Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 45


__ADS_3

Alex masih diam sambil terus menatap rumah tempat Anisa baru saja keluar.


''Kenapa masih belum jalan, menunggu aku berubah pikiran?'' dengan wajah jutek Anisa terus mengomel berharap Alex segera menjalankan mobilnya.


''Jangan galak-galak nanti cepat tua'' Alex melajukan mobilnya meninggalkan area perumahan milik Wisnu.


''Huh, untunglah.'' gumam Anisa pelan, tapi ternyata masih terdengar oleh Alex.


''Apanya yang untung?'' Tanya Alex curiga.


''Untung bertemu kamu jadi hemat ongkos ke terminal.'' Anisa tersenyum menampakkan deretan giginya.


Alex memicing, ''siapa yang mau mengantar ke terminal?''


''Ya sudah kalau tidak mau, turunkan aku di sini!"


Alex tidak menghiraukan, dia tetap melajukan mobilnya.


''Yang tadi itu rumah siapa?''


''Mati aku, harus jawab rumah siapa?'' Batin Anisa.


''Tidak tau.'' Jawabnya asal.


Alex melirik Anisa sekilas ''jangan bohong!"


"Tidak bohong, tadi aku lihat rumahnya bagus jadi aku masuk siapa tau bisa kerja di situ.''


''Lalu?''


''Tidak ada lowongan, puas!'' Anisa memalingkan wajah agar Alex tidak bertanya lagi.


''Huh'' Alex menghela napas lega.


''Anisa lihat aku!'' Dengan malas Anisa menoleh ke arah Alex.


''Tolong jangan seperti ini lagi, jika ada masalah kita bicarakan baik-baik jangan main pergi begitu saja. Lagi pula aku tidak bermaksud membela nyonya Arumi, kenapa harus semarah ini sampai berhenti bekerja? Kan tidak enak sama tuan Rendi.''


''Jadi mas Alex berpikir aku berhenti bekerja karena masalah tadi siang'' tanya Anisa memastikan.


''Kalau bukan karena masalah tadi siang karena apa lagi?''


Anisa jadi kesal melihat kebodohan Alex.


''Kenapa tidak kamu tanyakan saja sama nyonya Arumi tersayangmu itu'' Anisa melipat kedua tangan di dada sambil memasang wajah cemberut.''

__ADS_1


Tanpa Anisa sadari Alex sudah membelokkan mobil ke sebuah apartemen.


''Eh tunggu, ini di mana?'' Anisa celingak-celinguk melihat ke kiri dan ke kanan.


''Ayo turun!"


"Tidak mau, katakan dulu ini di mana?'' Rajuknya.


''Apartemenku!" Alex turun dan membukakan pintu untuk Anisa.


Melihat Anisa yang hanya diam tanpa berniat untuk turun membuat Alex jadi kesal dan langsung menggendongnya.


"Aaaa" Anisa yang tidak siap terkejut saat Alex tiba-tiba menggendongnya dan replex melingkarkan tangannya di leher Alex.


Alex tersenyum puas dan pura-pura tidak melihat wajah marah Anisa. Dia terus berjalan membawa Anisa masuk kedalam apartemennya.


Anisa hanya bisa pasrah dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alex. Dia merasa malu takut ada penghuni apartemen lainnya yang melihat mereka.


''Masih betah aku gendong?'' tanya Alex saat mereka sudah ada di dalam apartemen namun Anisa masih belum melepaskan pelukan tangannya dari leher Alex.


Anisa yang baru tersadar jika mereka sudah berada di dalam apartemen langsung melompat turun dari gendongan Alex. ''Dasar'' meninju dada Alex.


Alex terkekeh melihat tingkah Anisa yang menurutnya sangat menggemaskan. ''Jangan marah lagi ya, aku minta maaf.''


Anisa mengangguk, ''aku tidak marah hanya sedikit kesal padamu yang tidak percaya kalau nyonya Arumi yang sekarang itu jauh berbeda.'' Keluh Anisa.


''Kenapa, bukankah saat tuan Rendi belum membawa nyonya Arumi kamu hanya tinggal berdua dengan tuan Rendi?''


''Buk'' satu tinjuan mendarat di dada Alex, membuat Alex sedikit meringis.


''Tentu saja berbeda aku dan tuan Rendi tidak memiliki perasaan apapun,'' sungutnya. Kemudian melanjutkan ''tidak mungkin khilaf'' dengan suara yang sangat pelan.


