
''Tuan, di depan ada tuan Rendi mencari anda.'' pembantu itu melapor pada tuannya
'' tuan Rendi sudah sampai?Kenapa tidak langsung di suruh masuk?''
''Anu, tuan Rendinya tidak mau, katanya anda saja yang ke luar.''
''anak muda sekarang aneh-aneh saja. Ya sudah aku akan kesana'' johan pergi menghampiri Rendi ke halaman rumahnya.
''Tuan Rendi anda sudah sampai?'' menjabat tangan.
''Maaf saya tidak menyambut anda tadi, mari silahkan masuk.'' Johan mempersilahkan Rendi masuk
''Tidak usah di sini saja. Pak Johan kenalkan ini asisten saya Alex.'' Alex mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Johan.
'' Senang berkenalan dengan anda.'' kata johan ramah
'' Tapi saya tidak senang.'' balas Alex datar
'' Apa maksud anda?'' Johan terlihat panik
''Apa anda tidak lihat wajah saya ini ha?''
'' Iya saya lihat tapi apa hubungannya dengan saya?''
''Dengan anda memang tidak ada, tapi dengan orang yang ada di dalam sana ada.'' Rendi yang menjawab sambil menunjuk ke arah mobil.
'Siapa?'' tanya Johan penasaran
''Lihat saja sendiri, dan tolong segera ke luarkan.'' Johan dan pembantunya melangkah mendekati mobil. Di bukanya pintu belakang mobil itu.
''Aldo?''
'' Ya, bukankah dia anakmu?'' nada bicara Rendi menunjukkan bahwa dia sedang sangat kesal.
''I...iya tuan Rendi, tapi apa yang sebenarnya terjadi?''
'' Kamu lihat gadis yang di depan itu? Dia kekasih saya dan anakmu sudah berani dengan lancang ingin melecehkannya.''
Seketika mata Sela membola mendengar ucapan dari Rendi. Dan sepontan mengangkat kepalanya. Namun ia tundukkan kembali saat matanya bertatapan dengan mata Rendi.
''Tapi bukankah gadis ini Sela? Bagai mana mungkin?'' Johan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Rendi
''kenapa? tidak percaya?''
''bu...bukan tuan, maksud saya selama ini Sela tidak pernah cerita kalau dia mengenal anda.''
''kenapa dia harus cerita kepada anda?
sudahlah bawa anakmu pergi dari mobilku dan jangan pernah mengganggu Sela lagi. Satu lagi saya tidak suka punya pegawai yang semena-mena pada orang lain, jadi tunggu surat pemecatan dari saya.
Rendi alex dan Sela pergi meninggalkan rumah pak Johan.
''Sela di mana rumahmu?''dua belokan dari sini ada warung dan rumah saya di sebelah warung itu.''
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama mereka tiba di depan rumah Sela. Rumah yang sangat kecil hanya ada satu kamar, sebuah ruang tamu dan dapur yang sangat kecil.
''Mari silahkan masuk.'' Rendi mengerutkan kening saat masuk kedalam rumah Sela.
''Kamu tinggal di sini?'' tanya Rendi tidak percaya
''Saya ini hanya pedangang kopi keliling, jadi saya hanya mampu menyewa rumah yang seperti ini saja. Maaf ya kalau kalian tidak nyaman.'' kata Sela yang mengerti kalau Rendi merasa tidak nyaman
''kalian duduk dulu ya, saya akan ambilkan obat untuk tuan Alex.''
'' Panggil Alex saja biar lebih akrab.'' kata Alex ''Baiklah tunggu sebentar ya.'' Sela berlalu pergi meninggalkan Rendi dan Alex
''Buuk'' Rendi menendang kaki Alex.
''Aww sakit tuan.'' Alex meringis sambil memenang kakinya
''Apa maksudmu biar lebih akrab ha?'' kesal Rendi
''Tidak ada maksud apa-apa, anda jangan salah paham.''
Sela datang membawa kotak obat. Dia duduk di sebelah Alex, Sela mengeluarkan salep anti memar dan ingin menoleskannya ke luka Alex.
Mendapat tatapan tajam dari Rendi membuat Alex jadi salah tingkah.'' Biar saya sendiri saja.''
''Tidak apa-apa biar saya obati, pasti susah kalau mengobati sendiri.
''Biarkan saja, Alex sudah biasa mandiri. Berikan saja cermin untuknya.'' ucap Rendi dengan santainya, sementara Alex menggerutu mendengar ucapan bosnya.
''Punya bos tidak berperasaan banget.'' ucapnya pelan
''Tidak ada'' Alex langsung mengambil obat dan cermin dari tangan Sela.
''Mau aku buatkan kopi?'' tawar Sela
''boleh juga.''
''Kalau begitu aku tinggal sebentar ya, sekalian mau ganti baju.''
