
Dokter datang bersama pak yanto dan beberapa suster untuk melakukan pemeriksaan pada Arumi.
Dokter itu melakukan beberapa pemeriksaan terhadap Arumi. ''Nyonya Arumi sudah melewati masa kritisnya hanya tinggal pemulihan saja.'' Dokter itu menjelaskan pada pihak keluarga.
''Mas Rendi aku ingin bicara.'' Dengan suara yang sangat pelan Arumi memanggil Rendi.
''Sepertinya ada yang ingin mereka bicarakan, mari kita keluar'' Monika mengajak semua orang keluar dari ruangan itu meninggalkan Rendi dan Arumi.
Pak Yanto dan Erina terlihat khawatir, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain ikut keluar.
''Mas maafkan aku, aku menyesal. Kamu mau memaafkan aku kan?'' Arumi terlihat kesusahan untuk bicara. Melihat keadaan Arumi hati Rendi sedikit luluh.
''Istirahat saja jangan banyak bicara dulu.'' Rendi menggenggam tangan Arumi.
''Mas, waktuku tidak akan lama lagi, aku ingin bertemu dengan Sela.''
''Arumi jangan bicara sembarangan, dokter bilang kondisi kamu sudah melewati masa kritis kamu akan baik-baik saja. Sebaiknya kamu istirahat sekarang.'' Rendi menarik selimut untuk menutupi tubuh Arumi sampai batas dada.
''Aku mohon'' lirihnya.
Rendi menghela nafas lalu mengaluarkan henpon dari saku bajunya. ''Anisa aku butuh bantuanmu, tolong bawa Sela ke rumah sakit tempat Arumi di rawat.'' Rendi memutus sanbungan telpon setelah Anisa menyetujui permintaannya.
Anisa menghubungi Sela. Setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh Anisa, Sela pergi ke rumah sakit dengan di antar Wisnu.
''Mas apa kamu tau, dulu saat aku dan Sela masih SMA kami berteman baik tapi sebenarnya tidak, sejak awal hanya Sela yang menganggap aku temannya sementara aku masih selalu iri saat dia mendapat nilai bagus dan guru-guru selalu memujinya. Aku benar-benar jahatkan?''
Air mata Arumi jatuh mengalir di sudut matanya.
''Tapi saat melihat Sela hampir kehilangan nyawa karena aku membuat aku sadar kalau Sela benar-benar tulus padaku dan aku menyesal pernah merasa iri padanya dan tidak tulus dalam pertemanan kami, aku bersumpah di dalam hatiku mulai saat itu akan benar-benar tulus memperlakukan dia senagai temanku.'' Nafas Arumi sedikit tersengal membuat dia menarik nafas dalam seperti orang yang sesak nafas.
''Arumi tolong hentikan jangan bicara lagi'' Rendi sangat khawatir dan ingin pergi memanggil dokter tapi di hentikan oleh Arumi.
__ADS_1
''Aku tidak apa-apa.'' Dia meraih tangan Rendi yang ingin beranjak pergi.
''Sampai kita menikah, walau aku tau kamu tidak pernah menginginkan aku tapi aku yakin aku pasti bisa merebut hatimu. Tapi kenyataan berkata lain. Kenapa, kenapa harus Sela yang menjadi istri pertamamu?'' Arumi menutup matanya dengan lelah.
Dia kemudian melanjutkan ucapannya. ''Seiring berjalannya waktu melihat perhatianmu pada Sela rasa iriku padanya muncul lagi aku melupakan semua sumpah dan janjiku padanya.''
Arumi kembali tersengal kali ini bahkan lebih hebat. Rendi berlari ke luar ''pangil dokter, tolong panggil dokter'' teriaknya dengan panik.
''Rendi ada apa?'' Tanya Monika dan Erina bersamaan.
''Arumi ma, kondisinya memburuk'' Jawab Rendi.
Dokter segera datang untuk kembali memeriksa Arumi. Tak lama kemudian beberapa orang polisi tiba dan menghampiri Rendi.
Sela dan Wisnu juga tiba di sana.
''Saudara Rendi kami dari kepolisian membawa surat penangkapan untuk anda dan saudari Arumi.'' Kata para polisi itu.
''Apa maksud anda, atas dasar apa anda ingin menangkap anak dan menantu saya?.'' Bastian yang tidak tau apa-apa merasa tidak terima.
