
Sela membawa Wisnu masuk ke mobilnya ''Kamu bisa menyetir?'' tanya Sela yang melihat Wisnu hanya diam.
''Wisnu ada apa, apa kita naik taksi onlaen saja? Atau kita beli obat dulu untuk lukamu?'' Sela berfikir Wisnu diam karena masih merasakan sakit akibat pukulan Rendi.
''Maaf karena telah menghancurkan kebahagiaanmu, aku benar-benar menesal. Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku.''
''Jalankan mobilnya cepat sebelum Rendi menyusul ke sini. Itu yang perlu kamu lakukan!" Wisnu hanya bisa menuruti keinginan Sela dan menjalankan mobilnya.
Baik Sela maupun Wisnu hanya diam sepanjang perjalanan.
Rendi tiba di rumah mertuanya dan langsung di sambut oleh Arumi. ''Mas Rendi kamu sudah pulang? Kenapa tidak pernah menjawab telponku? Apa kamu tau aku sangat khawatir.'' Arumi langsung memberondong Rendi dengan banyak pertanyaan.
Rendi yang sedang kesal bertambah kesal jadinya.
''Arumi tolong, aku sedang sangat lelah!" Kata Rendi dengan nada membentak.
"Hik, hik, hik,'' Arumi langsung menangis karena di bentak. ''Maaf aku hanya khawatir karena kamu tidak memberi kabar sama sekali, aku takut terjadi sesuatu padamu.''
Rendi menghela nafas, dia berusaha meredam emosinya. ''maaf, aku tidak bermaksud membentakmu, aku hanya sedang emosi.''
Rendi mengajak Arumi masuk ke kamar. ''Arumi sebaiknya kita ke kamar, aku ingin bicara.''
Senyum Arumi langsung mengembang, dia langsung bergelayut manja di di tangan Rendi. ''Hm, ayo kita ke kamar.''
Begitu memasuki kamar Rendi, Rendi duduk dan menyenderkan tubuhnya di senderan tempat tidur.
Arumi mendekat, dia duduk tepat di sebelah Rendi. ''Sangat lelah?'' tanyanya sambil memijit bahu Rendi.
''Apa aku harus melepaskan Sela? Apa mungkin jodohku dengan Sela memang hanya sampai di sini?''
''Kenapa berbicara seperti itu? Rendi aku yakin saat ini Sela masih terbawa emosi, kita tunggu sampai emosinya mereda. Walaupun aku tidak yakin, karena sejauh yang aku ingat Sela sulit melupakan jika sudah sakit hati, tapi aku tau kamu sangat mencintai Sela jadi kamu harus bersabar. Kamu tenang saja jika ada kesempatan aku akan minta maaf dan menjelaskan semuanya, bila perlu aku akan bersujut agar dia memaafkan kita.''
Rendi meraih Arumi ke dalam pelukannya. ''Ini tidak sepadan jangan merendahkan dirimu, kamu tidak bersalah jika Sela ingin berpisah aku akan mengabulkannya.''
Arumi menjauhkan tubuhnya dari pelukan Rendi, dia menatap lekat wajah Rendi. ''Maaf ini semua karena aku.'' Arumi memasang wajah sedih.
__ADS_1
''Sudah aku bilang ini bukan salahmu, jadi berhentilah minta maaf'' Rendi kembali meraih Arumi ke dalam pelukannya. ''Bagaimana kondisi anak papa, baik-baik sajakan?'' Rendi mengelus perut Arumi yang sudah mulai membuncit.
''Aku menang! Kamu lihat Sela, Rendi hanya akan jadi milikku. Untuk kamu lihat saja, akan ada kejutan.'' Arumi tertawa dalam hati.
Mobil wisnu tiba di depan ke diamannya. Sela dan Wisnu turun dari mobil dan memasuki rumah. Tidak ada yang bicara di antara mereka berdua sejak dari rumah sakit.
''Wisnu ada apa denganmu, kenapa kamu mendiamkan aku begini, apa salahku?'' Sela menghentikan langkah Wisnu yang ingin meninggalkannya.
''Kamu bodoh atau bagaimana? Aku sudah menghancurkan kebahagiaanmu. Tidak seharusnya kamu bersikap seperti ini!"
"Lalu apa yang kamu ingin aku lakukan, marah-marah, memukulmu atau memenjarakan kamu lagi? Wisnu tidakkah kamu kasihan padaku? Aku sudah tidak punya siapa-siapa bahkan sejak dulu aku memang sudah tidak punya siapa-siapa. Apa tidak boleh aku berharap permintaan maafmu itu tulus?
