
''jadi karena itu kamu jadi bersikap aneh?'' Sela menganguk dengan lesu.
''Sela maaf, bukan maksud untuk mengguruimu, tapi menurutku setiap kita melakukan segala sesuatu kita pasti punya alasan mengapa melakukannya. Aku harap apapun yang terjadi antara kamu dan tuan Rendi, jangan pernah mengambil keputusan sebelum mengetahui alasannya.''
Sela sedikit bingung mendengar ucapan Anisa. Kenapa semua orang tiba-tiba menjadi aneh ''batinya.''
''Sela apa kamu ingin makan sesuatu? Jika ia katakan, biar aku siapkan.''
''tidak, aku ingin tidur saja tubuhku lelah sekali.'' Sela masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang.
''kenapa hatiku sangat tidak enak, padahal tadi jelas-jelas aku melihat Rendi memang ke kantor, dia tidak membohongi aku, tapi kenapa hatiku masih tidak nyaman.'' Sela memilih menutup mata agar dia bisa tertidur dari pada terus berpikir yang tidak-tidak.
Rendi sampai di rumah sakit. Dia langsung menuju ke resepsionis rumah sakit. ''permisi pasien atas nama Arumi atmaja di rawat di ruangan mana?'' tanya Rendi pada sang resepsionis
''maaf kalau boleh tau anda ini siapanya?''
''saya suaminya''
''baiklah kalau begitu saya cek dulu'' serepsionis itu langsung mengecek nama Arumi seperti yang di minta oleh Rendi
''nyonya Arumi ada di ruang VVIP di lantai dua tuan.''
Rendi langsung pergi menuju ke ruangan Arumi.
Saat sampai di depan ruangan Arumi Rendi melihat di sana ada ke dua orang tuanya dan juga orang tua Arumi. Rendi langsung menghampiri mereka
''pa, ma apa yang sebenarnya terjadi?''
''plak'' sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Rendi yang di berikan oleh Bastian.
''dasar tidak berguna, bisa-bisanya kamu pergi berlibur bahkan saat kondisi Arumi sedang kurang baik, apa kamu sengaja ingin Arumi tertekan dan kehilangan bayinya. Rendi walaupun kamu tidak mencintai Arumi tapi anak yang sedang dia kandung itu anakmu, tidak bisakah kamu sedikit perduli?''
Rendi hanya diam mendengarkan perkataan Bastian, dia terlalu malas meladeni papanya itu. Untuk saat ini yang Rendi inginkan hanyalah melihat Arumi.
__ADS_1
''pa sudahlah, jangan marah-marah terus sebaiknya biarkan Rendi masuk dan melihat Arumi.'' Monika memberi kode pada Rendi agar dia segera masuk untuk melihat Arumi
Rendi masuk ke ruangan Arumi di sana Arumi sedang berbaring di ranjang rumah sakit namun tidak tidur.
Arumi menoleh ke arah Rendi yang sedang berjalan mendekatinya.
''bagaimana ke adaanmu, kenapa tidak tidur?''
Rendi menarik sebuah kursi untuk dia duduki. ''maaf'' Rendi menggenggam tangan Arumi
''aku yang harusnya minta maaf karena sudah merepotkan mas Rendi, dan membuat mas Rendi terpaksa harus pulang padahal sedang liburan bersama Sela.'' terdengar nada sedih dari ucapan Arumi
''Arumi tolong jangan salah paham, aku mengajak Sela liburan karena aku ingin membahagiaannya sebelum aku akan pokus dan meluangkan waktu lebih banyak untukmu di masa kehamilanmu ini.''
Wajah Arumi masih terlihat sedih. ''Kenapa sejak awal mas tidak jujur saja kalau ingin pergi liburan dengan Sela?''
Rendi menghela nafas berat. Dia juga tidak tau bagaimana harus menjelaskannya, karena memang saat itu Rendi sedang kecewa dengan Arumi. ''maaf'' hanya kata itu yang keluar dari mulut Rendi
''sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai seperti ini?''
