
Rendi terduduk dengan lemas di kursi tunggu.
''Tuan maafkan saya, ini semua salah saya.'' Anisa datang menghampiri Rendi.
''Sudahlah ini bukan salahmu, mungkin ini karma untuk aku dan Arumi sebagai seorang suami dan sahabat kami sama-sama pernah berjanji untuk tidak mengkhianati Sela tapi kami melanggarnya.'' Rendi menghela nafas, dia merasa sangat lelah dengan semua yang terjadi.
Tak lama kemudian dokter kembali keluar, ''dokter bagaimana kondisi istri saya?'' Rendi kembali bertanya.
''Selamat ya pak anda telah menjadi seorang ayah dari seorang bayi laki-laki, kami berhasil mengeluarkan bayinya dengan selamat, meskipun prematur tapi kondisinya sangat baik, kita hanya perlu memantau perkembangan selanjutnya. Tapi untuk sementara dia harus tetap berada di dalam ingkubator.'' Terang dokter itu.
''Untuk istri anda kondisinya kurang baik, dia mengalami pendarahan hebat saat oprasi, walaupun sudah berhasil di hentikan tapi kondisinya kritis, kita berdoa saja semoga dia bisa segera melewati masa kritisnya.'' Dokter itu pergi setelah menjelaskan semuanya kepada Rendi.
Rendi masuk menghampiri Arumi yang tergeletak tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Suasana sunyi menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara alat yang menempel di tubuh Arumi.
''Arumi bertahanlah setidaknya untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan.'' Rendi sama sekali tidak pandai mengatakan kata-kata penghibur, setelah berbicara sebentar dengan Arumi yang belum sadarkan diri Rendi keluar untuk melihat anaknya.
Sebelumnya Rendi sudah mengabarkan hal ini pada Monika dan dia berkata akan segera datang setelah Bastian bangun.
''Sus, saya ingin melihat anak saya'' katanya pada seorang suster yang bertugas di ruang bayi.
''Baik tuan, ayo ikuti saya.'' Suster yang sudah mengenal Rendi itu membawanya ke ruang bayi khusus bayi prematur.
''Ini putra anda.'' Suster itu menunjukkan seorang bayi dengan ukuran tubuh yang sangat mungil sedang tertidur lelap dalam sebuah bok kaca.
Rendi menyentuh bok kaca itu seolah dia tengah mengusap wajah putranya.
''Sela lihat sekarang aku sudah punya anak, tapi apa artinya? Kalau dengan mendapatkan anak ini aku harus kehilangan segalanya.'' Rendi menghela nafas dengan berat. Dia berbalik lalu pergi.
__ADS_1
''Tuan apa anda tidak ingin memberi nama pada anak anda?'' tanya suster yang tadi mengantarkannya.
''Tidak, kalau suster ingin suster boleh memberinya nama'' Rendi pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh sedikit pun.
Suster itu tercengang mendengar jawaban Rendi, dia linglung untuk sejenak, ''sungguh malang nasib anak ini'' pikirnya.
''Rendi bagaimana kondisi Arumi dan anak kalian?'' Tanya Monika yang baru saja tiba bersama pak Yanto dan Erina.
''Kondisi Arumi masih kritis, kalau bayinya kondisinya baik tapi karena lahir prematur dia masih harus berada di ingkubator sampai dokter memperbolehkan di bawa pulang.
Monika sedikit tidak nyaman mendengar jawaban Rendi. Kata bayinya yang keluar dari mulut Rendi seolah menegaskan kalau Rendi tidak ingin mengakui bayi ini. Dia berjalan mendekati Rendi lalu duduk di sampingnya.
''Rendi seberat apapun masalah yang sedang kamu hadapi, tolong jangan kamu limpahkan pada anak kalian dia tidak berdosa.'' Monika menggenggam tangan putranya itu.
Seketika pertahanan Rendi runtuh, dia memeluk Monika dan menangis tersedu di pelukannya. ''Ma aku sangat lelah, aku kehilangan segalanya, kenapa, kenapa Tuhan harus menghukum aku seperti ini?'' Rendi terus terisak di pelukan Monika.
