Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 64


__ADS_3

''Tidak usah, lakukan perawatan yang terbaik dan paling mahal.'' Sela menyerahkan kembali katalok itu pada pekerja di salon itu.


''Anda sendiri nyonya ingin perawatan yang seperti apa?'' Saat pekerja salon itu bertanya bertepatan dengan Wisnu yang masuk ke dalam salon itu.


Sela melirik sekilas ke arah Wisnu, ''tentu saja yang terbaik dan termahal. Buat aku sangat cantik hari ini.'' Sela mengangkat sedikit dagunya memandang Wisnu denga angkuh.


'' Baiklah di hari sepesial anda ini, aku akan merubah anda jadi wanita yang paling cantik. Sehingga suami anda itu tidak akan berpalong sedikitpun.'' Di luar dugaan pekerja salon itu jurtru salah paham dengan ucapan Sela.


Wajah Sela sudah seperti tomat matang menahan rasa kesal dan malu. ''Apa maksud omonganmu? Dia itu hanya temanku, kami tidak punya hubungan apa-apa.'' ucapnya dengan nada sedikit meninggi.


''Maafkan saya nyonya, saya sudah salah paham.'' pekerja salon itu tidak berbicara apa-apa lagi dia fokus menyiapkan keperluan untuk perawatan kecantikan yang di minta Sela. Sedangkan Marisa sudah lebih dulu di layani.


Wisnu mendekat ke arah Sela, ''kalau kamu terus kesal seperti ini orang-orang akan berpikir kita ini oasangan yang sedang bertengkar.'' Kata Wisnu sambil berbisik.


Sela menyadari kesalahannya, dia menghela nafas dan pergi menuju ruang perawatan kecantikan.


Wisnu geleng kepala. ''Benar-benar unik.'' Wisnu pergi menuju kursi tunggu.


''Ada yang bisa saya bantu, tuan, nyonya? Tanya pekerja salon lainnya saat melihat sepasang suami istri berjalan masuk ke dalam salon itu.


Sang istri dengan perut besarnya sedang bergelayut manja di lengan sang suami. Ya mereka adalah Arumi dan Rendi.


''Berikan perawatan terbaik untukku, aku ingin terlihat sangat cantik saat menemani suamiku malam ini.''


''Baik nyonya, tentu saja.'' pekerja salon itu membawa Arumi masuk ke ruangan yang bersebelahan dengan Sela.


Mata Rendi menyepit saat melihat Wisnu yang tengah duduk santai sambil membaca koran.


''Kamu sedang apa di sini?'' Tanya Rendi sinis.


''Menemani putriku perawatan'' jawabnya acuh tak acuh.


''Kamu punya anak?'' Rendi sedikit kaget, karena di dalam bayangannya Wisnu itu masih sendiri.


''Tuan Rendi apa ada yang aneh seorang yang sudah menikah punya anak?''

__ADS_1


Rendi tidak menjawab, dia berjalan menuju kursi tunggu yang ada di sebelah Wisnu tapi jaraknya sedikit jauh. Dia mengambil sebuah koran dan membaca koran itu dengan cara membukanya lebar seolah sengaja ingin menutupi pandangannya agar tidak melihat Wisnu.


Wisnu yang melihat hal itu mengabaikannya saja, dia juga melanjutkan membaca koran yang memang sudah dia baca sejak tadi.


Tak berselang lama Piter datang ke salon itu mengantarkan baju yang di pesan Wisnu khusus dari disainer luar negri untuk Sela dan Marisa.


''Tuan ini gaun pesanan anda sudah tiba.'' Piter melwtakkan gaun itu di kursi sebelah Wisnu.


Rendi yang mendengar suara yang pamiliar di telinganya menurunkan korannya.


Baik Piter mau pun Rendi sama-sama terkejut.


''Kalian saling kenal? Tanya Rendi saat tersadar dari keterkejutannya.


''Ya, dia asisten pribadiku.'' Jawab Wisnu tanpa menutupi apapun.


''Jadi semua ini rencanamu, kamu sengaja memanipulasi surat perjanjian itu untuk membuat aku rugi, apa motifmu sebenarnya? Apa semua ini karena Sela?''


