Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 39


__ADS_3

''Rendi Sela tidak hilang dia hanya sedang butuh waktu, mama yakin saat dia sudah tenang nanti dia akan pulang dengan sendirinya. Sebaiknya sekarang kita lihat kondisi Arumi jangan sampai kondisinya semakin buruk karena merasa kamu abaikan.''


Monika angkat bicara karena melihat perdebatan antara Rendi dan papanya yang tak kunjung usai.


Rendi pun tidak bisa menolak. Akhirnya Rendi dan kedua orang tuanya pergi untuk melihat kondisi Arumi.


Mereka pergi dengan menggunakan satu mobil, dengan posisi Rendi menyetir dan Bastian di jok depan sebelah Rendi, sedangkan Monika di jok belakang.


''Ma sebenarnya aku agak heran, kenapa Arumi selalu sakit setiap aku ada keperluan dengan Sela.'' kata Rendi memecah keheningan yang ada di dalam mobil itu


''Anak kurang ajar apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan ha? Jangan sampai kamu mengatakan hal yang tidak-tidak di depan Arumi atau papa sendiri yang akan menghajarmu.'' geram Bastian


''Rendi wanita yang sedang hamil itu memang seperti itu, namanya sindrom kehamilan. Hal itu terjadi karena adanya perubahan hormon dari wanita yang sedang hamil. Contohnya akan langsung sakit bila menginginkan sesuatu tapi tidak keturutan atau ada juga yang jadi gampang marah, gampang menangis dan masih banyak hal aneh lainnya yang di alami oleh wanita yang sedang hamil. Jadi kamu jangan berpikir macam-macam kasihan Arumi.''


Monika menjelaskan panjang lebar agar Rendi tidak salah paham kepada Arumi. Setelah mendengar penjelasan dari mamanya Rendi tidak mengatakan apa-apa lagi.


Mobil yang di kendarai Rendi sampai di parkiran rumah sakit tempat Arumi di rawat. Ketiganya turun dan langsung memasuki rumah sakit itu. Mereka tidak bertanya lagi di mana ruangan Arumi karena sebelum berangkat Bastian sudah menghubungi Yanto untuk menanyakan di mana ruangan Arumi.


''Erina bagaimana ke adaan Arumi?'' tanya Monika begitu sampai di ruang rawat Arumi.


''Sudah lebih baik jeng, tapi dia masih tidur, semalam Arumi terus saja menangis, aku sendiri sampai bingung sebelumnya Arumi tidak pernah seperti ini.'' Erina lalu mengalihkan pandangannya pada Rendi


''Nak Rendi semalam dokter yang memeriksa Arumi berpesan jika kamu sudah datang agar menemuinya di ruangannya.''


''Ya sudah mumpung Arumi belum bangun aku akan menemui dokter dulu.''


Rendi pergi menemui dokter yang merawat Arumi di ruangannya.


''tok! Tok! Tok!"


Rendi mengetuk pintu ruangan dokter itu.


"Masuk" seru sang dokter dari dalam


"Dokter saya suami dari pasien yang bernama Arumi." Kata Rendi memperkenalkan diri.


"Oh, baik pak silahkan duduk." Kata sang dokter ramah.


"Maaf sebelumnya kalau saya harus bertanya tentang hal yang sedikit pribadi dengan anda. Apa anda dan istri anda sedang punya masalah?"

__ADS_1


Rendi hanya menunduk namun tidak menjawab ucapan dari dokter itu.


"Sekali lagi saya minta maaf kalau pertanyaan saya membuat anda tidak nyaman. Begini pak dari pengamatan saya sikis istri anda agak sedikit terganggu, dan bertambah parah karena di pengaruhi oleh hormon kehamilannya. Kalau hal ini di biarkan berlarut-larut akan berdampak buruk bagi perkembangan janinnya.''


"Jadi saya harus bagaimana dok?"


"Segera selesaikan masalah kalian agar istri bapak merasa nyaman. Beri perhatian lebih kepadanya dan yakinkan kalau anda sangat menyayangi dia. Dan untuk kondisinya sejauh ini semua baik-baik saja.


Rendi keluar dari ruangan dokter.


Saat dia kembali ke ruangan Arumi, Arumi dudah bangun dan sedang sarapan.