''Ada apa ini apa yang kalian sembunyikan?'' Bastian semakin penasaran.
''Tuan Bastian apa anda tidak tau kalau menantu ke sayangan anda itu hampir melenyapkan nyawa orang?'' Wisnu yang berbicara.
''Itu benar tuan kami membawa surat penangkapan untuk saudari Arumi atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap saudari Anisa dan saudari Sela.'' Polisi itu ikut menjelaskan.
''Lalu apa kesalahan anak saya Rendi?'' Tanya Bastian kemudian.
''Saudara Rendi di dunga menghalangi tugas polisi dengan menyembunyikan tersangka dan menyuap polisi.'' Jelas polisi itu lagi.
Seketika tubuh Bastian melemas dia terduduk di lantai kemudian tidak sadarkan diri.
__ADS_1
''Papa!'' Teriak Monika melihat suaminya tidak sadarkan diri.
Beberapa perawat bergegas datang dan membawa Bastian ke ruang ICU untuk mendapat pertolongan.
''Pak polisi tolong beri keringanan setidaknya sampai menantu saya selesai di tangani dokter.'' Monika memohon pada para polisi itu agar tidak membawa Rendi sekarang.
Para polisi itu setuju memberi keringanan tapi tidak meninggalkan rumah sakit itu mereka tetap menunggu di situ untuk memastikan Rendi tidak kabur.
Dokter yang menngani Arumi keluar dari ruangan Arumi.
''Dokter bagaimana keadaan istri saya?'' Tanya Rendi.
Dokter itu menggeleng dengan raut wajah yang sulit di artikan. ''Kondisi pasien kembali memburuk dan saat ini pasien ingin bertemu dengan suaminya dan seseorang yang bernama Sela. Jika orang itu ada di sini sebaiknya segera temui dia karena kami tidak bisa memastikan berapa lama saudari Arumi mampu bertahan.''
Tubuh Sela sedikit bergetar mendengar penuturan dokter itu. Walaupun Arumi sudah berbuat jahat padanya tapi jauh di dalam lubuk hatinya masih ada perasaan sedih mendengar kondisi Arumi yang sedang sekarat.
Sela dan Rendi berjalan memaruki ruang rawat Arumi. Terlihat Arumi yang sedang tergeletak di atas ranjang dengan kondisi menyedihkan, nafasnya tidak teratur membuat dia terengah-engah.
''Sela'' dengan susah payah Arumi mengeluarkan suara untuk memanggil Sela. Tangannya terulur seolah meminta Sela untuk menjabatnya.
Sela mendekat dan meraih tangan Arumi. ''Sela tolong maafkan aku'' katanya dengan suara tersendat sendat sembari mengulurkan tangan satunya ke arah Rendi.
Rendi meraih tangan Arumi. ''Sela, Rendi maukah kalian kembali rujuk, dan merawat anakku bersama? Aku mohon tolong sayangi dia, dia tidak bersalah. Maukah kalian berjanji?'' Arumi menyatukan tangan Rendi dan Sela.
Kemudian nafasnya kembali tersengal, matanya sampai melotot merasakan sakit yang luar biasa hingga keluar kata terakhir sebelum dia menghembuskan nafas terakhir dan menutup mata. ''berjanjilah.''
''Arumi, Arumi bangun'' tangis Sela seketika pecah. ''Kamu harus merawat sendiri anak kamu, dia butuh kamu, ayo bangunlah.''
Perasaan Sela tidak menentu dia tidak menyangka Arumi akan berakhir seperti ini. Jika boleh memilih dia akan lebih bahagia melihat Arumi di penjara, bukan harus kehilangan nyawa seperti sekarang ini.
Tangisan Sela membuat orang-orang yang berada di luar ruangan Arumi bergegas masuk ke dalam. Erina menjerit histeris melihat Arumi yang tergeletak tanpa bergerak sama sekali.
__ADS_1
''Apa yang kamu lakukan pada putriku?'' Erina mendorong tubuh Sela hingga mundur beberapa langkah dan hampir membentur meja. Untunglah Wisnu sigab dan langsung menangkap tubuh Sela.
''Pantas saja putri anda berpri laku buruk'' Katanya sambil membawa Sela pergi dari ruangan itu.