
''Benarkah? Ya sudah nanti aku akan hubungi menejer kafe itu agar dia menyuruh seseorang untuk mengantar henponmu kesini.
''Wisnu kenapa polisi itu menyuruh kamu menghapus rekaman di henponmu setelah mengirimkan ke henponnya?'' Tanya Sela yang tidak mengerti.
''Aku juga tidak tau, tapi aku khawatir ini ada campur tangan Rendi."
"Sampai segitunya dia melindungi Arumi" Terlihat raut kecewa di wajah Sela.
''Ini baru prediksiku saja belum tentu benar. Dan jika pun itu benar aku masih menyimpan salinan rekaman itu di komputerku.''
Wisnu berjalan ke arah lemari yang ada di ruang tamu itu. Dia berjongkok dan mengambil sebuah map dari dalam salah satu laci lemari itu.
Lalu dia kembali menghampiri Sela, ''ini adalah surat kepemilikan Marsela Super Mall, simpanlah'' Wisnu menyerahkan map itu kepada Sela.
''Wisnu ini terlalu berlebihan aku tidak berhak menerimanya simpamlah dan berikan kepada Marisa setelah dia besar nanti.'' Tolak Sela.
''Sela kita sudah pernah membahas ini, jadi tolong terimalah. Anggap ini kompensasi untuk menebus kesalahanku padamu, walaupun tidak sebanding tapi setidaknya bisa mengurangi sedikit rasa bersalahku.''
Sela menghela nafas, ''Wisnu aku benar-benar sudah memaafkanmu jadi tolong jangan ungkit lagi masalah itu lagi pula gaji yang engkau berikan untuk setiap hasil desaenku sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Satu hal lagi, mungkin besok aku akan mencari sebuah rumah atau apartemen, tidak baik kalau aku terus tinggal di sini.'' Sela mengembalikan map itu ketangan Wisnu.
''Baiklah aku yang akan menyimpan ini, tapi setiap bulannya aku akan mentranfer pendapatan yang menjadi bagianmu.''
''Terserah kamu saja, aku ke kamar Marisa dulu malam ini aku ingin tidur dengan dia.''
Merasa tidak akan menang jika berdebat dengan Wisnu Sela memilih pergi untuk mememui Marisa.
''Tok, tok, tok, Sela mengetuk pintu kamar Marisa.
''Marisa bileh mama Sela masuk?''
Marisa yang mendengar suara Sela gegas berlari menuju pintu untuk membukakannya.
__ADS_1
''Mama Sela'' Marisa langsung menubruk tubuh Sela.
Sela berjongkok lalu menggendong tubuh Marisa. ''Sedang apa?'' Tanyanya pada Marisa sambil masuk ke dalam kamar Marisa.
''Marisa ada PR dari sekolah, di suruh mewarnai bunga sama bu guru.'' Marisa turun dari gendongan Sela lalu mengambil gambar bunga yang sedang ia warnai dan menyerahkannya pada Sela.
''Lihatlah bagus tidak?''
Sela mengambil gambar yang di sodorkan Marisa padanya. ''Bagus, Marisa sangat pintar mewarnai. Bagaimana di sekolah tadi apa menyenangkan?''
''Hm'' Marisa mengangguk dengan cepat.
''Marisa maafkan mama Sela ya, karena tadi tidak jadi menemani kamu di hari pertama kamu sekolah.'' Sela sangat menyesal sudah mengutamakan masalah Rendi sampai mengabaikan janjinya pada Marisa.
''Tidak apa-apa, kata papa mama Sela sedang sibuk jadi tidak bisa menemani Marisa.''
Sela memeluk dan mencium pipi Marisa, ''kamu benar-benar pengertian.''
''Hm, kamu benar'' kata Sela.
''Karena sekarang Marisa sudah besar mama Sela akan bicara serius sama Marisa dan Marisa harus dengarkan mama Sela baik-baik.''
Sela menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. ''Marisa besok mama Sela akan pindah dari sini, mama Sela sudah punya uang untuk membeli rumah jadi tidak boleh menumpang di sini lagi.'' Sela menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Marisa, dan wajahnya terlihat agak sedih.
