Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 42


__ADS_3

''Mau bicara apa?'' Tanya wisnu


''Apa boleh aku tidak ikut? Aku merasa belum siap bertemu dengan Rendi atau keluarganya.''


''Sela aku tidak akan memaksa kalau memang kamu tidak nyaman, tapi mau sampai kapan kamu bersembunyi? Lagi pula harus ada ke jelasan antara hubungan kamu dan suamimu. Aku ini manusia normal aku tidak bisa jamin tidak jatuh cinta padamu kalau kita terus bersama dan aku tidak ingin mencintai istri orang!"


Mata Sela melotot mendengar ucapan Wisnu yang terlalu blak-blakan.


"Hanya bercanda, intinya kamu tidak boleh terus bersembunyi.'' Wisnu berlalu meninggalkan Sela menuju ruang makan.


Sela menggembungkan pipinya sambil berjalan mengikuti Wisnu. Sebenarnya dia belum siap kalau harus bertemu Rendi secepat ini, tapi apa yang di katakan Wisnu ada benarnya.


Mereka bertiga sudah duduk di meja makan dengan makanan masing-masing. Sela terlihat kurang bersemangat dan hanya mengaduk-aduk makanannya.


''Mama Sela tidak suka makanannya?'' Tanya Marisa yang melihat Sela hanya mengaduk-aduk makanannya.


''Suka kok.''


''Kalau suka kenapa tidak dimakan.'' Wisnu ikut menimpali.


''Jangan banyak pikiran, seperti pasti bertemu saja'' sindir Wisnu.


''Benar juga'' pikir Sela.


Sepanjang malam Arumi menahan rasa kesal di hatinya. Rendi memang menuruti kemauannya untuk tidur satu ranjang, namun sepanjang malam Rendi hanya membelakanginya.


Sementara pagi-pagi sekali Rendi sudah bangun dan bersiap untum pergi mencari Sela.


''Arumi kenapa belum bersiap, apa kamu tidak jadi ikut mencari Sela?''


Arumi memutar bola matanya. Ia sangat jengah melihat Rendi yang terus saja berharap Sela segera di temukan. ''Sela, Sela, Sela hanya itu yang ada di otakmu'' batinnya.


''Rendi ini bahkan masih jam tujuh pagi, apa tidak sebaiknya sebentar lagi? Kita bahkan belum sarapan.''


''Kita bisa sarapan di jalan, tapi kalau kamu tidak ingin ikut aku akan pergi sekarang.'' Rendi langsung berbalik ingin pergi


''Rendi, Rendi tungu aku ikut.'' Arumi langsung beranjak mengikuti Rendi.


Wisnu, Sela dan Marisa sudah sampai di sebuah pantai di pinggiran kota. Marisa terlihat sangat antusias melihat banyak keluarga yang juga berlibur ka pantai itu.

__ADS_1


Banyak anak seusianya yang berlarian dan ada juga yang bermain membuat istana pasir.


''Ma ayo cepat, Marisa mau membuat istana juga seperti itu.'' Tunjuk Marisa pada anak-anak yang sedang membuat istana pasir dengan orang tuanya.


Sela tersenyum melihat Marisa yang sangat senang saat berada di pantai. ''Hm, ayo kita buat istana yang besar.'' Kata Sela tak kalah semangat.


Saat Wisnu akan pergi dengan dengan mereka tiba-tiba ponselnya berdering. ''Kalian duluan papa angkat telpon dulu.''


Sela dan marisa pergi mencari posisi yang bagus untuk membuat istana pasir mereka setelah menemukannya, mereka mulai membuat istana pasir mereka.


Sela dan Mrisa terus bercanda dan tertawa bersama sambil membuat istana pasir. ''Marisa sangat suka pantai?'' Tanya Sela yang melihat gadis kecil itu sangat bahagia.


Marisa langsung menggeleng ''Marisa suka karena ada mama Sela, dulu kalau liburan ke pantai seperti ini Marisa hanya bersama papa dan kalau papa sedang ada pekerjaan seperti itu'' tunjuk Marisa pada Wisnu yang terlihat sibuk dengan ponselnya ''Marisa hanya akan bermain sendiri, sangat tidak menyenangkan.'' Keluh gadis kecil itu.


''Yee, selesai'' kata Marisa sambil melompat-lompat. ''Sudah selesai?'' Tanya Wisnu yang juga sudah selesai dengan urusannya.


