Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 47


__ADS_3

''Tuan saya sudah mengerjakan seperti yang anda perintahkan dan sepertinya mereka tertarik dengan proposal kerja sama yang kita kirimkan.'' Terang Piter asisten dari Wisnu.


''Bagus usahakan mereka setuju dan segera tanda tangan kontrak.''


''Baik tuan!''


''Piter tolong belikan sebuah henpon dan kirim kerumahku, katakan pada pengirimnya atas nama nyonya Sela.''


Piter sedikit heran mendengar perintah tuannya namun tidak membantah ''ada lagi tuan?''


''Tidak, kamu boleh pergi.'' Piter membungkuk lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


Sela dan Marisa masih asik menata kebun bunga mereka ketika bik Wati datang menghampiri ''nyonya Sela ini ada paket untuk anda''


''Paket? aku tidak memesan apapun mungkin salah orang bik.'' Sela masih melanjutkan kegiatan menanam bunganya.


''Tapi di sini tertulis nama anda nyonya.''


''Kalau begitu letakkan saja di meja itu'' tunjuk Sela pada meja yang berada di teras samping.


Bik Wati mengikuti intruksi Sela dan meletakkan paket itu di atas meja yang di tunjuk oleh Sela.


Setelah meletakkan paket itu bik Wati pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


''Sudah lelah'' tanya Sela sambil menghapus keringat yang ada di dahi Marisa dengan punggung tangannya.


''Belum cuma haus'' kata Marisa yang masih semangat menanam bunga.


''Kalau begitu kita lanjut besok lagi, sekarang kita mandi setelah itu mama Sela akan buatkan jus jeruk untuk kamu. Mau?''


''Hm'' Marisa menganguk, merekapun masuk kedalam rumah untuk membersih diri. Dan Sela melupakan paket yang tadi di bawa oleh bik Wati.


Sore harinya kira-kira pukul empat sore, Wisnu tiba dirumahnya. Sela dan Marisa sedang menggambar di ruang tamu.


''Papa'' teriak Marisa yang melihat Wisnu memasuki rumah. Anak itu langsung berlari ke arah Wisnu.


''Wisnu mengakat Marisa dengan satu tangan dan tangan lainnya menenteng sebuah paperbak kecil.


''Sela ini untukmu'' Wisnu menyerahkan paperbak kecil yang di bawanya kepada Sela.


''Apa ini'' Sela memperhatikan paperbak kecil yang ada di tangannya.


''Buka saja!" Wisnu mendudukkan Marisa di sofa lalu dia ikut duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Wisnu memperhatikan Sela yang sedang mengeluarkan isi paperbak pemberiannya.


''HP, tapi untuk apa?'' tanya Sela.


''Besok kamu sudah mulai bekerja, henpon itu akan memudahkanmu jika ada yang ingin kamu tanyakan padaku selama kamu bekerja dari rumah.''


''Wisnu, sebenarnya aku punya henpon jadi kamu tidak perlu repot-repot membelikan aku henpon.''


Sela memasukkan kembali henpon itu kedalam paperbak dan menyerahkannya kembali pada Wisnu.


''Aku tau kamu punya henpon tapi aku juga tau kamu tidak siap menggunakannya karena banyak kenangan bersama suamimu di sana, jadi jangan memaksakan diri. Lagi pula henpon itu tidak geratis, aku akan memotong dari gajimu setiap bulannya. Jadi jangan sungkan.''


Wisnu tau Sela tidak akan mau menerima henpon itu secara cuma-cuma jadi lebih baik membiarkan Sela mencicilnya.


Marisa duduk dengan tenang di sofa sambil mencoret-coret buku gambarnya. Wisnu memang selalu mengajarkan Marisa untuk tidak ikut serta dalam pembicaraan orang tua meskipun dia berada di situ


Sela merasa heran melihat Marisa yang hanya diam saja sejak tadi. ''Kenapa Marisa diam saja?'' Tanya Sela ''apa ada yang tidak nyaman?''


''Tidak'' Marisa menggelengkan kepalanya tanda dia tidak apa-apa. ''Papa dan mama Sela sedang bicara jadi Marisa tidak boleh mengganggu.''


