
Rendi masuk ke rumah dengan kunci cadangan yang ia miliki. Rendi dan Sela memang masing-masing memegang kunci rumah mereka.
Hal itu dilakukan untuk memudahkan mereka memasuki rumah jika sedang tidak ada orang di rumah.
Rendi menghidupkan lampu di ruamg tamu dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Sela sedang tertidur di sofa. Rendi mendekat dan duduk di sebelah Sela. Di pandanginya wajah teduh istrinya yang terlihat sangat tenang dalam tidurnya.
''maafkan aku sayang'' mengecup pelan kening istrinya. Lalu dia menggendong tubuh Sela dengan hati-hati agar wanita yang merupakan istrinya itu tidak terbangun.
Rendi membaringkan tubuh Sela di atas ranjang setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai Rendi naik ke tenpat tidur namun dia tidak tidur Rendi duduk bersandar pada sandaran tempat tidur tepat di samping Sela.
''apa yang harus aku lakukan sekarang? Sela aku benar-benar bingung harus bagaimana, di satu sisi aku tidak bisa terima perbuan pak Yanto yang menyembunyikan tentang kondisimu yang sebenarnya namun aku juga tidak bisa menghilangkan rasa cintaku yang sudah terlanjur ada untuk Arumi. Sela apa kamu akan memaafkan aku jika tau tentang semua ini?''
Rendi berbicara sendiri sambil menghadap ke arah Sela yang dia yakin betul bahwa Sela tidak mendengar apapun yang dia ucapkan.
merasa sudah cukup mengantuk akhirnya Rendi membaringkan tubuhnya di samping Sela. Dia pun mulai tertidur dengan Sela yang ada di pelukannya.
''uh'' Sela melai menggeliat untuk mengendurkan syarap-syarapnya. Dia merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya.
Sela menunduk untuk melihatnya ternyata ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya.
''Rendi'' Sela kaget saat mendapati sang suami sudah tertidur disampingnya sambil memeluknya.
Kemudian Sela meraihnya jam yang terletak di atas nakas. ''astaga'' teriaknya saat melihat jam sudah menunjukkan jam 07.30 pagi.
''Rendi bangun sudah jam setengah delapan kamu bisa terlambat ke kantor'' Sela menggoyang-goyangkan tangan suaminya itu agar terbangun.
''ada apa sayang aku masih ngantuk.'' Rendi merasa malas untuk membuka mata, mungkin karena dia tidur terlalu larut malam tadi.
Melihat Rendi yang tidak juga membuka mata timbul ide jahil dalam pikiran Sela.
__ADS_1
Sela menundukkan kepalanya ke arah Rendi lalu setelah dirasa cukup dekat Sela langsung berteriak dengan kencang ''aaaa''
Rendi sepontan melompat mendengar teriakan Sela. ''sayang'' rajuknya pada sang istri.
Bukannya merasa bersalah Sela justru tertawa melihat expresi suaminya yang sedang kesal itu.
Sela mendekat dan mengalungkan tangannya di leher Rendi. Di kecupnya bibir suaminya sekilas. ''masih marah'' Rendi menggeleng.
''aku tidak marah hanya kaget'' Sela tersenyum dan kembali mencium suaminya itu.
''sayang tolong hentikan'' Sela mengedipkan mata dengan polos. ''kenapa?'' dia memang sengaja ingin menggoda suaminya.
Melihat tingkah menggemaskan istrinya, Rendi jadi semaki tidak bisa mengendalikan diri. ''kamu yang mulai ya sayang'' Rendi menggendong tubuh Sela dan membawanya ke dalam kamar mandi.
''Rendi turunkan aku, kamu bisa terlambat ke kantor'' Sela meronta di dalam gendongan Rendi. Tadinya dia hanya ingin menggoda suaminya, Sela yakin Rendi tidak akan melakukannya karena takut akan terlambat tidak di sangka Rendi benar benar melakukannya.
