Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
epiaod 46


__ADS_3

''Mas Alex bangun ayo sarapan'' Anisa membangunkan Alex setelah selesai membuat dua piring nasi goreng dan dua gelas susu.


''Hm, apa ini sudah pagi?'' Tanya Alex yang kembali menarik selimut.


''Belum ini masih malam dan aku ingin mengajakmu berburu kuntilanak.'' Kata Anisa dengan kesal.


''kalau kuntilanaknya secantik kamu aku mau.'' Jawab Alex masih dengan mata terpejam.


''Mas Alex!'' Anisa menghentakan kakinya dengan kesal, lalu pergi meninggalkan Alex.


Alex terkekeh di buatnya, sebenarnya sejak tadi dia sudah terbangun dan hanya ingin menggoda Anisa saja.


''Pagi-pagi sudah cemberut nanti cantiknya hilang lo.'' Alex menoel hidung Anisa.


Membuat Anisa melayangkan tatapan horor.


''Oke, oke jangan marah aku hanya bercanda.''


Anisa hanya diam tanpa mau menanggapi ucapan Alex sampai dia teringat sesuatu ''mas Alex, bagaimana kamu bisa menemukan aku dengan begitu mudah?'' Tanya Anisa sambil meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Alex.


''He, he.. Itu aku menaruh pelacak di henponmu.''


Anisa sudah bersiap ingin marah, namun langsung di sela oleh Alex, ''jangan marah aku melakukan itu karena tidak ingin kehilangan kamu.''


''Lalu kenapa tuan Rendi tidak melakukan hal yang sama pada henpon Sela?'' Sambil menyendok nasi goreng ke mulutnya.


''Itu karena nyonya Sela terlalu baik, jadi tuan Rendi sama sekali tidak waspada.'' Jawab Alex dengan santai tanpa memperhatikan wajah Anisa yang sudah seperti akan mengeluarkan tanduk.


''Arumi aku berangkat dulu'' Rendi yang sudah terlalu lama mengabaikan urusan kantor memutuskan untuk kembali ke kantor.


''Mas boleh ikut? Aku bosan di rumah sendiri.''


''Sebaiknya tidak usah nanti kamu lelah, istirahat saja di rumah. Kalau memang kamu bosan mintalah ibu atau mama untuk menemani.''


''Hm, baiklah'' Arumi mengangguk patuh


''Mas kapan aku bisa pindah dari kamar ini?'' Sebenarnya Arumi masih kesal kalau ingat ucapan Anisa yang mengatakan dia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Sela.


''Kenapa ingin pindah kamar?'' Rendi yang sudah beranjak ingin mengambil laktopnya menghentikan gerakannya dan menatap Arumi.


Arumi tersenyum manja sambil mengalungkan tangannya di leher Rendi. ''Mas apa kamu tidak merasa kalau kamar ini sedikit kecil, akan susah meletakkan bok bayi saat aku sudah melahirkan nanti.''


Rendi berpikir sambil memperhatikan setiap sudut kamar itu.

__ADS_1


''Kamu benar, kalau begitu nanti aku akan suruh orang untuk merenopasi kamar ini.''


''Kenapa harus renopasi, buang-buang uang. Kenapa kita tidak pindah ke kamar utama saja.'' Masih dengan mengalungkan tangannya di leher Rendi.


Rendi melepaskan tangan Arumi yang berada di lehernya dengan kedua tangannya. ''Tidak Arumi maafkan aku, untuk yang satu itu aku tidak bisa mengabulkannya. Kamar itu milik Sela selamanya akan begitu. Aku pergi dulu!''


Arumi mengepalkan kedua tangannya karena emosi. Kemudian dia meraih henponnya yang tergeletak di atas meja.


''Halo Hans aku butuh bantuanmu'' kata Arumi pada seseorang yang ada di seberang sana.


''Bantuan apa cantik katakan saja, aku akan dengan senang hati membantumu.''


''Aku ingin kamu membereskan seseorang, terserah mau kamu apakan yang jelas aku tidak ingin melihat dia di Jakarta lagi. Akan aku kirim fotonya. Oh ya, kemarin aku sempat melihatnya di sekitar pantai di pinggiran kota.''


Arumi mengakhiri sambungan telpon itu. ''Maafkan aku Sela, tadinya aku berpikir kita bisa bahagia bersama tapi ternyata aku tidak sanggup berbagi mas Rendi denganmu. Nikmati saja ini sudah nasibmu.''


Sudah jadi rutinitas rutin bagi Sela setiap paginya slama berada di rumah Wisnu dia akan membuat sarapan bersama Marisa.