Sela semakin gemas dengan Marisa, dia sungguh berbeda dari kebanyakan anak-anak yang selalu mengganggu saat orang tuanya berbicara.


Sela mengacak-acak rambur Marisa sangking gemasnya. ''Anak pintar'' ucapnya.


''Oh ya, sepertinya aku melupakan sesuatu. Wisnu apa kamu mengirim paket untukku siang tadi?'' Tanya Sela yang baru teringat dengan paket yang tadi di bawakan oleh bik Wati.


''Lalu itu paket dari siapa? Bukankah tidak ada yang tau aku berada di sini selain Anisa, sedangkan Anisa sudah pulang kampung jadi tidak mungkin dia yang mengirimi aku paket.'' ucap Sela yang berpikir Anisa sudah pulang kampung.


''Dimana paket itu?''


''Di teras samping.''


''Marisa tetap di sini oke, papa sama mama Sela pergi sebentar untuk melihat paket itu.''


''Hm'' Marisa mengangguk sambil terus mencoret-coret buku gambarnya.


Wisnu dan Sela pergi ke teras samping rumah Wisnu, untuk melihat apa isi dari paket itu.


''Apa ini paketnya?'' Tanya Wisnu sambil memegang bungkusan yang ada di atas meja di teras itu.


''Iya benar'' kata Sela.


Wisnu menbuka perlahan bungkusan peket itu.

__ADS_1


setelah bungkusnya di sobek terdapat kotak berwarna hitam di dalamnya. Kotak itu terlihat biasa saja dan terkesan ringan saat di angkat.


Kemudian Wisnu membuka penutup kotak itu, ia kaget dan ingin menjauhkannya agar tidak terlihat oleh Sela namun terlambat, Sela sudah melihat isi kotak itu dan langsung berteriak histeris sambil menutup mata dengan kedua tangannya.


Wisnu segera membuang kotak itu dan manarik Sela agar bersandar padanya. Wisnu menepuk-nepuk punggung Sela untuk menenangkannya.


''Sudah tidak apa-apa itu hanya tikus mati saja.''


Sela masih tidak bisa berkata apa-apa sangking syoknya.


''Ayo kita masuk'' Wisnu membawa tubuh Sela yang masih gemetaran masuk kedalam rumah.


''Tuan nyonya Sela kenapa?'' Tanya bik wati yang sedang menemani Marisa.


''Tidak apa-apa hanya terkejut, tolong ambilkan minum untuk Sela.''


Dengan cepat bik Wati pergi kedapur untuk mengambil minum.


''Marisa ke kamar dulu ya, bersihkan diri setelah itu kita makan malam.''


''Iya'' Marisa membereskan buku dan alat mewarnainya lalu pergi ke kamarnya tanpa membantah. Walaupun Marisa belum genap lima tahun tapi pemikirannya cukup dewasa.


Dia sudah bisa memahami kalau saat ini ada yang ingin di bicarakan Papanya yang tidak boleh dia dengar.


''Ini tuan'' bik Wati kembali dengan segelas air. Wisnu meraihnya dan memberikan kepada Sela. Sela langsung menenggak isi gelas itu hingga habis.


''Sudah lebih baik?'' tanya Wisnu.


''Hm'' Sela hanya mengangguk.


''Bik, apa tadi bibik yang menerima peket untuk Sela.''


''Iya tuan bibik yang menerima, memangnya kenapa tuan?'' Tanya bik Wati khawatir.


''Apa bibik mengenali pakaianya dari jasa pengantaran paket mana?''


''Tidak tuan, orang itu hanya memakai jaket hitam tanpa ada tanda pengenal.''


Wisnu menyepitkan matanya. ''Siapa orang ini dan apa motifnya'' batin Wisnu.


''Ya sudah bibik boleh pergi.'' Wisnu kemudian menoleh pada Sela.


''Jangan khawatir aku akan mengusut ini sampai tuntas dan akan menemukan dalangnya.''

__ADS_1


Arumi sedang makan malam dengan Rendi ketika henponnya berdering. Hanya titik tiga yang terpampang di layar henponnya sebagai kode dari pengganti untuk nama Hans.


Arumi meraih henponnya dan mematikan panggilan itu.


__ADS_2