Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 61


__ADS_3

Tubuh Sela menegang mendengar apa yang di katakan Anisa. ''Maksud kamu ada yang ingin membunuh kamu?'' Tanya Sela.


''Lebih tepat kita berdua.''


''Anisa jangan bercanda ini tidak lucu.'' Sela memaksakan senyum agar bisa lebih rilex.


''Sayangnya aku sedang tidak bercanda, tepat di hari kecelakaan itu saat mobilku sudah terlempar ke pinggir tebing dan tersangkut di batang pohon, aku berusaha sekuat tenanga untuk keluar dari mobil itu. Aku melompat ke luar dan bergelantunga di dinding tebing, untunglah ada bagian dinding tebing yang menonjol dan bisa aku jadikan pijakan. Saat aku masih menahan rasa sakit dan terengah-engah aku mendengar suara langkah kaki mendekat.'' Anisa menarik nafas tubuhnya masrih merinding setiap mengingat kejadian mengerikan itu.


''Aku merasa lega karena berfikir akan ada yang menolongku, tapi sebelum aku sempat berteriak aku mendengar dia sedang bertelponan dengan seseorang. Dia bilang, cantik semuanya beres, bagaimana apa kamu puas? Apa Sela? Tenang saja dia juga akan segera menyusul. Itulah yang aku dengar dari percakapan mereka. Setelah itu dia melempar sesuatu dan mobil tuan Rendi yang aku pakai itu langsung meledak.'' Jelas Anisa.


Sela terlihat begitu panik dia langsung teringat dengan kejadian yang pernah dia alami beberapa waktu lalu. ''Anisa apa jangan-jangan kejadian yang menimpaku hingga membuat Wisnu cidera waktu itu juga sebuah kesengajaan?'' Tanya Sela.


''Kejadian apa?''


''Waktu itu aku pergi bersama Wisnu untuk membeli kue ulang tahun untuk Marisa, saat kami akan pulang tiba-tiba ada sebuah motor spotr melaju kencang ke arahku dan ingin menabrakku, untungnya Wisnu melihat kejadian itu dan bergegas menolongku tapi naas malah dia yang terluka.''


''Papa pernah terluka, kenapa Marisa tidak tau?'' Marisa yang sejak tadi duduk diam sambil menikmati es krimnya ikut bicara. Membuat Sela tersadar dia telah kelepasan bicara di depan Marisa dan merasa tidak enak pada gadis kecil itu.


''Marisa maafkan mama Sela ya, waktu itu papa melarang mama Sela untuk memberi tahu Marisa, takut Marisa sedih sedangkan itu adalah hari ulang tahun Marisa. Tapi Marisa jangan sedih papa sudah sembuh dan sudah baik-baik saja. Marisa mau maafin mama Selakan?''


''Hm'' Marisa mengangguk dan melanjutkan makan es krimnya.


''Sela aku yakin apa yang terjadi padamu itu juga di sengaja. Memang ada yang ingin mencelakai kita. Apa kamu mencurigai seseorang?''


Sela berfikir sejenak lalu dia menggeleng ''aku sama sekali tidak punya musuh'' terangnya.


''Sela coba kamu fikirkan lagi, orang yang bertelponan saat itu menyebut cantik untuk lawan bicaranya, itu artinya dia pasti seorang wanita. Apa kamu tidak mencurigai seseorang?'' Tanyanya lagi.


''Maksud kamu orang ini adalah...''

__ADS_1


''Hm'' Anisa langsung mengangguk ''aku yakin pasti dia.''


''Tapi apa mungkin dia bisa setega itu sama aku, kami adalah sahabat baik sebelum ini. Dan kalau memang dia pelakunya apa motipnya? Kalau hanya karena Rendi, aku bahkan sudah melepaskannya dan sudah berniat ingin bercerai jadi kenapa dia masih ingin melukai kita?''


''itu yang harus kita cari tau.'' Kata Anisa.


''Lalu apa kamu sudah menceritakan ini pada Alex?'' Tanya Sela.


''Huh'' Anisa menghela nafas, ''Belum, lagi pula percuma aku katakan padanya, dia dan tuan Rendi sama saja. Sama-sama di butakan oleh ular betina itu.''


