
Arumi mengepalkan tangannya. ''Kurang ajar'' umpatnya.
''Apa kamu bisa berjalan?'' tanya Sela saat melihat Wisnu sedikit kesusahan untuk berdiri.
''Dari semalam kamu tidur di sofa ini?'' Tanyanya lagi saat teringat semalam dia meninggalkan Wisnu di sofa ini.
''Tidak apa-apa.''
''Apanya yang tidak apa-apa, kamu mau kemana? Biar aku bantu.'' Tawar Sela.
''Tidak usah, hanya sedikit sakit kalau mau berdiri setelah itu sudah tidak lagi, kamu bantu bibik siapkan makanan saja sebelum Marisa bangun. Aku rasa dia akan bangun agak siang karena semalam tidur larut.''
''Benar-banar bisa?''
''Hm'' Wisnu mengangguk.
''Baiklah aku akan ke dapur untuk membantu bibik.
''Ada yang bisa aku bantu bik?'' Tanya Sela begitu memasuki dapur.
''Eh, nyonya boleh kalau tidak merepotkan.''
''Bik bisa tidak panggil Sela saja, aku risih bibik panggil seperti itu'' Sela menatap bik Wati penuh permohonan. Dia merasa janggal di panggil seperti itu seolah-olah dia adalah istrinya Wisnu padahal bukan.
''Maafkan bibik, tapi bibik tidak berani kedengarannya tidak sopan.''
Sela pasrah dan tidak mendebat lagi, dia hanya fokus membantu bik Wati memasak untuk acara ulang tahun Marisa.
'' Ah, selesai juga. Bik aku pergi bangunkan Marisa dulu ya?''
''Iya nyonya biar bibik yang membawa makanan-makanan ini ke meja makan.''
Saat keluar dari dapur Sela baru teringat kalau mereka semalam tidak jadi membeli kue tart karena bertemu dengan Rendi secara tidak sengaja.
Sela mengurungkan niatnya untuk membangunkan Marisa dan pergi mencari Wisnu di kamarnya.
''Tok, tok, tok, Wisnu apa kamu di dalam?'' Tanya Sela.
__ADS_1
''Iya sebentar'' jawab Wisnu dari dalam kamar.
''Ada apa?''
''Wisnu bukankah semalam kita tidak jadi membeli kue tartnya?'' Sela terlihat cemas, ''apa masih sempat untuk memesannya?''
''Tenanglah aku sudah membelinya semalam.''
''Ha, kapan? Kenapa aku tidak tau?''
''Kau ini'' Wisnu berjalan meninggalkan Sela dengan ke bingungannya. Dia membuka sebuah ruangan dan mengeluarkan kue tart dengan hiasan berby di atasnya.
Sela menghampiri Wisnu. ''Biar aku saja yang bawakan,'' Sela meraih kue tart itu dari tangan Wisnu. Keduanya berjalan menuju kamar Marisa.
''Tok, tok, tok, Marisa apa kamu sudah bangun?''
Wisnu masuk ke kamar Marisa karena tidak ada sahutan dari Marisa. Dan di susul Sela dari belakang.
''Anak ini, kalau tidur terlalu larut pasti seperti ini.''
Gumam Wisnu sambil menghampiri ranjang Marisa.
Marisa yang merasa terusik perlahan membuka mata. ''Papa'' lalu dia mengarahkan pandangannya ke arah Sela ''mama Sela'' Marisa langsung bangkit dan memeluk Sela.
Untung Sela sigab, langsung menjauhkan kue tart yang ada di tangannya kalau tidak sudah pasti kue itu akan jatuh.
''Apa mama Sela baik-baik saja?'' Marisa langsung terisak di dalam pelukan Sela.
''Hei, anak manis kenapa sayang? Sela dan Wisnu saling tatap.
''Semalam saat menunggu papa dan mama Sela pulang Maris sempat tertidur, Marisa bermimpi mama Sela di kejar-kejar oleh perempuan jahat dan dia mendorong mama Sela sampai jatuh ke jurang. Marisa sangat takut, mama Sela harus berjanji untuk selalu baik-baik saja.'' Marisa masih terisak-isak.
''Anak manis dengar mama Sela ya, mimpi itu hanya bunga tidur jadi Marisa jangan takut, lihat mama Sela baik-baik sajakan? Hari ini adalah hari ulang tahun Marisa jadi jangan menangis lagi oke.''
