
''Ma, arumi pergi sebentar ya?'' Pamitnya sambil mencium tangan Monika.
''Kamu mau kemana sayang, apa perlu mama temani?'' Tanya Monika yang khawatir membiarkan Arumi pergi sendiri.
''Tidak perlu ma, Arumi hanya ingin menemui teman Arumi di kafe dekat sini. Kebetulan dia adalah dokter kandungan, Arumi ingin bertanya sesuatu kalau dengan dia arumi tidak merasa malu.'' Bohongnya.
''Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati.''
''Iya ma'' Arumi pergi meninggalkan rumah mertuanya menuju kafe yang di tentukan oleh penelpon yang merupakan orang suruhan Alex.
Hans juga pergi menuju ke sana setelah mendapat pesan dari Arumi bahwa dia sudah pergi menuju ke kafe itu.
Arumi memarkirkan mobilnya masih agak jauh dari kafe itu, dia sengaja ingin menjumpai Hans dulu sebelum masuk ke dalam kafe.
Tak berselang lama mobil Hans pun tiba, dia menghentikan mobilnya tepat di samping mobil Arumi.
Dia menurunkan sebelah kaca jendela mobilnya begitupun dengan Arumi hingga saat ini posisi mereka saling berhadapan namun di dalam mobil masing-masing.
''Hans apa rencana kita sekarang?''
''Aku tidak tau yang jelas orang ini harus kita singkirkan saat ini juga sebelum dia macam-macam. Yang jadi masalah ini adalah tempat umum, jadi Arumi saat nanti kamu menemui dia kamu harus bisa membawanya pergi dari sini.''
''Hm'' Arumi mengangguk.
''Pergilah, saat nanti kamu sudah berhasil membawanya pergi aku akan mengikutimu dari belakang.''
Arumi menjalankan mobilnya menuju parkiran kafe, lalu dia berjalan memasuki kafe itu.
Dia mengedarkan pandangan ke seluruh pengunjung yang ada di kafe itu, berusaha mengenali orang yang mengiriminya rekaman vidio itu.
Namun tak satupun dia kenali. Sampai seseorang yang sedang duduk di pojokan kafe itu melambaikan tangan padanya.
Arumi menatap dengan seksama wajah orang itu namun dia memang tidak mengenalinya. Dia berjalan mendekati meja orang itu kemudian duduk di kursi yang ada di depan orang itu.
''Apa yang kamu inginkan?'' Tanya Arumi tanpa basa basi.
''Jangan buru-buru nyonya, sebaiknya kita ngobrol dulu.'' Orang itu dengan santai menyeruput kopi yang sudah dia pesan.
__ADS_1
''Nyonya mau pesan apa?'' Katanya dengan santai.
''Aku tidak punya waktu untuk main-main denganmu. Cepat serahkan rekaman vidio itu dan katakan apa yang kamu inginkan?'' Arumi semakin geram karena orang di depannya ini seperti sengaja ingin mempermainkannya.
''Begini saja bagaimana kalau aku berikan rekaman itu tapi malam ini kamu temani aku.''
''Kurang ajar'' Arumi yang emosi menggebrak meja.
''Ops, tenang nyonya jangan marah-marah, pikirkan baik-baik , apa jadinya kalau rekaman ini aku serahkan pada tuan Rendi.'' Orang itu meraih tangan Arumi lalu mengusapnya pelan.
Arumi merasa sangat tertekan namun tidak mampu untuk menolak, dia membiarkan saja tangannya di belai oleh orang itu.
Alex yang menyaksikan hal itu dari monitor cctv merasa takut sendiri. ''Orang ini terlalu berani bagai mana kalau tuan Rendi tau dia orang suruhanku?'' Wajah Alex terlihat lebih tertekan di banding Arumi.
''Dasar wanita ular, benar-benar tidak punya harga diri'' komentar Anisa yang juga menyaksikan hal itu bersama Sela.
''Bagaimana nyonya apa kamu setuju? Aku belum pernah berkencan dengan wanita hamil aku rasa pasti sangat menyenangkan.''
Arumi mengepalkan tangannya lalu menarik nafas dalam, ''baiklah aku setuju tapi kita pergi dari sini Sekarang.''
Arumi beranjak dari duduknya dan di ikuti oleh orang itu. Dia berdiri di samping Arumi dan merangkul pundaknya.