''Tidak juga. Aku hanya ingin membuktikan seberapa hebat Seorang Rendi Adi Tama pembisnis hebat yang namanya terkenal sampai ke luar negri. Tapi aku sedikit kecewa karena ternyata kamu hanya seorang pecundang bodoh yang gampang tertipu bahkan oleh seorang wanita.'' Ejek Wisnu.


''Baik tuan'' Piter mengambil gaun yang tadi di bawanya dan menyerahkannya pada pekerja salon itu.


Rendi yang emosi mendengarkan ejekan Wisnu mengepalkan kedua tangannya tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


''Nikmatilah kebodohanmu tuan Rendi.'' Sambung Wisnu sambil berjalan kembali ke kursinya.


''Pantas saja kami tidak menemui tuan Piter saat datang langsung ke perusahaan mereka, ternyata ini semua memang sudah di rencanakan. Tunggu saja pembalasanku.'' Batin Rendi. Kemudian dia juga kembali duduk.


''Papa'' seorang gadis kecil yang sudah di dandani dengan begitu cantik berlari ke arah Wisnu di ikuti dengan Sela di belakangnya yang juga terlihat sangat cantik dengan riasan natural dan pakaian rancangan disainer ternama kelas dunia.


Wisnu dan Rendi sama-sama terpana melihat kecantikan Sela. Bahkan Wisnu sampai tidak sadar kalau Marisa sudah berada tepat di depannya.


''Mama Sela sangat cantik ya?'' goda Marisa yang melihat papanya tidak memalingkan pandangannya sejak tadi dari Sela.


''Mama?'' Gumam Rendi.

__ADS_1


Namun di abaikan oleh Wisnu, dia berjalan ke arah Sela. ''Kamu sangat cantik'' puji Wisnu.


''Terima kasih'' kata Sela sambil melirik ke arah Rendi. Sebenarnya dia ingin sekali mendengar pujian itu dari Rendi. Tapi Sela tau itu sudah tidak mungkin lagi.


''Kenapa ada Rendi?'' Tanya Sela pelan dan hanya bisa di dengar Wisnu.


''Menemani istri.'' Bisiknya dengan sengaja sedikit mendekat ke telinga Sela.


Rendi terbakar cemburu melihat hal itu. Awalnya Rendi mengira dia sudah bisa melepaskan Sela, karena satu bulan terakhir ini hubungannya dengan Arumi sudah banyak kemajuan.


Tapi melihat Sela begitu dekat dengan pria lain Rendi begitu cemburu membuat dia sadar cintanya pada Sela sama sekali tidak berubah.


''Kita pergi sekarang!" Sela juga merasa cemburu mendengar Rendi menemani Arumi ke salon sementara Rendi belum pernah sekali pun menemaninya ke salon selama mereka menikah.


Sela berjalan keluar dari salon itu, Rendi mengejar dan menghentikannya. ''Sela'' Rendi meraih pergelangan tangan Sela.


Awalnya Sela membiarkan saja karena sejujurnya dia sangat merindukan Rendi walau logikanya mati-matian menyangkal namun kenyataannya hatinya sangat merindukan lelaki yang masih bersetatus suaminya itu. Dan karena itu pula hingga saat ini Sela belum juga melayangkan surat gugatan cerainya.


Namun suara Arumi menyadarkannya kalau Rendi bukan lagi miliknya. ''Mas Rendi'' panggil Arumi dengan suara sedikit sendu.


Rendi langsung melepaskan genggaman tangannya pada Sela.


Sela berlalu pergi meninggalkan Rendi dengan perasaan sedih. Dia semakin yakin memang tidak perlu memperjuangkan Rendi lagi.


Wisnu menyusul Sela dengan Marisa di gendongannya. Dia berhenti sejenak saat berada tepat di samping Rendi ''selamat karena telah menukar berlian dengan pecahan kaca.'' Wisnu melanjutkan langkahnya untuk menyusul Sela.


Sela, Wisnu dan Marisa sudah berada di dalam mobil dengan Piter yang mengemudi. Piter memang sejak tadi menunggu mereka di dalam mobil.


''Ingin berhenti di salon yang lain?'' tanya Wisnu.


''Untuk apa?'' Tanya Sela balik karena tidak mengerti.


''Untuk membenahi riasan siapa tau kamu ingin menangis.'' Kata Wisnu tanpa menoleh ke arah Sela.


''Kamu'' Sela menunjukkan wajah kesal.

__ADS_1


__ADS_2