Alex benar-benar gemas dengan kekasihnya ini. ''Jangan khawatir kamu tidur di kamar dan aku disini.'' Menunjuk sofa yang ada di ruang tamu.


Wisnu menghampiri Sela yang sedang duduk termenung di teras.


''Aku rasa apa yang di katakan temanmu itu benar, kamu harus bisa memperjuangkan kebahagiaanmu.'' Wisnu duduk di kursi yang ada di sebelah Sela.


''Sela kamu itu wanita istimewa yang pantas di perjuangkan, jangan merasa rendah diri hanya karena tidak bisa punya anak.''


Air mata Sela kembali menetes. ''Semua ini sangat berat untukku, hatiku sakit aku ingin membalas semuanya tapi aku tidak mampu.''


Tangis Sela semakin kencang dan Wisnu membiarkannya agar beban batinnya sedikit berkurang.


Setelah menangis beberapa saat hati Sela terasa lebih lega. ''Sudah lebih baik'' Wisnu menyodorkan tisu untuk Sela.

__ADS_1


''Hm'' sela mengangguk.


''Sela bagaimana kalau kamu bekerja di perusahaanku sebagai perancang desain bagunan?''


''Ha..ha..ha..''


Sela yang baru saja menangis tiba-tiba tertawa mendengar ucapan Wisnu. ''Kamu gila ya?'' Sela melemparkan bungkus tisu yang ada di tangannya ke arah Wisnu.


''Sela aku serius dan aku tau kamu mampu!'' Kata Wisnu sungguh-sungguh.


''Wisnu jangan menilai aku terlalu tinggi, kamu taukan aku hanya lulusan SMA?''


''Memang kenapa kalau hanya lulusan SMA, apa kamu lupa bagaimana dengan aku?'' Wisnu balik bertanya.


''Hm, aku juga heran bagaimana kamu bisa sehebat ini sekarang. Apa setelah bebas dari penjara kamu melanjutkan sekolah?''


Sela segera menutup mulutnya karena merasa salah bicara.


''Tidak apa-apa di sini tidak ada Marisa'' jawab Wisnu santai.


''Setelah bebas dari penjara aku menjalani hari-hari yang sulit, kamu tau sendirikan aku juga sepertimu tidak memiliki orang tua dan di besarkan oleh pamanku.''


Wisnu tersenyum getir mengenang kebodohannya di masa lalu. ''Karena masalahku paman di pecat dari pekerjaannya dan bibi jadi sangat membenci aku. Setelah bebas bibi tidak mengijinkan aku tinggal di rumahnya lagi. Untuk bertahan hidup aku bekerja sebagai kuli panggul di dermaga.''


''Maaf'' Sela ikut sedih mendengar cerita Wisnu.


''Kenapa harus minta maaf itu akibat dari perbuatanku sendiri dan kamu korbannya harusnya kamu membenci aku bukannya malah minta maaf.''


''Lalu setelah itu bagaimana?''


''Allah masih sayang padaku, aku dipertemukan dengan Sopia almarhum istriku, saat itu dia kecopetan dan aku menolongnya. Sebagai ucapan terimakasih dia mempekerjakan aku di rumahnya dan mengajarkan aku banyak hal. Setelah itu dia menjadikan aku asisten peribadinya hingga akhirnya kami saling jatuh cinta dan menikah.''


''huh'' Wisnu menghembuskan napas tiba-tiba rasa rindu pada mendiang istrinya terasa begitu menyesak.


''Aku menceritakan segala hal pada Sopia termasuk tentang kau dan Arumi. Dan di saat terakhir kehidupannya dia berpesan agar aku meminta maaf secara langsung kepadamu dan Arumi, terutama kepadamu Sela.''


''Bolehkah aku nyekar ke makam mendiang istrimu?'' Dari cerita Wisnu Sela jadi sangat kagum dengan sosok mendiang istrinya.


''Jika ada kesempatan aku akan mengajakmu ke sana. Lalu bagai mana dengan tawaranku?''


Sela masih terlihat ragu untuk mengambil keputusan.


''Pikirkan saja dulu bila sudah punya jawaban beritahu aku.''


Malam telah berganti dengan pagi.

__ADS_1


Anisa bangun untuk membuat sarapan, saat melalui ruang tamu dia melihat Alex yang masih tertidur dengan posisi meringkuk seperti udang.


Anisa hanya geleng kepala dan berlalu menuju dapur.


__ADS_2