''Tenang saja sebentar lagi dia pasti sampai, aku sudah mengatur pertemuan tuan Rendi dengan calon investor baru kami di Kafe ini. Dan untuk waktunya hanya kurang satu menit saja dari sekarang.'' Jawab Alex.
Arumi hanya diam saja, dia berjalan mengikuti langkah orang yang merangkulnya. Baru beberapa langkah mereka berjalan Rendi pun memasuki kafe itu.
''Arumi apa yang kamu lakukan?'' Suara Rendi begitu menggelegar di telinga.
''Mas Rendi aku..'' Arumi langsung menyikut pinggang dari orang itu dan lari ke pelukan Rendi. Dia menangis terisak-isak ''Mas Rendi maafkan Aku orang itu mengancam aku.'' Katanya sambil menyembunyikan Wajahnya di dada bidang Rendi.
Rendi langsung melayangkan pukulannya pada orang itu. ''Cukup tuan hentikan, aku tidak punya maksud apa-apa dengan istri anda. Kami sengaja melakukan ini untuk menunjukkan seperti apa istri anda ini sebenarnya.''
''Apa maksudmu? Bicara yang jelas.'' Rendi menarik kerah baju orang itu.
''Aku yang merencanakan semua ini'' Sela keluar dari sebuah ruang peribadi yang ada di kafe itu.
Tubuh Arumi seketika melemas seperti tak bertulang. Untunglah dia bertumpu pada sebuah meja yang dekat dengannya sehingga tubuhnya masih bisa tetap berdiri.
__ADS_1
''Lihatlah'' Sela memutar rekaman percakapan Arumi dan Hans saat di rumah sakit yang ada di dalam henponnya dan menyerahkannya pada Rendi.
Rendi terpaku menatap layar henpon Sela.
''gdebuk'' Arumi berlutut di depan Rendi. ''Mas Rendi maafkan aku. Aku punya alasan kenapa melakukan semua ini, aku iri pada Sela yang selalu mendapat perhatian lebih dari kamu padahal aku yang lebih dulu mencintai kamu. Sela sudah merebut kamu dari aku. Aku benci dia.'' Teriaknya.
''Apa maksud kamu Arumi?'' Tanya Sela.
''Tidak usah pura-pura bodoh Sela, Rendi adalah orang yang di jodohkan denganku saat saat masih SMA dulu, tapi kamu merebutnya.''
''Arumi aku sama sekali tidak tau soal itu dan kamu tidak bisa menjadikan ini alasan untuk berbuat jahat pada orang lain.'' Kesal Sela.
''Mas Rendi'' Arumi memegang kedua kaki Rendi.
Di luar dugaan Rendi menunduk dan mengangkat tubuh Arumi. ''Bangunlah kasihan anak kita.''
''Mas Rendi...''
''Tidak usah bicara lagi aku mengerti.'' Rendi merangkul tubuh Arumi dan membawanya pergi.
''Rendi'' rilihnya sambil menatap kepergian Rendi dan Arumi. Sela terduduk di lantai sambil menangis.
Malihat hal ini salah satu anak buah Wisnu langsung memberi kabar kepadanya.
Anisa datang menghampiri Sela, ''Pergilah aku ingin sendiri.'' Pinta Sela.
Alex memberi kode pada Anisa untuk pergi karena melihat Wisnu datang.
Anisa dan Alex juga para anak buah Wisnu pergi meninggalkan Kafe itu.
Wisnu menghampiri Sela dan duduk di sebelahnya ''Anisa sudah aku bilang aku ingin sendiri.'' Sela yang sejak tadi menunduk tidak menyadari jika yang di sebelahnya adalah Wisnu.
''Apa enaknya sendiri?''
''Wisnu'' tangis Sela semakin pecah begitu menyadari orang yang ada di sebelahnya adalah Wisnu. ''Maaf atas kebodohanku, aku berfikir masih ada kesempatan untuk kami berdua hingga mengabaikan janjiku pada Marisa.
Aku benar-bena wanita yang paling bodoh di dunia.''
__ADS_1
Sela berdiri lalu berteriak ''Rendiiiiii, suatu saat nanti aku akan membuatmu mengemis di katiku.'' Untung kafe itu sudah di buking satu harian oleh Wisnu jadi tidak ada yang memperhatikan Sela.