
Karena mimpi yang baru saja Rendi alami dia jadi berpikir macam-macam. Rendi takut kalau Sela prustasi dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.
Henpon Rendi kembali bergetar, itu adalah panggilan dari Arumi. ''mas, apa Sela sudah ketemu?" terdengar nada khawatir dari ucapannya.
"Belum, aku masih terus mencari. Arumi sebaiknya kamu istirahat tidak usah menunggu aku, mungkin malam ini aku tidak ke sana."
"mas, apa tidak lebih baik kamu pulang dulu untuk istirahat besok baru lanjut mencari Sela." saran Arumi
"Tidak, aku tidak akan tenang sebelum bisa menemukan Sela dan memastikan dia baik-baik saja."
"Tapi kamu sama sekali belum istirahat, kalau seperti ini kamu bisa sakit. Aku tau kamu sangat mencintai Sela dan menghawatirkannya, tapi kalau kamu sampai sakit kamu tidak akan bisa melanjutkan untuk mencari Sela."
"baiklah" jawab Rendi singkat
Rendi melajukan mobilnya menuju kediamannya.
Dan ternyata di sana sudah ada Alex yang menunggunya.
"Alex kamu di sini? Lalu bagaimana dengan pencarian Sela?"
"Tenang saja tuan saya sudah mengerahkan orang-orang terbaik kita untuk terus mencari nyonya."
"Lalu untuk apa kamu ke sini?" tanya Rendi
"Saya ingin menemui Anisa." Rendi mengerutkan keningnya. "Bisa-bisanya kamu berpikir untuk berpacaran di saat seperti ini." begitulah kira-kira yang ada di dalam pikiran Rendi
Mengerti dengan isi pikiran tuannya Alex buru-buru menjelaskan. "Tuan jangan salah sangka, saya menemui Anisa bermaksud untuk menyuruhnya menghubungi nyonya, siapa tau nyonya mau mengangkat dan memberi tahukan di mana ke beradaannya, jika Anisa yang menelpon."
"Lalu bagaimana hasilnya." Alex menggeleng lemah.
"Nyonya tidak mengangkat" Rendi yang tadinya sempat memiliki harapan, akhirnya harus menelan kekecewaan. Rendi berjalan masuk ke rumahnya dengan lemas.
Sementara Arumi yang tadinya berpikir Rendi akan menemuinya, terus menunggu namun Rendi tak kunjung datang.
"Arumi ini sudah malam sebaiknya kamu istirahat." kata Erina mengingatkan
"Aku pikir kamu akan ke sini mas." Gumam Arumi sambil berjalan menuju kamarnya
Ditempat, lain Sela yang sejak tadi pingsan belum junga sadar. "Pa, kenapa tante ini belum bangun juga." Kata gadis kecil yang sejak tadi duduk di sebelah Sela.
__ADS_1
"Papa juga tidak tau sayang, tadi dokter bilang tante Sela tidak apa-apa hanya syok dan kelelahan tapi kenapa belum sadar juga ya?"
"Papa kenal dengan tante ini?" tanya gadis kecil itu
"Iya sayang tante ini dulu teman sekolah papa." kata pria itu menjelaskan pada putrinya
Saat pria itu sedang berbicara dengan putrinya, Sela mulai sadar.
Pelan-pelan Sela mulai membuka matanya. "Dek" jantung Sela seperti berhenti berdetak saat melihat wajah yang tidak asing ada di depannya.
Sela langsung duduk da terlihat sangat ketakutan. "Pa, tante ini kenapa?"
"Tidak apa-apa tante ini cuma sedang syok saja. Risa pergi ambil minum untuk tante ya."
"Baik pa" gadis kecil yang bernama Marisa itu segera berlari untuk mengambilkan air minum.
"Marisa jangan berlari, pelan-pelan saja." teriak pria itu kepada putrinya.
