Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 54


__ADS_3

''Apa yang kamu lakukan? Tidak punya sopan santun. Apa tidak bisa kamu ketuk pintu dulu sebelum masuk kamar orang?''


''Hik, hik, hik..'' Anisa berpura-pura menangis padahal dia sudah menyiapkan alat perekam di saku bajunya.


''Maafkan saya nyonya tapi tadi saya sudah mengetuk pintu berulang kali tapi anda tidak menjawab, saya jadi khawatir dan memutuskan untuk langsung membuka pintu. Saya hanya takut terjadi sesuatu dengan anda apalagi saat ini anda sedang hamil.''


''Bohong, aku tau kamu sengaja kembali ke rumah ini untuk memata-matai akukan? Jawab!'' bentak Arumi.


'' Kamu pasti di suruh Sela agar dia bisa kembali ke rumah ini iyakan? Katakan padanya jangan pernah bermimpi. Sekarang keluar dari kamarku!''


Anisa keluar dari kamar Arumi dengan senyum di wajahnya. ''Kita lihat saja mas Alex apa kamu masih akan membela nyonyamu ini setelah melihat wajah aslinya.''


''klek'' Sela membuka pintu kamar Wisnu.


''Maaf'' Sela segera memalingkan wajahnya saat melihat Wisnu sedang berusaha membuka baju yang sedang di pakai dan terlihat kesusahan karena saat ini dia sedang menggunakan sebuah t-shirt.


''Perlu bantuan?''


''Sepertinya iya, tapi kalau kamu tidak nyaman aku minta tolong panggilkan bibik saja.''


Sela mendekat untuk membantu melepaskan t-shirt yang sedang di pakai Wisnu. ''Tidak apa-apa biar aku saja yang bantu.''


Saat pakaian Wisnu sudah terlepas, Sela bisa melihat luka lebam yang terlihat menghitam di punggung Wisnu.


''Pasti sangat sakit, maafkan aku harusnya aku yang mengalami ini.''


''Sela aku bosan mendengar kamu minta maaf. Ini sudah tidak terlalu sakit hanya masih terasa kalau aku mengangkat tangan, selebihnya sudah tidak sakit.''


Telpon seluler milik Wisnu berdering. Itu adalah panggilan masuk dari Piter. Wisnu yakin Piter pasti akan membahas hasil mitingnya dengan Rendi. Yang tentu saja belum saatnya di ketahui Sela. Untung Sela belum sempat menyadarinya karena Wisnu langsung memutus panggilan itu.


''Sela apa kamu sudah mulai menggambar desain pusat prerbelanjaan yang aku minta?''


''Sudah tapi baru selesai sebagian.''


''Bisakah aku melihatnya?''


''Tentu saja'' Sela keluar dari kamar Wisnu menuju kamarnya untuk mengambil desain pusat perbelanjaan yang sedang di kerjakannya.


Hal itu di manfaatkan Wisnu untuk menghubungi Piter kembali.

__ADS_1


''Bagaimana?''


''Berjalan sesuai rencana tuan.''


''Kerja bagus. Lanjutkan dan jangan sampai ada kesalahan.'' Wisnu langsung memutus panggilan itu Sebelum Sela kembali.


Sela kembali ke kamar Wisnu dengan selembar kertas di tangannya.


''Ini'' Sela menyerahkan kertas itu kepada Wisnu.


Wisnu sangat kagum dengan hasil desain Sela, ''Belum selesai saja sudah terlihat bagus, pasti tidak ada yang menyangka kalau desain ini milik seorang yang hanya lulusan SMA. Rendi kamu akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan Sela.'' Batinnya.


''Tidak bagus ya?'' Melihat Wisnu yang hanya diam Sela jadi merasa kalau hasil desainnya tidak bagus. ''Akukan sudah bilang kalau aku tidak mampu.''


''Hei, siapa yang bilang tidak bagus? Aku justru sangat tapjub dengan hasil desainmu ini, benar-benar di luar dugaan, hasilnya sangat bagus.''


''Apa ada yang ingin kamu tambahkan di sini?''


''Hm, di sini aku akan membuat toilet umum, karena menurutku dengan menyediakan toilet umum di luar pusat perbelanjaan akan lebih memudahkan pelanggan yang baru sampai dan ingin ke toilet. Dan di sini juga akan di lengkapi ruang tunggu khusus yang menyediakan berbagai buku, koran dan semacamnya atau mungkin bisa juga alat olah raga untuk para suami yang tidak suka menemani istrinya berkeliling saat berbelanja.''