''kemarin bapak sama ibuk mengikuti saran dokter untuk membawa aku berlibur agar bisa lebih rilex dan tidak setres dalam menjalani kehamilan ini, Lalu kami pergi ke pantai.'' Arumi memenghentikan ucapannya lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
''kenapa berhenti?'' tanya Rendi
''maaf mas, tapi sungguh ini bukan aku sengaja tapi sejak tau aku hamil, aku selalu saja merindukan mas dan ingin mas ada di sampingku. Dan semalam saat kami sedang di pantai aku tanpa sengaja mendengar pembicaraan papa sama mama, papa bilang kalau kamu sedang berlibur dengan Sela. Tiba-tiba hatiku menjadi sangat sakit, aku benar-benar iri dengan Sela.'' air mata Arumi mengalir begitu saja.
''aku tidak tau apa yang aku lakukan aku berjalan begitu saja ke arah pantai lalu ada seorang anak kecil yang sedang berlarian dan tampa sengaja menabrak aku. Aku jatuh ke pantai dan terseret ombak. Setelah itu aku tidak tau lagi dan saat sadar aku sudah di sini. Tapi mas kata dokter calon anak kita tidak apa-apa, dia baik-baik saja.''
''dasar bodoh'' Rendi mengusap kepala Arumi '' yang terpenting kamu harus baikbaik saja.''
Hati Arumi menghangat mendengar ucapan Rendi. ''bisakah mas tidur di samping aku malam ini?''
Rendi naik ke atas ranjang dan berbaring di sebela Arumi ditariknya tubuh Arumi agar lebih dekat dan langsung di dekapnya. ''tidurlah'' bisiknya di telinga Arumi
__ADS_1
Ke esokan paginya Sela terbangun dengan lingkar hitam di matanya. Meski sudah berusaha untuk memejamkan mata, namun rasa tidak nyaman di hati Sela membuat rasa kantuknya tak kunjung datang hingga dia baru bisa tertidur setelah subuh.
Setelah selesai membersihkan diri Sela ke luar dari kamarnya. ''Anisa....Anisa....di mana kamu?''
''ya Sela ada apa?'' jawab Anisa yang baru ke luar dari dapur
''ayo temani aku berbelanja, aku bosan''
''baiklah aku ganti baju dulu'' Anisa segera pergi untuk mengganti pakaiannya tak butuh waktu lama Anisa sudah kembali menghampiri Sela.
Kedua wanita itu segera pergi. ''kita mau belanja kemana?'' tanya Anisa membuka obrolan, karena sejak tadi Sela hanya diam saja.
''Aku dengar ada pusat perbelanjaan yang baru buka tidak jauh dari area perkantoran Rendi, kita ke sana saja''
Anisa segera melajukan mobilnya ke tempat yang di maksud oleh Sela.
Sesampainya di sana ke dua wanita itu langsung turun untuk mencari barang-barang yang mereka butuhkan. ''Anisa apa kamu ingin membeli sesuatu juga?''
''Lihat nanti saja''
Sela dan Anisa berkeliling di moll itu. Terlihat troli yang sedang di dorong oleh Sela sudah hampir penuh dengan barang belanjaan.
Tapi saat mereka ingin melanjutkan berbelanja, langkah Sela terhenti karena melihat ada orang yang sedang berkerumun seperti terjadi sesuatu. Sela dan Anisa mendekat ke kerumunan itu untuk melihat apa yang terjadi
''permisi nyonya apa yang terjadi'' sanya Sela pada salah seorang wanita yang ada di kerumunan itu.
''wanita itu sepertinya akan melahirkan'' katanya kepada Sela sambil menunjuk ke arah seorang wanita yang sedang merintih kesakitan sambil memengang perutnya.
Sela segera menghampiri wanita itu ''sebaiknya kita bawa ke rumah sakit'' kata Sela sambil memapah wanita itu.
''Anisa bantu aku''
Akhirnya wanita itu di naikkan ke mobil Sela, lalu Anisa segera bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
__ADS_1