''Tapi kenapa mama Sela harus pindah, apa papa yang menyuruh?'' Tanya Marisa dengan wajah polosnya.
''Tentu saja tidak, tapi tapi seorang laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa tidak boleh tinggal satu rumah tanpa ada hubungan pernikahan. Sebelumnya mama Sela tidak punya rumah karena itu tetap menumpang di sini, sekarang mama Sela sudah punya uang untuk membeli rumah jadi sudah tidak boleh menumpang di sini lagi. Marisa pahamkan?''
''Kenapa mama Sela tidak menikah saja dengan papa biar bisa tinggal di sini?''
Sela terdiam dia tidak menyangka kalau Marisa akan menanyakan hal ini. Dia kembali menghela nafas.
__ADS_1
''Marisa menikah itu tidak bisa sembarangan semua itu di atur oleh Allah, jika mama Sela dan papa Wisnu berjodoh nantinya kami akan menikah.'' Kata Wisnu yang baru saja datang ke kamar Marisa. ''Untuk sekarang biarkan mama Sela tinggal di rumahnya sendiri dulu, nanti kita akan sering-sering main ke sana, dan jika Marisa ingin menginap sesekali juga boleh, iya kan Sela?''
''Tentu saja'' jawab Sela cepat. Dia merasa beruntung Wisnu datang tepat waktu untuk menyelamatkannya dari pertanyaan-pertanyaan Marisa yang tidak ada habisnya.
''Baiklah kalau begitu nanti Marisa akan berdoa setiap hari supaya mama Sela berjodoh dengan papa dan bisa segera kembali ke sini'' katanya dengan semangat.
Sela dan Wisnu saling pandang mereka tidak menyangka Marisa akan berpikiran seperti itu.
''Ya sudah sekarang ayo kita turun, bik Wati sudah menyiapkan makan malam untuk kita.''
''Anisa bagaimana?'' Tanya Alex.
Anisa menggeleng ''dia tidak menjawab panggilanku. Alex antarkan aku kerumah Wisnu sekarang, aku takut kita terlambat dan Sela sudah melaporkan kasus ini ke kantor polisi.'' Anisa terlihat cemas.
''Alex bagaimana jika itu terjadi?''
''Sudahlah tidak usah khawatir, sebenarnya tuan Rendi sudah memperhitungkan hal ini. Hanya saja Wisnu itu bukan orang sembarangan dia pasti curiga jika dalam satu minggu laporannya belum juga di proses dia pasti segera menyadari kalau ada campur tangan tuan Rendi di sana. Itu kenapa dia memintamu untuk membujuk Sela.''
''Lalu bagaimana kalau semua usaha kita sia-sia dan polisi tetap akan menangkap Arumi.'' Tanya Anisa lagi.
''Untuk sementara yang bisa di lakukan tuan Rendi adalah menyembunyikan nyonya Arumi. Sampai kamu berhasil membujuk nyonya Sela untuk mencabut laporannya kalau memang sudah terlanjur melapor.''
''Hm'' Anisa mengangguk paham.
Alex melajukan mobilnya untuk mengantarkan Anisa bertemu dengan Sela.
Sepanjang perjalanan Anisa hanya diam, dia berpikir alasan apa yang bisa dia gunakan untuk membujuk Sela, tanpa harus mengatakan yang sebenarnya tentang Rendi yang sesungguhnya sudah menyesal.
Rendi duduk diam di dalam kamar utama yang dulu dia tempati bersama Sela. Diraihnya salah satu Foto Sela yang masih terpajang rapi di kamar itu.
''Sela sedang apa kamu sekarang? Kamu pasti sangat membenci aku saat ini, tapi aku memang pantas mendapatkannya. Kamu tenang saja aku akan segera mengirimkan surat cerai padamu agar kamu bisa bahagia bersama lelaki yang memang pantas untukmu.'' Air mata Rendi mengalir begitu saja.
__ADS_1
Di belainya wajah Sela yang ada di dalam foto. ''Sela jika di beri ke sempatan untuk mengulang semuanya dari awal aku pasti tidak akan pernah melakukan ke bodohan ini lagi.'' Air matanya semakin deras mengalir, Rendi merosot turun dari tempat duduknya dia bersimpuh di lantai sambil memeluk foto Sela.