Pemandangan Sela yang sedang membuat sarapan sambil bercanda bersama Marisa selalu menjadi pemandangan indah di pagi hari bagi Wisnu.


Semenjak kepergian sang istri Wisnu menjalani harinya hanya dengan Marisa, dan tujuan hidupnya hanya ke bahagiaan Marisa saja. Kekosongan di dalam hatinya semakin terasa setiap kali Marisa bertanya tentang mamanya.


Tapi semenjak kehadiran Sela Wisnu merasa hidupnya memiliki tujuan lain. Hatinya terasa hangat saat melihat Sela tersenyum. ''Perasaan apa ini?'' Wisnu menggeleng menepis perasaan yang tiba-tiba muncul di hatinya.


Nasi uduk lengkap dengan sambal telur dan ikan teri jadi menu sarapan untuk pagi ini.


''Sudah seperti kompetisi saja'' komentar Wisnu yang berjalan memasuki dapur.


''Papa bantu mama Sela menyajikan ini, Marisa mau ke toilet dulu.'' Belum sempat Wisnu protes anak itu sudah melompat turun dari kursinya dan berlari menuju toilet.


''Sudah sana tunggu di meja makan biar bik Wati yang membantuku.''


''Marisa bisa protes kalau aku tidak mengerjakan keinginannya.'' Wisnu dengan cekatan menyusun nasi uduk dan lauknya ke atas nampan untuk di bawa ke meja makan.


Sela sampai terkesima melihat betapa telatennya Wisnu mengerjakannya.


''Ternyata kamu tipe bapak rumah tangga juga ya'' candanya.


''Tuntutan keadaan'' Wisnu sama semali tidak tersinggung dengan candaan Sela.


''Sudah selesai?'' Tanya Wisnu saat melihat Marisa berjalan menghampiri mereka.


''Hm'' angguk Marisa sambil mengangkat kedua tangannya agar Wisnu membantunya untuk duduk di atas kursi.

__ADS_1


''Sela apa kamu sudah memikirkan tentang tawaranku kemarin?'' Tanya Wisnu di saat mereka sudah menyelesaikan sarapan namun belum beranjak dari meja makan.


''Sudah, sebenarnya aku bersedia, tapi bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai dengan harapanmu'' ucap Sela mengutarakan kekhawatirannya.


''Sela yakinlah dengan dirimu aku tau kamu mampu, dan aku pasti akan selalu membantumu.''


''Bolehkah untuk sementara aku mendesain dari rumah? Jujur aku masih malu kalau harus bekerja secara langsung di kantor.''


''Terserah kamu saja yang penting kamu merasa nyaman. Kalau begitu aku ke kantor dulu, Marisa jangan nakal jangan buat mama Sela kesulitan.''


Marisa cemberut melihat papanya ''mana ada Marisa nakal'' merasa tidak terima.


''Hanya mengingatkan'' Wisnu mencium pipi putrinya yang sedang cemberut.


''Aku pergi dulu saat pulang nanti aku akan membawa surat kontrak kerja untuk kamu tanda tangani.''


''Baiklah'' kata Sela sambil mengangguk.


''Sela aku akan membantumu mendapatkan kembali kebahagiaanmu, aku janji.'' Ucapnya dalam hati sambil melangkah pergi.


Sela sudah selesai membereskan meja makan, walaupun di rumah Wisnu ada pembantu tapi Sela lebih suka mengerjakan semuanya sendiri.


dan Wisnu membiarkannya agar Sela merasa nyaman.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Sela mengajak Marisa untuk menata ulang taman di sebelah rumah.


Mereka menanam ulang bunga-bunga yang sudah tua dan hampir mati. Saat sedang menanam bunga Sela tiba-tiba teringat pada Anisa.


''Mama Sela kenapa?'' Tanya Marisa.


''Ah, tidak mama Sela hanya sedang teringat dengan teman yang sudah mengajarkan mama Sela menanam bunga.''


''Apa tante yang kemarin itu?'' Tanya Marisa lagi, tapi dengan wajah cemberut.


''Iya benar, tapi kenapa Marisa cemberut.''


''Marisa nggak suka sama tante itu.'' Jawab Marisa jujur.


''Tapi kenapa? Tante itu baik lo,'' Sela heran kenapa Marisa yang selalu ramah malah tidak suka sama Anisa.


''Kemarin saat tante itu datang Marisa sempat dengar dia mau ajak mama Sela pergi dari sini, Marisa nggak mau mama Sela pergi.'' Marisa menunduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Sela segera meraih tubuh Marisa ke dalam dekapannya. ''Mama Sela jangan pergi ya.''

__ADS_1


__ADS_2