''Ide yang sangat brilian. Sela aku memang tidak salah menilaimu.''


Sela tersipu mendengar pujian Wisnu.


''Mama ya aku harus segera menghubungi mama.'' Arumi kembali meraih henponnya untuk mencari kontak mertuanya.


''Halo Arumi, ada apa sayang?'' Tanya Monika dari sebrang sana.


''Tidak ada ma, aku hanya sedang bosan sendiri terus di rumah. Ma boleh Aku berkunjung ke rumah mama?'' Arumi sengaja membuat suaranya agar terdengar sedang bersedih.


''Arumi, kamu bicara apa? Tentu saja kamu boleh berkunjung ke sini kapanpun kamu mau.''


Arumi mengetik pesan untuk di kirim ke pada Rendi ''Mas Rendi aku ingin berkunjung ke rumah mama, apa boleh?''


Ting...sebuah notip balasan masuk ke henpon Arumi. ''Pergilah, nanti aku jemput.''


''Anisa'' teriak Arumi.


''Iya nyonya ada apa?'' Dengan cepat Anisa berlari menghampiri Arumi.

__ADS_1


''Keluarkan mobil, aku ingin ke rumah mama Monika.''


Kali ini Anisa tidak membantah, dia mengeluarkan mobil dan mengantarkan Arumi ke rumah orang tuanya Rendi.


Jarak rumah Rendi dan orang tuanya juga tidak terlalu jauh, hanya butuh sekitar 45 menit mereka sudah sampai.


''Anisa kamu boleh pulang, nanti aku akan di jemput oleh mas Rendi.''


Arumi melangkah masuk ke rumah mertuanya setelah menyuruh Anisa pulang. Sambil berjalajan Arumi mengetikkan sesuatu di henponnya. ''Target sudah bergerak menuju lokasi.'' Ting,....pesan terkirim.


''Arumi kamu sudah sampai sayang?'' Monika memeluk Arumi.


''Ayo duduk dulu, bagaimana calon cucu mama?''


Tanya Monika setelah Arumi duduk sambil mengusap perut Arumi yang sudah mulai terlihat.


''Kata dokter kondisi kandunganku baik, janinnya juga berkembang dengan baik.''


''Alhamdulillah, mama sangat senang memdengarnya. Apa ada yang sedang kamu inginkan mama akan membuatkannya untukmu.''


Arumi menggeleng, ''calon anak kami sangat baik aku tidak pernah ingin yang aneh-aneh'' lalu tiba-tiba Arumi teringat sesuatu.


''Emmm...tapi ma, entah kenapa beberapa hari ini aku sangat ingin tidur di kamar utama, tapi aku takut mas Rendi marah. Waktu itu aku pernah mengutarakan keinginanku, tapi mas Rendi bilang kamar itu milik Sela dan selamanya akan tetap milik Sela.'' Arumi menampakkan wajah sendunya di depan Monika.


Monika tampak terkejut, menurutnya Rendi sungguh keterlaluan. Bagaimana kalau ini merupakan keinginan dari calon anak mereka?


''Ini tidak bisa di biarkan'' pikirnya.


''Arumi kamu jangan khawatir malam ini kamu akan tidur di kamar itu.'' Tegas Monika.


Arumi langsung menghambur ke pelukan Monika. ''Terima kasih ya ma, mama sangat baik. Tapi ma bagaimana dengan mas Rendi?''


Monika mengusap puncak kepala Arumi. ''Soal Rendi biar mama yang urus.''


Arumi tersenyum penuh kemenangan. Tangannya mengusap-usap perutnya. ''Terima kasih sayang, kamu selalu bisa jadi senjata mama.'' batinnya.


Anisa melajukan mobilnya menuju kediaman Rendi. Di tengah jalan mobilnya di setop oleh seorang wanita yang sedang menggendong seorang anak.


Anisa menepikan mobilnya, wanita itu datang menghampirinya. ''Mbak bisakah anda mengantarkan saya pulang?'' Tanya wanita itu.

__ADS_1


''Memangnya kamu dari mana?'' Tanya Anisa balik.


''Tadi saya dari rumah sakit membawa anak saya berobat, dan uang saya sudah habis untuk biaya berobat anak saya. Saya sudah tidak punya uang lagi untuk membayar taxsi dan saya juga sudah tidak sanggup berjalan sambil menggendong anak saya ini.''


__ADS_2