Sela keluar dari kamar mandi dengan wajah cemberut di ikuti dengan Rendi yang tertawa gemas melihat istrinya itu.
''Sayang kenapa cemberut? Bukankah kamu yang menggoda aku hem,''
''sudah jangan mengomel terus, apa kamu tidak merindukan aku?'' Rendi mendekap tubuh Sela dan mencium puncak kepalanya.
''tentu saja aku sangat merindukanmu, apalagi sekarang kamu sering sekali lembur, bahkan semalam aku tidak tau kamu pulang jam berapa. Tapi kamu itu seorang pemimpin tidak seharusnya memberi contoh buruk pada kariawanmu.''
''baiklah kalau begitu lain kali jika dalam keadaan seperti ini aku akan melakukannya dengan cepat.''
Sela melotot mendengar ucapan Rendi. ''sudah sana pergi kamu semakin ngawur'' Rendi terkekeh melihat wajah malu-malu istrinya.
''aku pergi ya sayang'' Rendi mengeluarkan benda pipih dari saku jasnya untuk menghubungi taksi onlaen.
''Rendi kenapa kamu memesan taksi?''
__ADS_1
''semalam aku menyuruh Alex membawa mobilku, dan tadi karena kesiangan aku meminta Alex untuk menggantikan aku miting hari ini.''
Sela memicingkan matanya ke arah Rendi.''jadi sebenarnya dari tadi kamu sengaja mengerjai aku?'' Sela mencubit perut Rendi gemas.
''aw...ampun sayang sakit.'' Rendi kembali memeluk tubuh Sela ''sayang maafkan aku karena belakangan ini aku kurang perhatian padamu, aku juga terlalu sibuk belakangan ini.''
Rendi mengurai pelukannya dan menatap wajah Sela. ''sayang bagaimana kalau akhir pekan ini kita liburan?'' Rendi merasa sangat bersalah kepada Sela dan dia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membahagiakan Sela.
''sayang bagaimana mau atau tidak?''
Sela terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi sementara Rendi belum juga sampai di rumah sakit untuk menjemput Arumi.
''pak, buk kita pulang saja tidak usah menunggu mas Rendi, aku rasa dia tidak akan datang''
Arumi yakin jika saat ini Rendi paati masih sangat kecewa padanya.
''kita tunggu sebentar lagi ya, ibuk yakin nak Rendi pasti datang, mungkin saat ini dia sedang terjebak macet.'' Erina mengusap lengan Arumi untuk menenangkan putrinya itu.
Erina mendekati suaminya dan berbisik agar tidak di dengar oleh Arumi. ''pak coba kamu telpon nak Rendi, tanyakan dia jadi menjemput atau tidak.''
Pak Yanto berjalan ingin ke luar dari ruangan itu, agar saat dia menelpon tidak di dengar oleh Arumi. Namun belum sempat dia mencapai pintu, pintu itu sudah di buka dari luar.
''selamat pagi semua, apa aku terlambat?'' ucap Rendi saat memasuki ruangan itu.
Rendi berjalan mendekat ke arah ranjang rawat Arumi, dia melewati pak Yanto begitu saja seolah-olah tidak ada orang di sana.
Erina bingung melihat sikab Rendi yang menurutnya sangat berbeda dari biasanya. Erina memang tidak tau tentang apa yang terjadi semalam karena baik pak Yanto maupun Arumi tidak ada yang mengatakan apa-apa.
''Arumi bagaimana keadaanmu?'' Rendi membelai puncak kepala Arumi. Walaupun sebenarnya dia masih marah tapi Rendi sadar semua ini bukan salah Arumi. Rendi juga masih ingat kata-kata dokter untuk tidak mambuat Arumi tertekan dan bersedih.
__ADS_1
''aku baik-baik saja, aku pikir mas Rendi tidak akan menjemput aku.'' Sela menunduk dia tidak berani menatap wsjah Rendi.
''jangan berpikir macam-macam itu tidak baik untuk kesehatanmu dan calon anak kita, ayo sekarang kita pulang.