
''Sela kita pergi dari sini'' Wisnu menarik tangan Sela membawanya pergi dari rumah sakit itu.
Arumi di periksa oleh dokter dan dinyatakan meninggal dunia. Sedangkan Bastian yang mengalami serangan jantung susulan dalam kondisi kritis.
Polisi kembali menghampiri Rendi. ''Saudara Rendi, kami turut berduka cita tapi anda harus ikut kami sekarang.'' Para polisi itu membawa Rendi tanpa perlawanan.
Setelah mengurus pemakaman Arumi Pak Yanto dan Erina kembali ke Suka Bumi dan menetap di sana. Mereka membawa anak Arumi bersama mereka dan Monika mengijinkannya karena merasa tidak mungkin sanggup mengurus bayi dan juga Bastian sekaligus. ''Pak akhirnya kita kembali ke rumah ini'' kata Erina dengan sedih. Di rumah itu masih terpajang foto-foto Arumi saat masih SMA.
''Sudahlah buk ikhlaskan semuanya mungkin ini yang terbaik untuk Arumi, semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya.'' Pak Yanto duduk dan bersandar dengan lelah di kursi tua yang ada di ruang tamu rumah itu.
Berita penangkapan Rendi tersebar dengan cepat. Seluruh pemegang saham menarik semua saham mereka dari perusahaan Adi Tama Grup, perusahaan itu benar-benar hancur.
Monika harus menjual semua aset yang dia miliki untuk membayar gaji terakhir para kariyawan dan membayar biaya rumah sakit bastian.
Bastian sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit tapi kondisinya sama sekali tidak baik, dia terkena stroke, dan mengalami kelumpuhan pada kaki dan sebelah tangannya. Dia juga kesusahan untuk bicara dan hanya bisa duduk di kursi roda.
Rendi di ponis 5 bulan kurungan atas kesalahannya. Dia hanya bisa pasrah menerimanya.
''Rendi kita sudah tidak punya apa-apa lagi, semuanya sudah habis. Mama bahkan sudah menjual rumah kamu dan rumah mama juga semua aset kita yang lainnya. Kondisi papa kamu juga tidak baik dia terkena stroke, mama bingung harus bagaimana sekarang.'' Monika menangis menceritakan keluhannya saat mengunjungi Rendi di penjara.
''Maafkan Rendi semua jadi seperti ini karena Rendi.'' Sesalnya.
''Ini bukan salah kamu mungkin ini karma untuk kita karena sudah menyakiti Sela. Selama ini Sela tidak pernah mengeluh meski mama dan papa berlaku buruk padanya hanya karena dia tidak bisa punya anak. Bukan hanya itu mama bahkan pernah mengirungnya di gudang saat kamu ke luar kota dua hari, hanya karena dia tidak mau menanda tangani surat persetujuan untuk kamu menikah lagi.''
Rendi menutup mata dan mendongak untuk mencegah agar air matanya tidak mengalir keluar.
''Sudahlah ma kita lupakan semuanya, sekarang mama tinggal di mana?''
''Mama belum tau, mama hanya minta waktu 3 hari untuk mengemasi barang pada pemilik baru rumah kita dan hari ini mama sudah harus keluar dari rumah itu.'' Monika memaksakan senyum di wajahnya.
''Minta tolonglah pada Alex untuk mengantar mama ke rumah Rendi yang ada di pinggiran kota, rumah yang selama ini Rendi tempati bersama Arumi. Dan di dalam brangkas yang ada di lemari ada uang tunai yang bisa mama pergunakan untuk kebutuhan mama dan papa dalam satu bulan ini.''
''Baiklah mama akan kesana.'' Monika bangkit dari duduknya ingin pergi.
''Ma, bagaimana dengan anak Rendi?''
Monika menghela nafas, Pak Yanto dan Erina membawanya ke Suka Bumi. Maafkan mama, mama merasa tidak mungkin sanggup mengurusnya dalam kondisi seperti ini jadi mama mangijinkannya.''
__ADS_1
''Apakah sudah di beri nama?'' Tanyanya lagi.
''Hm'' Monika mengangguk. ''Namanya Fais Adi Tama, pak Yanto yang memberi nama.''
''Maaf buk jam besuk sudah habis'' seorang polisi datang mengingatkan.
Sela duduk di teras rumahnya menikmati suasana sore di temani bunga-bunga indah yang bermekaran di halaman rumahnya.
Tiba-tiba pandangannya teralihkan oleh sebuah mobil yang memasuki halaman rumahnya.
Sela langsung tersenyum melihat mobil yang sangat dia kenali itu.
Sela sedikit kecewa setelah melihat orang yang turun dari mobil itu adalah Piter bukan Wisnu.
Piter tersenyum merihat raut kecewa di wajah Sela.
