidak melakukan apa-apa pada Arumi dan terkesan memaafkannya begitu saja. Sela sangat berharap setelah semua ini terungkap kalian bisa memperbaiki segalanya dan kembali bersama. Jika dia mengetahui ini semua mungkin dia akan mempertimbangkan untuk kembali bersama anda.''


''Biarlah seperti ini, aku sudah terlalu malu pada Sela. Aku lelaki bodoh yang tidak pantas bersanding dengannya.'' Rendi menghela nafas, matanya memerah menahan bulir air mata yang mendesak ingin keluar.


''Kembalilah bekerja di sini, aku butuh kamu untuk mengawasi wanita kejam itu. Cukup pastikan dia tidak melukai calon anakku, selebihnya terserah kamu.''


Anisa jadi tidak tega melihat Rendi, dia bisa merasakan penyesalan yang begitu besar terlihat di wajah Rendi. ''Baiklah tuan'' jawabnya.


''Tuan ini Henpon milik Hans, aku mengambilnya saat memasukkannya ke gudang tadi.'' Alex menyerahkan sebuah Henpon kepada Rendi. Baru saja henpon itu di pegang oleh Rendi, henpon itu berdering, nama Arumi terpampang di layar henpon itu.


Rendi menggeser tombol hijau di layar henpon itu tapi tidak mengeluarkan suara sama sekali.


''Hans tolong aku Rendi mengurungku keluarkan aku dari sini.''


''Tut, tut, tut '' Rendi memutus begitu saja panggilan telpon itu.


''Anisa bisakah aku minta tolong satu hal lagi?''


''Apa itu tuan katakan saja.''


''Tolong kamu atur agar Sela ataupun Wisnu tidak melaporkan masalah ini pada polisi, aku tidak ingin anakku lahir di penjara. Setelah Arumi melahirkan aku sendiri yang akan memberi hukuman untuk wanita jahat seperti dia.''


Rendi menyandarkan tubuh lelahnya di sandaran kursi.


''Lalu tuan bagaimana dengan si Hans itu.'' Tanya Alex.


''Kurung saja dulu, biarkan saja dia menderita menanti hukuman yang sesungguhnya tiba.''


Anisa dan Alex pergi dari rumah Rendi.

__ADS_1


''Kasihan tuan Rendi dia pasti sangat dilema saat ini, jika menuruti hati mungkin saat ini dia ingin Arumi di penjara untuk memprtanggung jawabkan kesalahannya. Namun di satu sisi dia pasti takut nama baik keluarganya tercemar kalau sampai Arumi di penjara. Apa lagi sampai Penerus keluarga Adi Tama lahir di penjara.''


Alex menghela nafas, ''Sepertinya kehidupan tuan Rendi penuh dengan cobaan.


Wisnu mengajak Sela ke sebuah danau buatan di pinggiran kota. Mereka duduk di salah satu bangku yang di sediakan di sana.


''Sela apa rencanamu selanjutnya?'' Sela menatap Wisnu lalu mengalihkan pandangannya pada hamparan air danau yang ada di depannya.


Dia kemudian berjalan mendekati pinggiran danau dan berhenti tepat di tepi danau. Rambut Sela yang tergerai tertiup angin hingga menutupi sebagian wajahnya, Sela membiarkan saja. Dia kemudian menutup mata dan merasakan hembusan angin itu seperti membelai wajahnya dan mengisyaratkan dia untuk melepaskan segalanya.


''Wisnu aku sudah lelah dengan semua ini. Aku sudah tidak ingin lagi berurusan dengan Rendi maupun Arumi. Serahkan saja rekaman itu ke kantor polisi biar polisi yang menentukan hukuman untuk Arumi.''


''Sela apa kamu yakin ini sudah sesuai dengan yang ada di hatimu? Jika kamu ingin aku membalaskan sakit hatimu akan aku lakukan, aku pastikan baik Arumi maupun Rendi akan menyesal karena sudah menyakiti kamu.'' Kata Wisnu memberi pilihan.


''Tidak usah, seperti yang aku katakan aku sudah tidak ingin berurusan dengan mereka. Biarkan masalah ini jadi urusan polisi.''


''Bagaimana kalau kamu ikut aku kembali ke New Zeland dan memulai hidup baru disana. Nanti setelah sampai di sana kamu bisa mengikuti kursus desaen untuk mengembangkan kemampuan kamu dalam mendesaen.'' Tawar Wisnu.


Sela berbalik dan berjalan kembali ke bangku yang tadi ia duduki. Dia kembali duduk di samping Wisnu.


''Wisnu kamu taukan aku tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu, aku belum siap untuk membina hubungan apapun. Tolong jangan pernah menaruh harapan sekecil apapun padaku, aku takut kamu kecewa.''


Wisnu menarik tangan Sela dan menggenggamnya. ''Sela aku hargai apapun keputusanmu tapi aku mohon jangan menutup hati kamu seperti ini, kamu berhak bahagia dan satu hal yang harus kamu tau tidak semua pria berengsek seperti Rendi. Sebaiknya kita pulang Marisa pasti sudah menunggu kita.''


''Marisa'' Sela jadi teringat tentang janji yang sudah dia ingkari pada gadis kecil itu.


''Wisnu Marisa pasti marah padaku kan?'' Suara Sela terdengar sedih.


''Iya dia memang agak sedih tadi, tapi setelah aku jelaskan dia bisa mengerti dan katanya besok kamu harus mengantarnya kesekolah.''


Sebelum pulang Wisnu dan Sela membuat laporan ke kantor polisi, mereka menyerahkan bukti rekaman itu kepada polisi untuk memperkuat laporan mereka terhadap Arumi.


Selesai melaporkan Arumi ke kantor polisi Sela dan Wisnu pulang. Setelah sampai di rumah Wisnu Sela baru menyadari kalau henponnya tertinggal di kafe.

__ADS_1


''Wisnu sepertinya henponku tertinggal di kafe.'' Kata Sela sambil mengecek tasnya.


__ADS_2