Beberapa saat kemudian Sela keluar dengan membawa kopi di tangan kanannya dan di tangan kirinya memegang jas Rendi yang tadi dia pakai.
''Ini silahkan diminum kopinya. dan ini jas anda.
saya benar benar sangat berterima kasih. Jika tidak ada kalian saya tidak tau nasib saya.''
''Sudahlah tidak usah terlalu sungkan, kami hanya kebetulan lewat.'' ucap Rendi
''lalu sekarang apa rencanamu Sela?''
''entahlah aku tidak tau. Satu satunya jalanku untuk mencari rejeki sudah di hancurkan. Padahal itu saja hasil dari belas kasihan warga-warga sini, yang tidak tega melihat aku.jadi mereka menyumbangkan peralatan untuk berjualan kopi itu kapadaku.''
''Memangnya keluarga kamu kemana?'' tanya Rendi
''aku tidak punya keluarga. Aku di besarkan di panti asuhan. Dan setelah tamat SMA , aku memutuskan keluar dari panti. Lalu bagaimana dengan kalian, apa tujuan kalian datang ke sini?'' Sela berusaha mengalihkan pembicaraan dia selalu tidak nyaman jika ada yang menanyakan soal keluarganya.
__ADS_1
''sebenarnya kedatangan kami ke sini itu untuk melihat lahan untuk mengembangkan proyek baru di sini. Dan proyek itu nantinya akan di tangani oleh pak Johan. Tapi sepertinya aku berubah pikiran. Sebaiknya proyek baru ini aku serahkan kepada pak madi di lumajang saja.''
''Apa karena aku?'' tanya Sela merasa tidak enak
''tentu saja bukan, tapi memang melaui apa yang kamu alami membuat aku tau bagai mana kelakuan pak Johan dan keluarganya.''
Sementara di kediaman pak Johan. Pak Johan sedang marah besar kepada anaknya Aldo.
''Ini semua gara-gara kamu, papa di pecat dari pekerjaan. Dasar anak tidak tau diri hanya bisa bikin onar saja.''
''mana aku tau kalau Sela itu kekasihnya pak Rendi , aku juga tidak pernah melihat dia bersama pria itu.'' Aldo berusaha membela diri
''plak'' pak Johan menampar wajah Aldo. ''masih berani bicara kamu. Dasar tidak berguna!''
''Sudah pa, jangan emosi nanti jantung papa kumat.'' istri pak Johan memberi kode kepda anaknya agar segera pergi
''Mama selau saja memanjakan dia, lihat sekarang dia tidak tau apa-apa hanya bisa menghabiskan uang saja.'' keluh pak Johan.
''Sela kami pamit ya, mau kerumah pak kades. Kami akan menginap di sana malam ini.'' Rendi dan Alex berpamitan kepada Sela.
Sela mengantar Rendi dan Alex sampai depan pintu rumahnya. Sela tetap berdiri di sana sampai mobil yang di kendarai Rendi dan Alex tak terlihat lagi.
Sela masuk dia berbaring di atas kasur tempat tidurnya yang hanya muat untuk dia seorang.
''bagai mana ini? besok sudah harus bayar kontrakan tapi aku sama sekali tidak punya uang, mana tadi tidak jadi jualan, sekarang harus bagaimana?''
fikiran Sela terus menerawang memikirkan bagaimana nasibnya. Hingga akhirnya dia tertidur.
''Praaaakk....praaaakk.....praaaakk''
Sela terbangun karena ada seseorang yang memukul mukul pintu rumahnya.
''Siapasih pagi-pagi begini sudah nggedor rumah orang?'' kata Sela yang masih setengah sadar
Sela bangun dan menggulung rambutnya asal. Lalu keluar dari kamarnya untuk membuka pintu.
''klek'' Sela membuka pintu dan di sana sudah ada ibu pemilik kontrakan. ''Ibu?''
''iya, saya.''
''maaf bu, tapi saya belum punya uang untuk bayar kontrakan''
''sudah kamu tidak usah bayar cukup kemasi barang barang kamu dan pergi dari sini, karena akan ada orang lain yang akan menyewa di sini.''
''Tapi bu, saya mau kemana? Saya mohon bu jangan usir saya.''
''Bukan urusan saya kamu mau kemana. Lagi pula selama ini saya sudah sangat baik sama kamu. Kamu bayar kontrakan nunggak melulu. Sudah sana pergi!'' kata pemilik kontrakan yang sama sekali tidak memiliki rasa kasihan terhadap Sela.
Sela pergi sambil menenteng tas usang miliknya.
dia hanya bisa pasrah.
''ya Allah kenapa Kau memberi cobaan yang tidak ada habisnya padaku? Sekarang aku harus kemana?''
__ADS_1
Sela terus berjalan sambil sesekali mengusap air matanya.