
''bapak sih tidak ada janji, tapi ya sudah di lihat saja dari pada penasaran.''
Erina dan pak Yanto berjalan bersama menuju pintu. ''klek'' pintu di buka oleh Erina
''jeng monika'' teriaknya senang.
Monika tersenyum melihat betapa senangnya Erina menyambut kedatangan mereka.
''Bastian'' pak Yanto pun tak kalah antusias menyambut kedatangan besan sekaligus sahabatnya itu.
Pak Yanto dan Bastian saling berpelukan begitu juga Erina dan monika.
''ayo Bastian silahkan masuk'' Pak Yanto merangkul pundak Bastian dan membawanya masuk kedalam rumah di ikuti monika dan Arumi yang berjalan di belakang mereka.
setelah masuk kerumah mereka semua segera duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
''jeng aku benar-benar senang mendengar kabar ini, aku tidak menyangka kalau harapanku selama ini terkabul juga.'' kata monika sambil menggenggam tangan Erina.
''oh ya jeng, Aruminya mana?'' monika sudah tidak sabar ingin segera memeluk menantunya itu.
''Arumi sedang beristirahat di kamarnya, karena kemarin Arumi sempat pingsan jadi dokter menyarankan dia untuk banyak istirahat, dan rencananya kami lusa akan membawa Arumi pergi liburan supaya dia tidak steres itu juga saran dari dokter'' terang Erina kepada Monika.
''Arumi sempat pingsan, bagaimana bisa?'' raut panik terlihat jelas di wajah Monika, bagaimana tidak, dia sudah menantikan bisa memiliki cucu begitu lama, Monika benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu yang dapat mengakibatkan dia kehilangan calon cucunya.
''ah, itu kemarin Arumi tidak sadar kalau ternyata dia sudah hamil jadi dia tetap bekerja seperti biasa dan mengakibatkan dia kelelahan, tapi kata dokter itu hal yang wajar dan tidak perlu terlalu khawatir, hanya saja dokter berkata agar menjaga suasana hatinya agar Arumi lebih rilex dan perkembangan janinnya jadi lebih baik.''
Erina menghela napas panjang dan wajahnya berubah jadi sendu.
Monika segara paham jika ada sesuatu yany terjadi. ''jeng Erina sebenarnya ada apa? tidak usah sungkan katakan saja jika ada sesuatu, bukankah kita keluarga?
''Sebenarnya tidak ada apa-apa jeng hanya saja sedang sedikit sedih.'' adu Erina kepada Monika.
''sedih kenapa?'' tanya Monoma penasaran.
''begini jeng sebenarnya Arumi ingin berlibur di temani oleh Rendi, tapi Rendi tidak bisa karena pekerjaannya sangat padat minggu ini. Ya maklumlah mungkin karena pengaruh kehamilannya dia jadi sedikit manja.''
Monika tersenyum mendengarnya, dia ingat kalau dulu saat hamil Rendi dia juga begitu selalu ingin ada di dekat Bastian.
__ADS_1
''boleh aku menemui Arumi? Ada yang ingin aku berikan padanya.''
''tentu saja boleh ayo aku antar'' ke dua wanita paruh baya itupun beranjak meninggalkan para suaminya yang terlihat sangat asik dengan obrolan mereka.
''tok..tok..tok..'' Erina mengetuk pintu kamar Arumi.
''Arumi...sayang apa kamu masih tidur? Ini ada mama Monika, ingin bertemu sama kamu''
''tidak bu, masuk saja pintunya tidak di kunci''
Erina membuka pintu kamar putrinya dan masuk bersama monika. Monika tersenyum menatap menantunya itu.
''sayang apa kabar?'' Monika membelai kepala Arumi dengan lembut. Lalu duduk di sebelah Arumi.
''aku baik-baik saja ma.'' Arumi tersenyum ke pada mertuanya itu untuk menyakinkan bahwa dia baik-baik saja walaupun saat ini hatinya sangat sedih.
Monika menarik tangan Arumi lalu memakaikan sebuah gelang berlian yang sangat cantik walaupun disaen gelang itu sederhana tapi terlihat cantik dan sangat unik.
