Ada Dusta Diantara Kita

Ada Dusta Diantara Kita
episod 75


__ADS_3

Sidang perceraian Sela dan Rendi sudah di putuskan. Dalam 3 kali sidang Rendi tidak pernah hadir juga tidak mengirim pengacaranya. Sementara Sela memiliki bukti Rendi menikah diam-diam tanpa persetujuannya, dengan itu pengadilan agama memutuskan Sela dan Rendi resmi bercerai.


Wisnu datang menghampiri Sela, dia memang tidak mendampingi Sela dalam sidang karena tidak ingin menimbulkan opini buruk untuk Sela.


''Selamat ya'' Wisnu mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Sela.


''Terima kasih'' balasnya sambil menerima uluran tangan Wisnu untuk bersalaman.


''Bagaimana perasaanmu sekarang, apa lebih baik?''


''Hm, jauh lebih lega'' jawabnya.


''Aku akan mentraktir kamu untuk merayakan ini'' kata Wisnu sambil mengedipkan mata.


Sela hanya tersenyum ''tidak usah teraktir, bawa saja Marisa ke rumahku aku akan masak untuk kalian.''


''Baiklah mama Sela kami akan senang menyantap masakanmu'' goda Wisnu. Dan mereka berduapun tertawa.


''Kamu memang lebih baik tanpa aku, teruslah bahagia, aku akan selalu memperhatikanmu dari kejauhan.'' gumam Rendi yang sejak tadi terus memperhatikan Sela dari kejauhan.


Sebenarnya Rendi selalu hadir setiap persidangan perceraian mereka namun hanya sekedar melihat Sela dari kejauhan lalu pergi lagi.


''Selaaa'' Anisa melambaikan tangan pada Sela sambil berlari ke arahnya.


''Hai Anisa, kamu di sini juga?'' Sela meraih tangan Anisa.


''Tentu saja, hari ini sahabatku akan memulai hidup baru bagaimana mungkin aku tidak ada.''


Alex juga ingin turun dari mobilnya dan menghampiri Sela. Namun dari kejauhan dia melihat Bastian sedang berjalan ke arah Sela.


''Tuan, tuan besar juga ada di sini'' Alex mengetikkan pesan pada Rendi.


''Aku tau aku juga melihatnya, awasi saja jangan sampai dia menyakiti Sela.'' Pesan balasan dari Rendi.


''Sela bisa kita bicara'' kata Bastian yang baru saja tiba di depan Sela.


Wisnu langsung menatapnya dengan waspada.

__ADS_1


''Santai saja aku tidak akan menyakiti Sela,'' melihat tatapan yang tidak bersahabat dari Wisnu bastian sedikit mundur.


''Anda?''


''Perkenalkan nama saya Wisnu CEO dari perusahaan S.P CORP.'' Wisnu mengulurkan tangan pada Bastian.


Dan Bastian menyambutnya ''jadi kamu orangnya?''


''Ya saya yang membuat putramu yang bodoh itu untuk menandatangani surat perjanjian karja sama itu.'' Jawab Wisnu dengan santai tanpa rasa takut sedikitpun.


Bastian mengeratkan giginya. ''Kamu sangat sombong anak muda, ingatlah kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu ini. Mungkin sistem yang kamu gunakan untuk menipu putraku sampai saat ini belum bisa terlacak. Tapi ingatlah karma itu berlaku.''


''Ha..ha..ha..'' Wisnu tertawa terbahak-bahak.


''Tuan Bastian berbicara soal karma tidakkah anda merasa saat ini anda sedang menjalani karma anda?''


Wisnu menarik tangan Sela pergi dari sana.


meninggalkan Bastian yang terlihat sangat emosi hingga wajahnya merah padam.


Baru berjalan beberapa langkah Wisnu berhenti dan berbalik untuk menatap Bastian.


''Kau!''


Wisnu melanjutkan langkahnya bersama Sela meninggalkan Bastian yang masih terpaku di halaman gedung pengadilan agama.


''Sela tunggu!'' Anisa mengejar Sela dan Wisnu. ''Boleh aku ikut kalian?'' Anisa sengaja ingin ikut karena Rendi ingin tau di mana Sela tinggal setelah pindah dari rumah Wisnu.