''Mau aku suapi?''


''Mas Rendi!" mata Arumi berbinar saat melihat Rendi ada di ruangannya. Arumi meletakkan sarapannya dan langsung memeluk Rendi


"Aku merindukan mas Rendi." Bisiknya malu-malu


Melihat anak dan menantunya sudah baik-baik saja. Bastian mengajak yang lain untuk ke luar dari ruangan itu.


"Sebaiknya kita tunggu di luar" Bastian dan Monika keluar dari ruangan Arumi di ikuti Yanto dan Erina.


Di rumah Wisnu.


Tadinya Wisnu yang baru pulang ingin pergi kekamarnya untuk mandi dan bersiap pergi ke perusahaannya. Sebenarnya perusahaan itu milik mendiang istrinya yang di serahkan ke pada Wisnu begitu mereka menikah.


Tapi langkahnya terhenti saat mendengar tawa putrinya yang begitu bahagia dari arah dapur. Jadilah Wisnu melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk melihat dua wanita yang berbeda usia itu sedang memasak dan bercanda di dapur.


Sebelumnya.


"Tok! Tok! Tok!"


Marisa mengetuk pintu kamar Sela.


"Tante, apa tante sudah bangun?''


''klek'' Sela yang baru saja selesai mandi membukakan pintu untuk Marisa.


''Wah tante cantik sekali'' komentar gadis kecil itu

__ADS_1


''Sini'' Sela mengulurkan tangannya pada Marisa dan langsung di sambut oleh Marisa.


Sela menggendong Marisa dan meletakkannya di atas tempat tidur.


''gadis cantik yang pintar berapa usiamu?''


''Satu bulan lagi 5 tahun tante'' jawabnya semangat


''Masih kecil sudah pintar memuji orang.'' Marisa cemberut mendengar ucapan Sela. ''Marisa sudah besar tante'' protes Marisa


Sela terkekeh melihat tampang imut Marisa yang menggemaskan.


''Oke...oke, tante salah dan sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau tante buatkan sarapan yang enak buat marisa, mau?''


''yeeee...mau, mau'' Marisa melompat-lompat ke girangan. Ke duanya pergi menuju dapur


''Marisa baju di lemari itu punya mamanya Marisa ya?''


''Hm'' Marisa mengangguk


''Semalam papa yang meletakkan di sana wakru tante masih pingsan, kata papa biar tante bisa ganti baju. Tante cantik deh pakai banu itu, pasti mama Marisa aslinya sangat cantik seperti tante.''


Sela terkejut mendengat ucapan Marisa. ''Marisa tidak pernah lihat mama?'' tanya Sela


Marisa menggeleng ''Hanya lihat di foto, kata papa mama Marisa meninggal saat melahirkan Marisa.''


Sela langsung meraih Marisa dan mendekapnya.


''Tidak apa-apa tante Marisa tidak sedih, kata papa orang yang sudah meninggal itu akan bahagia di surga Marisa cuma perlu mendoakan saja.''


Sela jadi merasa kagum dengan sosok Wisnu yang begitu menyayangi putrinya.


Sela dan Marisa sampai di dapur dan Sela mulai membuat sarapan, nasi goreng dengan naget ayam. Masakan itulah yang terlintas di pikiran Sela saat ini.


''Apa tante punya anak?'' Sela menggeleng dan wajahnya terlihat sedih.


''Tante jangan sedih ya, tantekan tidak punya anak dan Marisa sudah tidak punya mama. Jadi tante anggap Marisa anak tante dan Marisa akan anggap tanta sebagai mama Marisa.''


Sela tersenyum mendengar pemikiran sederhana gadis kecil ini. Dan mereka melanjutkan membuat sarapan sambil terus bercanda tentang hal-hal yang lucu hingga ke duanya sama-sama tertawa.

__ADS_1


Momen ini tanpa sengaja di saksikan oleh Wisnu yang baru saja pulang. Dia berdiri diam di depan pintu yang menuju kedapur. Ada rasa senang dan juga khawatir di hati Wisnu.


Wisnu senang karena akhirnya Marisa bisa merasakan memiliki sosok seorang ibu, namun dia juga khawatir Marisa akan kecewa saat Sela memutuskan untuk kembali kepada keluarganya nanti.


__ADS_2