"Sela aku mohon kamu jangan takut, aku tidak akan menyakiti kamu, aku sudah berubah sungguh." Sela masih terdiam dan terlihat ketakutan
"Sela yang tadi itu putriku, aku mohon kamu jangan cerita apapun tentang masa laluku kepadanya. Kasian dia, dia sudah tidak punya ibu dan dalam pikirannya aku adalah ayah yang terbaik, aku takut dia akan kecewa kalau tau aku pernah di penjara. Aku mohon"
"Tante, ini minumlah biar tante lebih baik." Marisa menyodorkan air yang di bawanya kepada Sela.
Melihat wajah gadis kecil yang begitu cantik dan ceria itu membuat Sela tidak tega untuk menolak. Sela menerima gelas berisi air itu dan meminumnya. "Terima kasih"
Gadis kecil itu mengangguk lalu masuk ke dalam pangkuan papanya.
"Sayang kamu tidur ya, ini sudah malam. Papa masih ada yang harus di bicarakan dengan tante Sela. Kamu tidur di temani bibik ya."
"Iya papa, selamat malam" kata Marisa sambil mencium pipi papanya dan turun dari pangkuan papanya.
Melihat interaksi antara papa dan anaknya ini membuat Sela yakin kalau pria di depannya ini sudah berubah.
"Wisnu apa istrimu tidak keberatan kalau aku menginap di sini." tanya Sela tiba-tiba
Ya, pria yang tadi menolong Sela adalah Wisnu pria yang pernah menyerang Sela dan menyebabkan dia tidak bisa punya anak.
''Apa itu artinya kamu sudah memaafkan aku?''
__ADS_1
Tanya wisnu balik
''Sudah jawab saja" bentak Sela
Wisnu terkekeh melihat Sela begitu galak "akukan sudah bilang kalau Marisa itu sudah tidak punya ibu, ya itu artinya aku sudah tidak punya istri.''
''Kalau begitu izinkan aku tinggal di sini beberapa hari, maka aku akan memaafkanmu.''
''Baiklah kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu mau, tapi apa kamu tidak punya rumah?''
''cerewet! Jangan tarik ucapanmu lagi" Sela berbalik membelakangi Wisnu sambil menarik selimut
Wisnu menggeleng melihat kelakuan Sela "bukannya tadi dia begitu ketakutan melihat aku, tapi sekarang dia malah bersikab seolah tidak pernah terjadi sesuatu'' batin Wisnu
''Sela kamu sudah pingsan seharian apa tidak ingin makan dulu.''
''Sedang tidak berselera, besok saja.''
Wisnu membiarkan Sela beristirahat, dia keluar dari kamar itu dan menuju kamar Marisa.
Setelah kepergian Wisnu air mata Sela kembali meleleh. "Tuhan kenapa hidupku begini, di khianati oleh orang-orang yang aku sayangi. Mungkin lebih baik aku di sini dari pada harus menyaksikan kebahagiaan mereka. Kalaupun aku harus mati di tangan Wisnu mungkin lebih baik dari pada harus menderita begini.'' Sela masih terus menangis meratapi nasibnya ''tidak punya keluarga, tidak bisa punya anak, dan sekarang di khianati oleh suami. Lengkap sudah penderitaanku'' gumamnya sambil terus menangis.
"lo, Marisa belum tidur, dimana bibik?" Tanya Wisnu sambil mengelus kepala putrinya.
"Marisa sudah besar, jadi sudah berani tidur sendiri"
"Hebat anak papa" puji Wisnu
"Pa, apa tante Sela sudah tidur?" Wisnu mengangguk
"Apa tante Sela calon mama yang di kirim Allah untuk Risa?"
Wisnu terdiam mendengar ucapan putrinya. Dia bingung bagaimana harus memberi pengertian untuk putrinya, ada rasa sedih yang selalu menjalar di hati Wisnu setiap kali melihat putrinya begitu mendamba seorang ibu.
"Sayang, tante Sela itu cuma teman papa jadi jangan berpikir yang aneh-aneh ya.'' kata Wisnu dengan lembut
Marisa mengerucutkan bibirnya namun tetap mengangguk.
''Anak pintar, sekarang tidur ya?'' Wisnu mencium kening dan ke dua pipi putrinya. Hal rutin yang selalu ia lakukan setiap gadis kecil itu akan tidur
__ADS_1