''Apa nyonya berharap yang datang adalah tuan Wisnu nyinya?'' Godanya.
''Apa yang kamu bicarakan, sudah cepat katakan ada urusan apa kamu ke sini?'' Sela memasang wajah galak.
Piter tetap tersenyum dia sudah biasa menghadapi Sela yang seperti itu jika sedang malu.
''Untuk apa?''
''Saya kurang tau nyonya, sebaiknya anda bersiap-siap karena tuan Wisnu sudah menunggu.''
Sela tidak bertanya lagi dia langsung masuk ke dalam untuk ganti pakaian. Dalam sekejap Sela sudah keluar lagi.
Sela memang tidak pernah membutuhkan waktu yang lama untuk berdandan karena dia lebih suka berpenampilan natural dari pada harus berdandan menor.
Seperti kali ini Sela hanya menggunakan celana jeans yang di padukan dengan kemeja lengan 3/4.
''Anda sudah siap nyonya?'' Tanya Piter sambil memperhatikan penampilan Sela.
''Sudah, memangnya kenapa ada yang salah?''
''Tidak nyonya, hanya saja saya pikir tadi anda akan menggunakan dres atau semacamnya.'' Piter yang tau maksud Wisnu menyuruhnya menjemput Sela merasa pakaian Sela tidak cocok. Tapi sesuai pesan tuannya dia tidak boleh .emberi tau Sela.
__ADS_1
''Baiklah nyonya mari kita berangkat.'' Piter membukakan pintu mobil untuk Sela.
Mereka sampai di tempat tujuan usai magrib. Piter menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung yang terlihat sangat gelap dan sunyi.
''Nyonya silahkan'' Piter membukakan pintu.
melihat kondisi gedung dan sekitarnya yang gelap membuat Sela enggan untuk turun dari mobil.
''Piter apa kamu tidak salah alamat? Gedung ini seperti tidak berpenghuni.'' Semakin melihat sekitar Sela merasa semakin takut.
''Tenanglah nyonya kita tidak salah alamat mungkin sedang ada pemadaman listrik mari kita periksa bersama.''
Piter asal menjawab saja namun karena Sela sedang takut otaknya sama sekali tidak bekerja. Dia percaya saja dengan jawaban Piter.
Sela berjalan di belakang Piter mendekati pintu gedung. Begitu sampai didepan pintu Piter menghentikan langkahnya sambil berdoa dalam hati ''semoga semua berjalan lancar.''
Piter memegang hendel pintu dan menariknya. Sepontan suasana indah di dalam gedung itu memanjakan mata. Gedung itu di penuhi dengan mawar putih segar yang di tata sedemikian rupa sehingga terlihat sangat indah dan ruangan itu menjadi sangat harum.
Wisnu dan Marisa berdiri di ujung ruangan dan di belakangnya ada tulisan selamat ulang tahun Sela.
Sela mematung di tempat, dia tidak mampu berkata-kata. Hatinya di penuhi rasa haru dan bahagia setelah apa yang dia lewati selama ini akhirnya dia bisa merasakan ketulusan seseorang padanya.
Melihat Sela yang tidak juga bergerak, Marisa berlari kearahnya meraih tangan Sela dan membawanya ke hadapan Wisnu.
Ada banyak hal yang ingin Sela katakan namun tidak mampu keluar dari mulutnya dan akhirnya Sela hanya berkata ''Wisnu bajuku tidak cocok.''
Semua orang yang ada di ruangan itu tersenyum melihat tingkah Sela.
''Kamu cantik memakai apapun'' kata Wisnu sambil menyelipkan anak rambut Sela ke balik telinganya.
Acara ulang tahun Sela berjalan dengan lancar dan meriah. Wisnu tidak hanya mengundang orang-orang di kediamannya, tapi juga seluruh kariawan perusahaannya.
''Wisnu terima kasih aku belum pernah merasa sebahagia ini.'' Kata Sela dengan tulus.
''Ada satu lagi yang ingin aku tunjukkan.'' Wisnu menepuk tangannya tiga kali, lalu lampu di ruangan itu padam menyisakan lampu-lampu di dinding ruangan yang bertuliskan menikahlah denganku.
Sebuah lampu sorot dihidupkan dan di tujukan pada Sela dan Wisnu. Wisnu mengeluarkan sebuah kotak cincin dan membukanya lalu dia berlutut dengan satu kaki di depan Sela sambil berkata ''menikahlah denganku.''
__ADS_1
Marisa orang pertama yang berteriak mengatakan ''terima, terima'' dan di ikuti yang lainnya meneriakkan hal yang sama.
Sela yang sudah bertekat untuk memulai hidup baru mengangguk dengan mantap ''Ya aku bersedia.''