
''Tin..tin..''
Alex yang tadinya ingin masuk ke dalam mobilnya , menghentikan langkahnya karena. melihat ada mobil yang mendekat ke arahnya dan membunyikan klakson.
Sela dan Anisa turun dari mobil dan menghampiri Alex.
''Alex kamu di sini?'' tanya Sela begitu turun dari mobil
''nyonya Sela?'' Alex terkejut melihat Sela dan
Anisa datang menghampirinya
''kapan kamu pulang?'' tanya Sela lagi
''baru saja nyonya, tadinya saya ingin langsung pulang ke rumah, tapi saat ditengah jalan ada salah seorang rekan bisnis tuan yang ingin bertemu di sini. Karena itu saya ke sini.'' kata Alex menjelaskan
''Lalu Rendi?''
''tuan masih ada di sura baya nyonya. Mengurus masalah yang ada di sana.
tuan meminta saya kembali untuk menghendel perusahaan selama tuan masih di sana.''
Wajah Sela yang tadinya terlihat antusias kembali muram mendengar jawaban dari Alex.
''Anisa ayo kita pergi '' Sela berbalik dan langsung masuk kedalam mobil.
''nyonya kenapa?'' tanya Alex yang melihat tingkah Sela tidak seperti biasa
''Rindu sama tuan!'' jawab Anisa sambil menyusul Sela masuk ke dalam mobil.
''Ha, bukannya tuan baru pergi kemarin ya? memang wanita susah di mengerti, kata Alex pada dirinya sendiri
''Anisa kita pulang saja!.''
''Baiklah.''
Anisa tidak berani membantah karena tau kondisi perasaan Sela saat ini sedang tidak baik.
Sementara di Sura Baya, kondisi Arumi sudah membaik. Dan Rendi sudah tidak ketus lagi kepada Arumi.
Arumi menghampiri Rendi yang sedang berkutat dengan lektopnya, sambil membawa secangkir kopi. ''Ini mas silahkan di minum.''
''Kamu kan masih sakit, tidak usah repot-repot membuatkan aku minuman.''
''aku sudah enakan, tidak pusing lagi.'' kata Arumi
''Kamu sedang mengerjakan apa'' basa-basi Arumi karena tidak tau harus membicarakan soal apa dengan Rendi.
''Ini ada beberapa laporan yang harus aku periksa.'' jawab Rendi tanpa mengalihkan pandangannya dari laktopnya
''mas, apa hari ini kamu sudah menelpon Sela?''
Rendi menghentikan aktipitasnya dan menutup laktopnya.
''belum, tapi kenapa kamu tanyakan ini.''
''Apa karena sibuk mengurus aku mas jadi tidak menelpon Sela?''
__ADS_1
''bukan begitu, aku memang tidak ingin terlalu sering menelpon Sela selama aku di sini, karena aku takut semakin merindukan dia dan aku jadi tidak betah di sini.''
Arumi menundukkan kepala menahan rasa sedih yang menjalar di hatinya, tadi Arumi benar-benar berharap Rendi akan bilang dia memang lupa menelpon Sela karena mencemaskan dirinya. tapi Arumi sadar sampai saat ini memang tidak ada dirinya di hati Rendi, bahkan mungkin selamanya tidak akan pernah ada.
''Mas sangat mencintai Sela?''
''lebih dari apapun.'' Jawaban Rendi yang tanpa keraguan itu semakin memudarkan harapan di hati Arumi.
''Sela sangat beruntung'' gumam Arumi dalam kondisi menunduk. ''Dan dia memang pantas mendapatkan suami sebaik kamu.''
''Mungkin ini balasan untuk setiap penderitaannya dulu, karena walaupun hidup menderita Sela tetap tumbuh menjadi wanita yang baik hati.'' batin Arumi
''Bukankah kamu bilang kalian bersahabat, sekekat apa kalian dulu?'' tiba-tiba saja Rendi jadi penasaran dengan hubungan masa lalu Sela dan Arumi
''Sangat dekat sampai Sela rela kehilangan sesuatu yang sangat berharga sebagai seorang wanita demi aku.''
''Apa itu?''
''maaf mas, suatu saat akan aku beri tau tapi tidak sekarang.'' kata Arumi
''maaf mas kalau aku beri tau sekarang kamu pasti akan membenci aku dan aku tidak akan pernah bisa memberikan anakku untuk Sela'' batin Arumi
''Ini sudah malam, sebaiknya kita tidur.''
Arumi bangkit dan ingin berjalan menuju kamar tamu yang semalam di tidurinya.
Rendi mengerutkan kening melihat Arumi yang akan memasuki kamar tamu.
''Arumi kalau kita tidur terpisah bagaimana aku bisa membiasakan diri denganmu?''
Arumi tidak menjawab ucapan Rendi , dia hanya berbalik dan langsung lari menuju kamar atas.