''Tentu saja'' seperti biasa Sela memang tidak pernah waspada pada siapapun apalagi orang yang sudah dia anggap sebagai sahabat.


Tiba-tiba dada Bastian terasa sesak karena menahan amarah dan Bastian langsung ambruk dengan suara ''gedebuk.''


''Papa'' Rendi keluar dari mobilnya dan berlari menuju Bastian yang sudah tergeletak di tanah.


Begitu juga dengan Alex.


''Tuan ada apa dengan tuan besar?'' Alex jongkok di samping Rendi untuk membantunya mengangkar tubuh bastian.

__ADS_1


''Aku tidak tau, sebaiknya kita cepat kerumah sakit.'' Alex dan Rendi membawa Bastian ke rumah sakit dengan mobil Alex.


Alex segera melajukan mobilnya. Rendi duduk di belakang sambil memegangi tubuh Bastian yang tidak sadarkan diri. Rendi kemudian mengambil benda pipih dari sakunya untuk menghubungi Monika.


''Halo Rendi kamu di mana? Cepat beri tau mama. Bagaimana dengan Arumi apa dia baik-baik saja?, apa kamu tau mama dan papa sangat khawatir.'' Rentetan pertanyaan langsung membrondong Rendi ketika sambungan telpon itu terhubung.


''Ma tolong dengarkan aku dulu, papa sakit. Sekarang aku dan Alex sedang membawa papa ke rumah sakit, mama segeralah ke sini aku kirim lokasinya.'' Rendi memutus sambungan telpon itu lalu mengirimkan alamat rumah sakit tempat dia membawa Bastian pada Monika.


Sepanjang perjalanan Anisa lebih banyak diam. ''Apa Sela akan kecewa kalau tau aku membantu Rendi memcari tau alamatnya yang sekarang? Dan kalau dia tau aku aku masih bekerja pada Rendi tapi tidak memberi tau dia pasti akan marah.'' Berbagai pikiran muncul di benak Anisa.


''Anisa'' sama sekali tidak ada respon saat Sela memanggilnya. Sela sampai melambaikan tangan di hadapan Anisa.


''Hei, Anisa.''


''Eh, ia ada apa?'' Anisa terkejut saat mendapati tangan Sela sangat dekat dengan wajahnya.


''Aku yang harusnya bertanya, kenapa ka.u melamun sejak tadi?''


''Aku...., Sela bisakah kamu pindah ke belang sini?'' Anisa merasa canggung berbicara karena saat ini posisi duduk mereka Sela berada di jok depan di samping Wisnu, sedangkan dia di jok belakang.


Sela menatap Wisnu, dia merasa tidak enak karena kalau dia pindah ke belakang Wisnu akan terlihat seperti sopir pribadi. Sementara perjalanan mereka masih jauh karena harus ke rumah Wisnu dulu menjemput Marisa baru pergi ke rumah Sela.


Wisnu yang paham langsung mengangguk dan menepikan mobilnya agar Sela bisa pindah ke belakang.


''Tuan Wisnu maafkan aku.'' Anisa juga merasa tidak enak tapi dia harus bicara jujur pada Sela agar dia tidak merasa di selalu ada ke bohongan di dalam kehidupannya.


''Tidak usah sungkan'' Wisnu kembali melajukan mobilnya setelah memastikan Sela sudah duduk dengan benar.


''Sekarang katakan ada apa?'' Sela memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Anisa, begitu juga Anisa.


''Sela berjanjilah setelah mendengar apa yang aku katakan tidak ada yang berubah di antara kita.''


Sela sedikit waspada dengan ucapan Anisa, karena pernah di khianati oleh Arumi.


''Jangan katakan kamu juga menghianati aku seperti Arumi.'' Sela mengalihkan pandangannya dari Anisa hatinya tiba-tiba bergejolak dia takut mendengar apa yang akan di sampaikan oleh Anisa.


''Sela tolong dengarkan aku dulu, aku tidak ingin ada dusta di pertemanan kita.''

__ADS_1


Sela menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Guna untuk menenangkan hati dan menguatkan mentalnya.


''Baiklah katakan!''


__ADS_2