''Papa lihat istana kami sangat cantik, mama Sela sangat pintar membuatnya.'' Puji Marisa.


Wisnu mengangguk. Dia ingat Sela memang pintar mendesain bentuk bangunan saat masih sekolah dulu.


''Ayo berpose, papa akan memfoto kalian bersama dengan istana pasir ini.''


Wisnu mengabadikan beberapa momen mereka saat di pantai itu.


''Alex kamu di mana aku sudah sampai di kafe.'' Anisa mengabari Alex melalui sambungan telpon.


''Baiklah aku segera kesana.'' Alex segera menghampiri Anisa begitu sampai di kafe tempat dia dan Anisa janjian.


Anisa melambaikan tangan saat melihat Alex memasuki kafe. ''Sudah lama?'' tanya Alex.


''Tidak, aku juga baru sampai''


''Sudah pesan?'' tanyanya lagi


Anisa hanya menggeleng. Alex melambaikan tangan memanggil pelayan kafe, pelayan kafe segera datang dan menyerahkan buku menu kepada Alex dan Anisa.


''Mau pesan apa?'' tanya Alex.


''Aku jus jeruk saja.''

__ADS_1


''Kenapa tidak pesan makanan.''


''Aku masih kenyang, kamu saja.''


''Baiklah jus jeruk satu dan kapucino satu.'' Alex menyerahkan kembali buku menu kepada pelayan kafe itu.


''Kenapa tidak pesan makanan juga?'' Tanya Anisa balik.


''Belum waktunya makan siang''


''Sangat disiplin'' sindir Anisa.


Alex terkekeh sambil menoel hidung Anisa karena gemas. ''Ingin bicara apa?''


Anisa sedikit ragu sebelum akhirnya berkata ''aku ingin pulang kampung, tidak ingin kerja lagi.''


''Tapi kenapa, Bukannya kamu suka bekerja di tempat tuan Rendi?'' Alex sedikit khawatir jika Anisa benar-benar pulang kampung, akan sulit bagi mereka untuk bertemu lagi.


''Itu dulu sekarang tidak lagi. Sudah tidak ada Sela aku tidak suka'' kata Anisa dengan cemberut.


''Bukankah masih ada nyonyo Arumi? Aku dengar dari tuan dia sudah tinggal di rumah tuan Rendi.''


''Hah, wanita ular itu'' kata Anisa sambil menggebrak meja hingga membuat mata pengunjung lain tertuju pada mereka. Anisa tidak perduli dan tetap melanjutkan ucapannya ''jika bukan karena tuan Rendi sudah aku tendang mukanya yang munafik itu.''


Alex memberi kode agar Anisa lebih tenang dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya. ''Anisa jaga sikapmu orang-orang memperhatikan kita. Lagi pula kenapa kamu semarah ini, apa masih cemburu karena masalah di Sura Baya?''


Anisa mengendus ''ini tidak ada hubungannya, nyonya Arumi itu bukan wanita yang baik aku tidak suka.''


''Anisa aku tau kamu menyayangi Sela, dia lebih dari seorang majikan bagimu, tapi jangan karena masalah ini kamu menganggap nyonya Arumi itu jahat, kamu tidak tau masalahnya dia sebenarnya juga korban di sini.''


Anisa kembali menggebrak meja ''kamu sejak tadi terus saja membela wanita ular itu, apa jangan-jangan sebenarnya kamu juga suka sama dia? Dasar menyebalkan'' Anisa meninggalkan kafe itu beserta Alex bahkan sebelum sempat meminum jus yang mereka pesan. Dia bahkan tidak menghiraukan mata orang-orang yang terus memandangnya.


Alex terkejut melihat sikap Anisa, dia tidak menyangka Anisa bisa sangat mengerikan bila sedang marah. ''Kenapa dia semarah itu?'' pikir alex.


''Anisa tunggu'' Alex bergegas mengejar Anisa tapi sayang dia kalah cepat. Anisa sudah keburu naik taksi.


''Sial'' kesal Alex.


''Rendi sudah berjam-jam kita mencari, apa tidak sebaiknya istirahat dulu, aku ingin es kelapa muda.'' Pinta Arumi.

__ADS_1


''Baiklah di depan sana ada pantai, biasanya banyak menjual es kelapa muda.''


__ADS_2