Tidak bolehkah aku berharap kamu benar-benar menyesal dan bersedia membantuku?'' Sela terisak. ''Kenapa hidupku begitu malang?''
Wisnu memberanikan diri untuk memeluk Sela. ''Wisnu aku benar-benar sudah memaafkanmu dan menganggap kamu dan Marisa sebagai keluargaku. Apakah boleh?''
''Hm'' Wisnu mengangguk, dia tidak tau harus berkata apa. ''Sela kamu sangat bodoh!''
"Biarlah yang penting aku punya keluarga.'' jawabnya sambil terisak.
''Aku berjanji...''
''Sela, aku hanya ingin bilang aku berjanji membiarkanmu tetap bersama Marisa itu saja.''
Ke duanya sama-sama tertawa. Merasa konyol dengan permainan takdir yang membuat mereka saling terkait satu sama lain.
Waktu berjalan dengan cepat. Luka Anisa sudah sudah pulih dan sudah di perbolehkan pulang. Walau untuk berjalan masih harus menggunakan tongkat.
Anisa sudah ada di dalam mobil Alex, dia berencana membawa Anisa ke apartemennya untuk beristirahat sampai benar-benar pulih.
''Mas Alex, kamu bilang Sela ikut dalam proses pencarianku dan dia juga yang memberi petunjuk makanya aku bisa di temukan, tapi kenapa dia tidak pernah menjengukku sama sekali?''
Alex bingung harus menjelaskan apa karena memang dia juga tidak tau.
''Aku juga tidak tau kenapa, tapi aku khawatir semua ini karena tuan Rendi.''
__ADS_1
''Maksud kamu?''
''Entahlah aku juga tidak yakin mungkin karena nyonya Sela tidak ingin melihat tuan Rendi, tapi kalau di bilang seperti itu mereka sempat satu mobil saat mengikuti ambulans yang mengantar kamu ke rumah sakit. Ah entahlah'' Alex bingung sendiri.
''Aku ingin ketemu Sela.''
''Nanti saja kalau kondisimu sudah lebih baik. Lihat dirimu sekarang berdiri saja tidak bisa tegak.'' ejek Alex.
''Buk'' Anisa meninju bahu Alex, namun justru membuat Anisa meringis karena luka di bahunya belum sembub total.
''Dasar ceroboh, bagaimana kalau lukanya berdarah kembali?''
Anisa tidak menjawab dia malah memalingkan wajahnya ke arah luar kaca mobil.
''Alex bagaimana kalau kecelakaanku kemarin adalah sebuah kesengajaan.'' Tanya Anisa tiba-tiba.
''Apa maksud kamu, apa ada yang ingin mencelakai kamu?''
''Alex aku hanya bilang seandainya.'' jawab Anisa tanpa menoleh ke Alex.
''Kamu tau Anisa seandainya kecelakaan itu di sengaja, aku akan mencari pelakunya sampai ketemu.''
''Lalu seandainya aku bilang pelakunya nyonya Arumi bagaimana?'' Wajah Alex menengang, ''Anisa tolong jangan main-main, ini tidak lucu.''
''Dasar, aku hanya bilang seandainya kamu sudah begitu panik, apa nyonya Arumi begitu baik di matamu?'' batin Anisa.
Anisa tidak lagi berbicara dia memilih diam sampai mobil memasuki area parkir apartemen Alex.
Alex membukakan pintu dan membantu Anisa turun dari mobil. ''Butuh aku gendong?'' tawar Alex.
''Biar pincang kakiku ini masah bisa di pergunakan, jadi jangan coba-coba.''
Alex terkekeh. ''Ternyata sudah kembali galak.''
Setelah kejadian di rumah sakit Sela tidak pernah keluar dari rumah Wisnu. Dia memilih fokus untuk menyiapkan desaen pusat perbelanjaan yang sedang di kerjakannya. ''Akhirnya selesai juga'' gumamnya.
__ADS_1
''Tok, tok, tok'' terdengar suara ketukan di pintu kamar Sela. ''masuk saja tidak di kunci.'' teriak Sela dari dalam kamar.
''Klek'' pintu kamar Sela terbuka memperlihatkan sebuah kepala kecil menyembul dari balik pintu ''apakah mama Sela sibuk?'' Tanya Marisa yang hanya memperlihatkan kepalanya saja.