''Ma aku sudah merasa lebih baik aku ingin melihat Arumi dan cucu kita.'' Bastian memaksa ingin pergi ke rumah sakit walau Monika sudah berusaha mencegahnya.
''Wisnu apa kamu tidak merasa ada yang aneh? Kenapa sampai saat ini tidak ada berita penangkapan Arumi?'' Tanya Sela yang belum tau kabar tentang Arumi karena Rendi melarang Anisa memberi tau Sela.
''Kamu tenang saja aku sudah mengusut masalah ini, ternyata Rendi sudah menyuap polisi tempat kita melapor agar tidak memproses laporan kita. Dan sekarang polisi itu sudah diberhentikan secara tidak hormat, sudah ada polisi lain yang akan menangani laporan kita, aku pastikan Arumi akan mendapat hukuman atas kejahatannya.''
Sela merasa lega mendengar ucapan Wisnu. ''Syukurlah kalau begitu aku tidak perlu khawatir Arumi akan menyakiti aku lagi.''
''Sela apa tidak sebaiknya kita segera menikah, aku benar-benar khawatir membiarkan kamu tinggal sendiri di sini,'' Wisnu menatap Sela penuh hatap.
''Apanya yang sendiri? Bukannya orang suruhan kamu selalu berjaga di luar setiap hari?''
__ADS_1
Wisnu tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ''Kalau begitu aku pulang dulu'' Wisnu berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju mobilnya.
Seperti biasa sela akan mengantarnya sampai ke mobil dan menunggu sampai Wisnu benar-benar pergi.
''Beri aku waktu sedikit lagi untuk menyakinkan hatiku'' kata Sela pada Wisnu saat dia akan memasuki mobilnya.
''Hm, aku akan selalu sabar menantimu.'' Wisnu menghidupkan mesin mobilnya melambaikan tangannya lalu meninggalkan kediaman Sela.
Tepat sudah tiga hari Arumi tidak sadarkan diri di rumah sakit. Pak Yanto dan Erina terus berada di sana untuk menemani Arumi tapi tidak terlalu banyak bicara pada Rendi karena merasa malu atas kesalahan yang sudah di lakukan oleh Arumi.
Bastian juga akhirnya di ijinkan Monika ikut ke rumah sakit untuk pertama kalinya melihat cucunya.
Erina duduk di samping tempat tidur Arumi, ''bangun nak kamu harus kuat demi anak kamu, setelah kamu sembuh kita akan pulang ke desa, kita mulai hidup baru di sana, kamu lupakan Rendi lepaskan kebencian kamu pada Sela.'' Erina menangis sambil menggenggam tangan putrinya.
Erina yang sedang menangis sepontan diam saat merasakan tangan Arumi bergerak seperti ingin menggenggam tangannya juga.
''Arumi, kamu sudah sadar nak?'' Erina memandang wajah Arumi dengan seksama, benar saja dia melihat kelopak mata Arumi bergerak-gerak seperti ingin membuka mata.
''Dokter, dokter,'' Erina berlari keluar sambil berteriak memanggil dokter.
''Erina ada apa?'' Tanya Monika yang baru saja ke luar dari ruang bayi bersama Bastian dan Rendi.
''Arumi, dia sudah sadar.'' kata Erina dengan mata berbinar.
''Benarkah? Aku akan panggil dokter'' Pak Yanto yang sedari tadi duduk di depan ruangan itu segera pergi menemui dokter.
Rendi tidak menunjukkan reaksi apapun, wajahnya terlihat biasa-biasa saja. Berbeda dengan Bastian yang sedari tadi sudah sangat terharu dan bahagia melihat cucunya, terlihat sangat antusias dengan berita ini.
__ADS_1
''Ma lihat Tuhan masih sayang pada kita, di tengah ke sulitan yang kita hadapi Dia masih memberikan kebahagiaan untuk kita.'' Bastian yang belum tau tentang apa yang terjadi masih sangat menyayangi Arumi sebagai seorang menantu, baginya Arumi adalah menantu idaman.