
Rendi begitu panik melihat Arumi yang jatuh pingsan Rendi menggendong tubuh Arumi untuk di bawa masuk ke dalam rumah.
sementara di ruang tempat pak Yanto dan Alex berada, Alex di buat pusing melawan pak Yanto bermain catur, yang ternyata adalah seorang master catur.
''hah, anak muda kemampuan seperti ini ingin melawan aku? Nyalimu sungguh besar. Ha...ha...ha.'' pak Yanto merasa sangat senang dan terhibur dengan kehadiran Alex. Walau setelah main sepuluh kali, belum pernah Alex menang sekalipun.
Wajah Alex semakin cemberut karena walau sudah berhasil mengalahkannya hingga sepuluh kali, namun pak Yanto belum ada niat untuk berhenti bermain.
''tuan sebenarnya bukan saya yang tidak pandai bermain catur, tapi memang keahlian saya belum cukup untuk melawan seorang master.'' Alex berharap bisa mengurangi sedikit rasa malunya.
''oke, berlatihlah untuk jadi lebih baik setelah itu baru menantang aku lagi.'' Alex kembali cemberut setelah mendengar ucapan pak Yanto.
''soal itu sebenarnya saya...'' ucapan Alex terhenti saat dia dan pak Yanto mendengar seseorang yang berteriak minta tolong.
''tolong...pak,..buk,...tolong saya'' Rendi berlari masuk kedalam rumah sambil berteriak minta tolong dengan Arumi yang masih pingsan ada dalam gendongannya.
''tuan itu sepertinya suara tuan Rendi'' Alex menajamkan pendengarannya untuk mendengar lebih jelas suara orang yang sedang minta tolong itu.
''hm, sepertinya kamu benar ayo kita lihat.'' pak Yanto dan Alex bergegas menghampiri Rendi untuk melihat apa yang terjadi.
Sementara Erina yang sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam pun ikut berlari untuk melihat apa yang terjadi.
''Arumi'' Erina begitu terkejut melihat Arumi terkulai tak sadarkan diri di gendongan Rendi.
''apa yang sebenarnya terjadi, kamu apakan anak saya?'' pak Yanto menarik kerah baju Rendi dan ingin melayangkan pukulan ke wajah Rendi.
''pak tenang dulu sebaiknya kita bawa Arumi dulu Arumi kerumah sakit.'' Erina berusaha menenangkan suaminya. Sebenarnya Erina juga sedikit takut karena selama menikah dengan pak Yanto Erina belum pernah melihatnya marah sampai hilang kendali separti ini.
''tuan ayo kita bawa ke mobil'' alex berjalan terlebih dahulu menuju ke mobil, di ikuti Rendi kemudian pak Yanto dan Erina.
__ADS_1
Setelah semuanya naik dan duduk dengan benar Alex segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
''nak Rendi sebenarnya apa yang terjadi.'' Erina membuka pembicaraan karena melihat suasana di mobil terlihat sangat canggung.
''saya juga tidak tau bu'' belum sempat Rendi melanjutkan ucapannya pak Yanto sudah menyela ''tidak tau, bukannya sejak tadi kalian bersama?''
Rendi kehilangan kata-kata. dia tidak tau bagaimana harus menjelaskannya kepada pak Yanto.
''pak sebaiknya kita dengarkan dulu penjelasan dari nak Rendi, nak Rendi coba kamu jelaskan pelan-pelan apa yang sebenarnya terjadi.''
Rendi menghela nafas sejenak untuk menghilangkan ke gugupannya.
''baiklah bu, tadi saya dan Arumi sedang berbicara di taman, saya meminta maaf kepada Arumi dan meminta dia untuk memberi saya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan saya.'' Rendi menjeda sejenak ucapannya lalu menarik nafas dan setelah itu melanjutkan ucapannya.
''namun Arumi tidak ingin memberi saya kesempatan dan pergi meninggalkan saya begitu saja.'' suara rendi menjadi sedikit pelan dan terlihat sedih.