''Hm'' Marisa mengangguk.
''Lihat papa sudah membelikan kamu kue yang sangat cantik,'' Marisa melihat kue yang ada di tangan Sela. ''Kok Marisa nggak yakin ya kue itu pilihan papa.''
__ADS_1
Wisnu cemberut mendengar celotehan Marisa, walaupun dalam hati dia membenarkannya. Karena memang Wisnu hanya berpesan untuk mengirim kue tart terbaik ke rumahnya pada pelayan toko tanpa memilih.
''Marisa tidak boleh begitu kue ini memang papa yang pilih kalau Marisa seperti ini nanti papa sedih, sekarang minta maaf sama papa ya.'' Bujuk Sela. Marisa langsung mengangguk dan memeluk papanya ''maafkan Marisa ya pa.''
Setelah menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan meniup lilin, Wisnu, Sela dan Marisa turun untuk makan bersama.
Seperti tahun-tahun sebelumnya Wisnu akan mengajak seluruh pekerja rumah seperti tukang kebun sopir para pembantu dan juga Piter sang asisten untuk makan bersama mereka.
''Papa terima kasih ya karena sudah membawa mama Sela pulang ke rumah kita. Ulang tahun Marisa kali ini benar-benar berkesan karena ini ulang tahun pertama yang Marisa rayakan dengan seorang mama.'' Semua orang sangat terharu bahkan sampai meneteskan air mata.
''Sudah-sudah ini hari bahagia kita harus bersenang-senang tidak boleh adayang menangis.'' kata Wisnu yang juga sudah hampir meneteskan air mata.
''Iya benar ayo kita berpesta'' Sela ikut menimpali.
Hari ini semua orang di keluarga wisnu merasa sangat bahagia melihat Marisa. Gadis kecil yang biasa selalu murung disaat ulang tahunnya hari ini terlihat begitu bahagia.
''Akhirnya Wisnu mengerti ternyata selama ini Marisa bukan tidak menyukai hadiah-hadiahnya hanya saja dia ingin merasakan ada kehadiran seorang ibu di hari ulang tahunnya.
Semua orang telah kembali kepekerjaan masing-masing di ruangan itu hanya tinggal Wisnu, Piter, Sela dan Marisa.
''Sela bisakah kamu bantu Marisa membawa kado-kado ini ke kamarnya.''
''Tentu saja, Marisa ayo kita bawa kado-kado ini ke kamarmu.'' Sela tau ada yang ingin di bicarakan Wisnu dengan Piter karena itu dia langsung membawa Marisa beranjak dari ruangan yang mereka pakai untuk berpesta tadi.
''Piter tolong ambilkan obatku di laci itu'' tunjuk Wisnu pada sebuah laci yang ada di salah satu lemari di ruangan itu.
''Ini tuan'' Piter memberikan obat yang baru di ambilnya itu ke pada Wisnu.
''Terima kasih, aku sudah hampir tidak kuat menahan rasa sakit di punggungku ini'' Wisnu langsung meminum obatnya sesuai dengan dosis yang di tuliskan dokter pada setiap bungkus obatnya.
''Aku yakin apa yang aku alami ini bukan kecelakaan biasa dan target sebenarnya adalah Sela. Aku bisa melihat dengan jelas sepeda motor itu melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Sela, dan ini bukan kali pertama. Waktu itu pernah ada seseorang mengirim bangkai tikus tanpa kepala atas nama Sela kerumah ini. Piter tolong kamu selidiki ini dan tangkap dalangnya.''
''Baik tuan.''
''Bagaimana dengan rencana kerja sama kita dengan prusahaan Rendi apa sudah mendapat kesepakatan?''
''Sudah tuan, senin ini saya akan bertemu langsung dengan tuan Rendi untuk tanda tangan kontrak kerja sama itu.''
__ADS_1
''Bagus, pastikan semua berjalan sesuai rencana. Sekarang pergilah sepertinya aku harus istirahat sebentar mataku sudah mulai mengantuk.''
''Hm, saya bantu tuan ke kamar.'' Piter membantu Wisnu berjalan ke kamarnya. Tidak butuh waktu lama setelah berbaring Wisnu langsung tertidur, mungkin karena pengaruh obat yang di minumnya.