''Baiklah aku harus pergi sekarang, kamu harus hati-hati ceritakan ini pada tuan Wisnu agar dia bisa melindungimu.'' Pesan Anisa pada Sela.


''Anisa sekarang kamu tinggal di mana?''


''Di apartemennya Alex. Sudah ya lain waktu kita ketemu lagi, ingat pesanku tadi.'' Anisa pergi meninggalkan Sela dan Marisa di kafe itu.


Sela mengambil henponnya dan menghubungi Wisnu. Dia benar-benar khawatir dan tidak berani pulang. Apalagi saat ini ada Marisa bersamanya, dia takut Marisa ikut menjadi korban jika ada yang berniat menyakitinya.


''Sela kamu kenapa?'' Tanya Wisnu yang mendengar suara Sela sedikit bergetar seperti orang yang sedang ketakutan.


''Tolong jemput kami aku takut.'' Katanya lagi.


''Baiklah tunggu aku di sana.'' Wisnu memutus sambungan telpon dan bergegas menuju kafe yang di sebutkan Sela.


Begitu sambungan telpon dengan Sela terputus, telpon Wisnu kembali berdering. Itu adalah panggilan dari Piter.


Wisnu memasang heat seat ketelinganya untuk mengangkat panggilan dari Piter karena saat ini Wisnu sudah berada di dalam mobil.


''Halo Piter ada apa?'' Tanya Wisnu sambil menyetir.

__ADS_1


''Tuan sepertinya Tuan Rendi sudah menyadari ada kejanggalan mengenai surat perjanjian kerja sama itu. Dia ingin mengadakan pertemuan ulang untuk membahas masalah ini.''


''Turuti saja, memang ini yang aku inginkan. Aku ingin si Rendi itu menyadari betapa bodohnya dia.'' Jawab Wisnu santai.


''Ada satu lagi tuan, saya sudah menyelidiki pengendara sepeda motor yang ingin menabrak nyonya Sela, dia itu mantan calon tentara yang tidak lulus karena melakukan kecurangan. Saya juga sudah melihat rekaman cctv di sekitar tempat kejadian, dari remaman cctv itu terlihat jelas kalau kejadian itu di sengaja. Pengendara itu sudah ada di sana sebelum nyonya Sela berada di lokasi dan begitu melihat nyonya Sela pengendara itu langsung menjalankan sepada motornya dengan kecepan tinggi.'' Jelas Piter.


''Lalu apa pengemudi itu sudah di ketemukan?''


''Belum tuan, orang ini sangat pintar dalam bersembunyi, tapi saya sudah menungaskan orang-orang kita untuk terus memburunya.''


''Bagus, temukan dia secepatnya, aku yakin dia hanya orang suruhan. Aku ingin tau siapa dalang yang sebenarnya.'' Wisnu memutus sambungan telpon dan mempercepat laju mobilnya.


''Mama Sela apa benar-benar ada orang jahat yang ingin menyakiti mama Sela?''


Sela Meraih tubuh Marisa dan memangkunya.


''Mama Sela juga tidak tau sayang. Kita berdoa saja semoga orang-orang yang berniat jahat kepada kita segera di beri hidayah.'' Sela memeluk tubuh Marisa agar merasa lebih baik.


Beberapa saat kemudian Wisnu tiba di kafe tempat Sela dan Marisa berada.


''Papa'' teriak Marisa. Dia melompat dari pangkuan Sela dan berlari ke arah Wisnu.


''Hup'' Wisnu menangkap tubuh Marisa lalu menggendongnya. Kemudian berjalan untuk menghampiri Sela.


''Syukurlah kamu sudah sampai'' Sela bernafas lega.


''Ada apa sebenarnya, kenapa kamu terlihat cemas dan ketakutan?''


''Nanti saja kita bicara di rumah aku hanya ingin cepat pulang.'' Pinta Sela.

__ADS_1


Wisnu berjalan keluar dari kafe itu dengan menggendong Marisa dengan satu tangan dan tangan satunya dia gunakan untuk menggandeng tangan Sela. Sela tidak keberatan karena saat ini dia sedang sangat ketakutan.


Wisnu segera menjalankan mobil menuju rumah.


__ADS_2