
mobil yang dikendarai mobil yang di kendarai Alex kini tlah tiba di depan rumah milik Rendi.
dengan perasaan lelah ke empatnya turun dari mobil dan memasuki rumah.
Begitu memasuki rumah, tanpa basa basi Sela langsung meminta nomor telpon Arumi kepada Alex.
''Alex apa aku boleh minta nomor telpon Arumi? aku mau bertanya tentang keberadaannya, siapa tau dia mau menjawab telpon dariku.''
Hal itu membuat Alex kebingungan, karena Alex sama sekali tidak memiliki nomor Arumi.''nyonya saya...''hampir saja Alex mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa dia tidak memiliki nomor telpon Arumi.
Untung saja Rendi bergerak cepat , dan langsung menghampiri Sela. ''sayang sebaiknya kamu istirahat saja dulu, bukankah tadi kamu bilang kepalamu pusing?''
Sela ingin menyangkal omongan Rendi, tapi dia tidak enak dengan Anisa.takut kalau Anisa curiga bahwa tadi dia hanya berpura-pura pusing.
''tapi Rendi aku cemas memikirkan Arumi.''
''aku tau sayang kita semua cemas, tapi masalah ini biarlah jadi urusanku dan Alex. Kami yang akan pergi mencarinya.''
''sekarang sebaiknya kamu pergi istirahat! Anisa antarkan Sela ke kamar.''
''baik tuan''
Sela dan Anisa pergi meninggalkan Rendi dan Alex.
Rendi duduk termenung di sofa, dia benar-benar bingung harus berbuat apa, Rendi merasa menyesal dengan kebodohannya. Dia tau kalau sebenarnya Arumi tidak mungkin menghianatinya, apa lagi dengan Alex.
Hanya saja ketidak berdayaan di dalam hatinya membuat dia tidak tau harus melampiaskannya kemana.
''tuan bagaimana kalau kita cari nyonya Arumi di rumah Orang tuanya?'' begitu Alex buka suara Rendi langsung tersadar dan bangun dari duduknya.
''kau benar Alex. Mengapa tidak terpikirkan olehku sejak tadi'' Rendi langsung bergegas keluar menuju mobilnya, dengan Alex yang mengekori dari belakang.
''tuan biar saya saja yang menyetir.'' Alex menawarkan diri untuk menyetir karena dia melihat kondisi tuannya yang kurang baik.
''tidak usah biar Aku saja, kamu pasti lelah istirahat saja di sini.'' ''tapi tuan kalau tuan yang pergi sementara saya tinggal dan istirahat, nyonya Sela pasti curiga''
Rendi tampak berpikir sejenak. Kamu benar juga, kalau begitu ayo kita pergi, tapi biar aku yang menyetir agar kamu bisa istirahat''
''terima kasih tuan''
Rendi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan sore itu yang terlihat tidak terlalu ramai.
__ADS_1
Satu jam lebih Rendi mengendarai mobilnya hingga mereka tiba di sebuah rumah dengat cat berwarna hijau telur asin.
Rumah besar, namun terlihat sederhana dan asri dengan tanaman bunga yang menygarkan mata di halaman depannya.
Ya orang tua Arumi walaupun memiliki sebuah perusahaan furnitur yang terbilang cukup maju, namun mereka hidup dengan cara sederhana dan bersahaja.
Rendi dan Alex turun dari mobil dan melangkah menuju pintu depan rumah orang tua Arumi. Awalnya Rendi melangkah dengan mantap, tapi semakin mendekati pintu rumah itu, langkah Rendi semakin melambat. Hingga kira-kira tinggal 5 atau 6 meter lagi sampai di pintu rumah Arumi, Rendi menghentikan langkahnya.
Hal ini membuat Alex mengerutkan kening.
''ada apa tuan?'' Rendi diam sejenak sebelum akhirnya menjawab. ''Alex kamu saja yang menemuinya''
Alex bingung melihat tingkah tuannya, ''bukannya tadi tuan terlihat sangat bersemangat, tapi kenapa sekarang berubah pikiran.'' batin Alex.