''gelang ini adalah warisan keluarga turun temurun dan hanya satu-satunya. Sekarang gelang ini jadi milik kamu karena kamu akan melahirkan keturunan untuk keluarga kami. kamu harus selalu menjaga kesehatan kamu dan juga calon cucu mama ini.'' Monima megusap perut Arumi dengan lembut.
Kata-kata monika justru menjadi beban tersendiri bagi Arumi. Dia bisa merasakan betapa mertuanya sangat menginginkan seorang cucu.
Saat mereka sedang asik mengoberol, Bastian dan pak Yanto datang menyusul ke kamar Arumi, mereka bisa langsung masuk kedalam karena memang pintu kamar Arumi tidak tertutup.
''ehem'' Bastian berdehem untuk menarik perhatian ke tiga wanita yang ada di dalam kamar itu.
''papa kenapa menyusul ke sini, apa kami terlalu lama?'' Tanya Monika pada suaminya.
''tidak juga, papa cuma ingin melihat Arumi. Oh ya, katanya kalian lusa akan berlibur, apa Rendi ikut?''
''itu dia masalahnya pa, Rendi tidak bisa ikut karena sedang banyak pekerjaan'' Monika yang menjawab pertanyaan dari suaminya.
''hm'' Bastian mengangguk paham.
''nanti papa akan coba bicara siapa tau dia bisa mengundur pekerjaannya agar bisa menemani kamu.''
''tidak usah pa, kasian mas Rendi kalau harus mengundur pekerjaannya demi aku, lagi pula aku bisa pergi bersama bapak dan ibu.'' Arumi tidak ingin mertuanya memaksa Rendi yang mengakibatkan Rendi semakin kecewa ke padanya.
__ADS_1
''baiklah kalau begitu, tapi apa boleh papa sama mama ikut, iyakan pa, bukankah kita juga sudah lama tidak pernah berlibur.'' kali ini Monika yang bicara.
Bastian mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.
Arumi tersenyum senang. '' tentu saja boleh akan lebih seru kalau lebih ramai, iyakan pak, bu?''
Arumi terlihat antusias mendengar martuanya ingin ikut setidaknya walau saat ini Rendi sedang kecewa ke padanya tapi sikap orang tua Rendi sangat baik ke padanya, hal itu membuat hati Arumi sedikit lega.
Ke dua orang tua Rendi pulang dari rumah Arumi. Saat dalam perjalan pulang Bastian menelpon sesearang.
''halo, ada apa tuan?'' tanya seseorang dari seberang sana.
''tolong kamu cek jadwal pekerjaan Rendi dari hari ini sampai tiga hari ke depan.''
'baik tuan'' sambungan telponpun terputus.
''Papa menelpon siapa?'' tanya Monika penasaran.
''asisten papa'' jawab Bastian singkat.
''pa, sebaiknya papa tidak usah terlalu memaksakan kehendak papa pada Rendi, dia sudah dewasa, biarkan dia menyelesaikan dan mengatur masalah rumah tangganya sendiri.''
Monika berusaha memberi pegertian kepada suaminya.
''ma, bukannya papa ingin mengekang Rendi atau mencampuri urusan rumah tangganya tapi mamakan tau sendiri kalau wanita hamil itu butuh perhatian yang lebih. Papa tidak mau cuma gara-gara sikap dingin Rendi kandungan Arumi jadi bermasalah.''
Saat Bastian sedang berbicara dengan istrinya, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk, dan tertera nama asistennya di sana. Bastian segera mengangkat panggilan itu.
''bagaimana?'' tanyanya tanpa basa basi.
''tuan, tuan Rendi sudah menyelesaikan semua pekarjaannya hari ini dan dia juga sudah mengosongkan jadwal miting sampai tiga hari kedepan. Dan ada satu lagi tuan'' Robi yang merupakan asisten Bastian ragu untuk menyampaikannya.
''katakan'' Bastian menjadi tidak sabar mendengarkan asistennya yang menurutnya lambat dalam menyampaikan informasi.
''tuan Rendi sudah memesan dua tiket penerbangan ke jepang, atas nama tuan Rendi dan nyonya Sela untuk sore ini.''
Bastian langsung memutus panggilan telpon itu.
__ADS_1
''anak ini benar-benar keterlaluan!''