''Ada apa dengan dia? Aneh sekali.'' gumam Rendi
''dreeet....dreeet...dreeet.''
ponsel rendi bergetar, terlihat sebuah nama kontak ''cintaku'' di layar hp itu. Menunjukkan bahwa panggilan itu dari Sela.
''Halo sayang ada apa?''
''ada apa? Kamu bertanya ada apa? Kamu benar benar sudah melupakan aku ya? Hu...hu...hu...'' Sela langsung menangis begitu mendengar suara Rendi
''Sela, sayang aku mohon jangan menangis.
iya...iya aku salah karena tidak menghubungimu seharian ini. Maafkan aku ya?''
''oh, jadi kamu sengaja tidak menelpon aku?'' rajuk Sela
'' Bukan begitu sayang, seharian ini aku sibuk sekali mengurus masalah yang ada di sini. Ini saja aku baru pulang. Aku sengaja selalu lembur agar masalah di sini cepat selesai dan aku bisa segera pulang.'' ucap Rendi untuk menenangkan Sela, yang sebenarnya hanya sebuah kebohongan.
''benarkah?''
''iya sayang, kamu tau sayang aku sangat menderita di sini. Aku sangat merindukanmu tapi aku benar benar tidak bisa berbuat apa apa. Kalau aku pulang, sementara masalah yang ada di sini belum selesai kita bisa mengalami kerugian yang besar sayang. Jadi aku mohon pengertian kamu ya sayang dan maafkan aku karena belum bisa pulang.''
''Iya, tidak apa apa, aku juga minta maaf, aku hanya terlalu merindukan kamu, ya sudah aku tutup telponnya, kamu jangan terlalu lelah dan jangan lupa makan ya.''
''Iya sayang.''
__ADS_1
''assalammualaikum.''
'' Waalaikum salam.''
''maafkan aku sayang, aku bukan suami yang baik, aku terus saja berbohong kepadamu.'' Rendi menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dia merasa sangat lelah dengan semua ini
Rendi memasuki kamar setelah selesai berbicara dengan Sela melalui henponnya.
''kamu dari mana mas kenapa lama sekali?'' tanya Arumi yang sedang duduk di depan meja rias untuk membersihkan wajahnya
''Tadi aku habis angkat telpon Sela, dia menangis karena aku tidak menelponnya seharian ini. aku merasa bersalah padanya. Aku harus selalu berbohong setiap kali dia menelponku.''
''kamu yang sabar ya mas. Aku yakin akan ada akhir yang baik untuk masalah kita ini.'' kata Arumi yang sebenarnya merasa sakit hati mendengar Rendi yang bisa begitu mudah menyebutkan tentang Sela di depannya
''kamu tidurlah duluan, aku mau mandi.''
Rendi melangkah meninggalkan Arumi, memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Di dalam kamar mandi, Rendi merendam tubuhnya di dalam bath tub. Di tenggelamkannya tubuhnya sampai batas leher.
''Sebaiknya aku harus cepat membuat Arumi hamil agar semua ini segera berakhir. Aku tidak ingin menjalani hidup seperti ini terus. Tapi apa aku bisa melakukan itu? Sementara aku terus di hantui rasa bersalah kepada Sela. aaaaa'' Rendi merasa sangat prustasi dengan kehidupannya.
Setalah merasa puas berendam, rendi menyudahi acara mandinya.
Rendi kembali kedalam kamar, di lihatnya Arumi sudah tertidur.
''hah, untung dia sudah tidur, gumam Rendi.
Perlahan Rendi naik ketempat tidur di rebahkannya tubuhnya di samping Arumi.
''semoga semua ini cepat berakhir.'' kata rendi sambil memejamkan mata
Matahari belum memancarkan sinarnya, tapi Arumi sudah sibuk berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk Rendi.
Rendi berguling guling dengan malas di atas kasurnya, sebelum akhirnya dia tersadar kasur di sebelahnya telah kosong.
''Kemana dia pergi?''
Rendi turun dari kamarnya untuk mencari keberadaan Arumi.
Di lihatnya lampu dapur menyala menandakan ada orang di sana?
''Sedang apa?'' pertanyaan Rendi yang tiba-tiba mengagetkan Arumi.
''Rendi, kamu sudah bangun. Ini aku sedang menyiapkan sarapan.'' Arumi menunjuk ke wajan yang ada di atas kompor yang di dalamnya terdapat sayur capcai yang sedang ia masak
''kenapa harus sepagi ini?'' tanya Rendi
''Begini sudah tiga hari kita di sini tapi belum pernah keluar rumah sama sekali. Jadi maksudnya aku ingin mengajak kamu joging sambil melihat lihat kompeks sini. Kalau sarapannya sudah siap pulang joging kitakan bisa langsung sarapan. Itupun kalau kamu mau?''
''aku ganti baju dulu.''
''kamu mau?'' wajah Arumi terlihat begitu bahagia hanya karena Rendi mau menuruti ke inginannya.
Rendi hanya mengangguk sebagai jawaban.
''Yes dia mau.'' Arumi melompat kegirangan.
__ADS_1