''namun baru beberapa langkah Arumi meninggalkan saya, dia tiba-tiba jatuh pingsan.'' Rendi semakin terlihat sedih, hal ini membuat kemarahan pak Yanto sedikit mereda, namun dia masih enggan untuk menanggapi ucapan Rendi.
Rendi segera ke luar dari mobil dengan masih menggendong tubuh Arumi. Lalu terlihat beberapa orang perawat datang dengan mendorong sebuah berangkar dan meminta Rendi untuk meletakkan Arumi di sana.
Arumi segera di dorong oleh beberapa perawat untuk di bawa masuk ke ruang UGD.
Rendi, Alex, Erina, dan pak Yanto menunggu di depan ruangan dengan cemas.
Pak Yanto terus mondar-mandir di depan ruangan tempat Arumi sedang di tangani oleh lihak dokter. Sementara Rendi hanya duduk sambil terus menunduk. Entah apa yang dia pikirkan.
Hingga pintu ruangan itupun terbuka dan keluarlah seorang dokter dari sana. pak Yanto yang sejak tadi memang mondar-mandir di depan ruangan itu pun langsung menghampiri sang dokter.
''dokter bagaimana kondisi anak saya?'' tanyanya cemas.
__ADS_1
Rendi yang sejak tadi hanya menunduk akhirnya mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan pak Yanto kepada sang dokter. Dia pun segera beranjak dari duduknya dan menghampiri sang dokter.
''kondisi pasien baik-baik saja, tapi saya perlu bicara dengan suaminya.'' ucap sang dokter.
''saya suaminya dok, bagaimana keadaan istri saya dok?'' dokter wanita itupun tersenyum melihat kepanikan yang terlihat jelas di wajah Rendi. Padahal tadi dia itu sudah berkata bahwa pasien baik-baik saja.
"selamat ya pak istri anda positif hamil." Rendi justru terdiam tanpa reaksi. Otak seketika menjadi lamban dan tidak bisa mencerna ucapan dari dokter itu.
sementara pak Yanto dan Bu Erina sudah kegirangan dan saling berpelukan. Begitu juga dengan Alex dia ikut senang mendengar kabar bahagia ini.
Sementara dokter itu masih bingung dengan Rendi yang belum bereaksi juga.
"pak" dokter itu berusaha menyadarkan Rendi.
"dokter katan sekali lagi apa yang anda katakan tadi?" dokter itu mengerutkan kening namun masih menjawab pertanyaan Rendi.
"istri anda hamil pak" ucap dokter itu.
"hamil, Arumi hamil" dokter itu menganguk.
Rendi menoleh ke arah pak Yanto dan bu Erina. "pak, buk, kalian dengar itu Arumi hamil dan itu artinya kami tidak akan berceraikan?"
pak Yanto dan bu Erina mengangguk bersamaan.
"alhamdulillah" Rendi seketika bersujud di depan ruang pemeriksaan Arumi.
"ehm" dokter wanita itu berdehem untuk mengingatkan Rendi bahwa dia masih ada di situ.
"maaf dok saya terlalu bahagia" Rendi menggaruk kepalanya karena merasa malu.
__ADS_1
"begini pak, saya tidak tau apa yang terjadi antara anda dan istri anda tapi saya sarankan kalau ada masalah sebaiknya segera di selesaikan agar tidak mengganggu pikiran istri anda, karena kondisi wanita yang sedang hamil itu biasanya lebih sensitip, masalah sekecil apapun bisa menggangu pikirannya dan itu akan berdampak pada kondisi janinnya. Untuk saat ini kondisi istri anda baik-baik saja tapi sebaiknya di jaga jangan sampai mengalami pingsan lagi. Karena hal itu bisa berakibat buruk untuk ibu dan calon anaknya.''
''Baik dok saya akan lebih memperhatikan istri saya mulai saat ini" setelah selesai menjelaskan tentang kondisi Arumi dan memberikan resep obat dan vitamin yang harus di tebus di apotik. Dokter itupun mempersilahkan mereka untuk menemui Arumi dan pergi meninggalkan ruangan itu.