Rendi menyadari kebingungan yang terpancar dari wajah Alex. ''Alex aku terlalu malu untuk menemuinya, karena cemburu aku sudah menuduhnya yang tidak-tidak''
''sebaiknya tuan masuk dan jelaskan ini pada nyonya, dan aku rasa tuan harus mengungkapkan perasaan tuan pada nyonya. Nyonya pasti senang dan akan memaafkan tuan''
''bagaimana mungkin dia akan percaya dan kalaupun dia percaya bagaimana dengan Sela?
pergilah temui dia sampaikan maafku padanya.''
Rendi berbalik dan kembali ke mobil, sementara Alex mengikuti perintah Rendi. Dia pergi untuk menemui Arumi sendiri.
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
Alex kembali mengetuk pintu rumah Arumi.
''assalammualaikum''
''waalaikum salam'' kali ini ada jawaban dari dalam rumah itu.''syukurlah ternyata ada orang'' kata Alex.
Ceklek... Pintu rumah itu di buka. Tampaklah seorang wanita paruh baya yang seperti sedang habis memasak. Mungkin memasak untuk makan malam karena saat ini memang sudah menjelang magrib.
''cari siapa ya?'' tanya wanita paruh baya itu pada Alex. '' begini nyonya, perkenalkan nama saya Alex. Saya adalah asisten pribadinya tuan rendi.''
''oh, asistennya nak Rendi mari masuk'' Alex mengangguk dan mengikuti wanita paruh baya itu masuk kedalam rumahnya.
Sedangkan Rendi terus memantau dari dalam mobil dengan tidak sabar. Seandainya rasa malu dan rasa bersalah tidak menguasai hatinya, mungkin saat ini dia sudah ikut masuk kedalam rumah itu untuk melihat Arumi.
__ADS_1
''Mas, ini ada tamu'' teriak wanita paruh baya itu yag tak lain adalah ibunya Arumi, memanggil suaminya.
''siapa ma?'' tanya pak Yanto yang baru saja keluar dari ruang kerjanya. ''ini mas ada nak Alex, asistennya nak Rendi.''
pak Yanto datang menghampiri istrinya dan Alex.
Alex langsung menyodorkan tangan menyalami pak Yanto sambil mengenalkan diri.
''perkenalkan pak nama saya Alex.'' pak Yanto menerima uluran tangan Alex dan mempersilahkannya duduk. ''oh ya, nak Alex silahkan duduk.''
''sebenarnya ada keperluan apa nak Alex ke sini?''
Sebelum menjawab Alek meririk ke kiri dan ke kanan untuk melihat keberadaan Arumi.
Alex ingin memastikan bahwa Arumi benar-benar ada di rumah orang tuanya, karena jika tidak masalahnya akan semakin gawat.
''nak Alex di tanya kok malah celingak celinguk?''
Alex nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ''aduh ini namanya tuan yang punya masalah aku yang tersiksa'' batin Alex.
''nak alex?'' panggil pakYanto sambil melambaikan tangan di depan Alex. ''eh, iya pak''
''haduh malah bengong.''
He...he...Alex nyengir karena merasa malu.
'' sebenarnya saya kemari di suruh nyonya Arumi ngambil sesuatu, tapi saya lupa di suruh ngambil apa.'' kata Alex berbohong.
''Kalau begitu kenapa tidak tanya langsung sama Arumi saja.'' kata Erina mamanya Arumi.
''nyonya Arumi ada di rumah ini?''
sepontan pak Yanto dan bu Erina menatap aneh kepada Alex.
Alex yang di tatap begitu jadi salah tingkah. dan dia hanya bisa merutuki kebodohannya. ''bodoh kamu Alex'' katanya dalam hati. Namun dia juga lega karena mengetahui Arumi benar pulang ke rumah orang tuanya.
''maksud saya, saya pikir nyonya Arumi sedang pergi''
''oh,''....''ya sudah sana Arumi ada di taman belakang, biasanya kalau mau magrib begini dia suka melihat warna langit dari taman belakang.''
''oh, begitu. Baiklah pak, buk, saya permisi untuk menemui nyonya Arumi dulu.''
__ADS_1
''ya, silahkan!''
Alex pun berjalan kearah taman belakang untuk menemui Arumi.