
''Surat perjanjian yang isinya, aku akan memperlakukan dia dengan baik hanya sampai dia hamil dan melahirkan. Setelah itu kami akan bercerai. Anak itu akan di berikan untuk kamu dengan cara di titipkan ke panti asuhan kemudian aku dan kamu akan mengadopsinya. Sebagai gantinya aku memberi sebagian asetku untuk Arumi.''
kilatan kebencian melintas di hati Sela. ''Pintar sekali kalian mempermaikan hidup orang.'' Batin Sela.
''Lalu sekarang apa yang kamu inginkan?'' Tanya Sela.
''Tentu saja kita kembali Seperti dulu, kamu pulang ke rumah kita dan kita hidup bahagia seperti dulu.'' Rendi begitu bersemangat karena merasa Sela sudah mau di ajak bicara itu artinya kemarahannya sudah mulai mereda dan semua akan baik-baik saja. Begitulah yang ada di fikiran Rendi.
''Baiklah aku bersedia, tapi dengan syarat, kalau memang ada perjanjian di antara kamu dan Arumi maka laksanakan perjanjian itu. Keluarkan Arumi dari rumah kita, jangan pernah temui dia sampai waktunya dia melahirkan, setelah itu baru kamu datang untuk mengambil anaknya dan berikan padaku.''
Rendi terdiam mendengar syarat dari Sela. Dia fikir Sela itu wanita yang lembut dan baik hati, pasti akan iba bila tau apa yang terjadi dengan Arumi. Di luar dugaan Sela malah memberi syarat seperti itu.
''Sela maafkan aku tapi aku sudah membatalkan perjanjian itu karena merasa kasihan dengan Arumi. Tapi kamu tenang saja aku berjanji akan adil pada kalian berdua dan Arumi juga bilang kamu boleh merawat anaknya nanti.''
Sela tersenyum mengejek. ''Rendi, Rendi kamu fikir aku bodoh ha, cukup sudah kalian mempermainkan dan membodohi aku. Berbahagialah kamu dengan Arumi. Lupakan kamu pernah mengenal wanita yang tidak sempurna ini.'' Sela melangkah pergi ingin meninggalkan tenda milik Rendi, namun dia berbalik sebentar saat sudah sampai di pintu tenda, ''setelah Anisa di temukan aku akan kirim gugatan cerai untukmu.''
Sela pergi melanjutkan langkahnya. Dia berdiri di tepi tebing menatap kegelapan malam yang tak tertembus oleh mata. Tiba-tiba dia mendengar suara orang merintih minta tolong.
''Tolooong, tolooong.''
''Anisa, Anisaa.''
Sela menajamkan pendengarannya untuk mendengar lebih jelas suara rintihan itu, namun suara itu tidak terdengar lagi.
''Apa aku berhalusinasi'' fikirnya.
''Nyonya kenapa tidak tidur?'' Alex datang menghampirinya.
''Alex tadi aku mendengar suara orang merintih minta tolong dari bawah sini. Apa mungkin aku berhalusinasi? Tapi aku mendengarnya dengan sangat jelas.''
''Benarkah nyonya? Sebaiknya kita pastikan.'' Alex kembali bersemangat dan ingin melanjutkan pencarian.
''Tidak sekarang.'' Kata Wisnu menghentikan, ternyata dia juga tidak bisa tidur dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar tenda dan tanpa sengaja melihat Alex dan Sela, lalu datang menghampiri mereka.
''Kita tunggu sebentar lagi, ini sudah hampir subuh begitu matahari terbit kita langsung melakukan pencarian. Orang-orangku juga sudah sampai di sini mereka semua sangat terlatih untuk menghadapi situasi seperti ini, akan lebih mudah menemukan Anisa dengan mengandalkan mereka.''
__ADS_1
''Hm, baiklah'' Alex mengangguk setuju.
Alax, Wisnu, dan Sela duduk di tepi tebing menunggu matahari terbit. Rasa kantuk tidak lagi mereka rasakan.
''Tuan Wisnu terima kasih karena sudah mau repot-repot membantu mencari Anisa.''
''Tidak usah sungkan, aku melakukan ini atas ke inginan Sela.'' Jawan Wisnu acuh tak acuh.
''Apapun alasan anda aku tetap berterima kasih.''
Rendi datang dan ikut bergabung dengan mereka. ''Pakai ini, di sini sangat dingin.'' Rendi menyerahkan sebuah jaket kepada Sela.
Air mata Sela hampir mengalir saat menerima jaket itu. Bagaimana tidak itu adalah jaket yang dia berikan Sela kepada Rendi senagai hadiah saat ulang tahun Rendi di tahun pertama pernikahan mereka.
Saat itu Rendi berjanji akan menjaga jaket itu dengan baik seperti dia menjaga cinta mereka. Saat itu Rendi juga bersumpah tidak akan pernah ada orang ketiga dalam hubungan mereka.
Sela tersenyum kecut mengingat semua itu. ''Ternyata sumpah seorang laki-laki tidak bisa menjamin apapun'' gumamnya tanpa sadar.
Hingga ke tiga laki-laki itu serentak menoleh kepadanya. Sela berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Dia dengan santai menggunakan jaket itu dan kembali menatap ke arah kegelapan malam.
Fajar mulai menyingsing, sinar matahari perlahan-lahan menyinari bumi, Membawa harapan baru bagi setiap orang.
Komandan Haris datang menghampiri mereka ''sebaiknya kalian kembali ke tenda untuk sarapan, setelah itu kita akan menuruni tebing untuk melakukan pencarian.''
Sesuai yang di intruksikan selesai sarapan untuk menambah tenaga, seluruh angota tim pergi menuruni tebing. Kali ini yang turun untuk mencari jauh lebih banyak di banding hari pertama, karena ada tambahan dari orang-orang Wisnu. Ada juga beberapa tenaga medis yang di ikut sertakan dalam pencarian.
Rendi, Sela, Wisnu dan Alex tidak bergabung dengan tim sar atau anggota polisi. Mereka membentuk tim sendiri yang di tambah beberapa orang-orang Rendi dan beberapa orang-orang Wisnu.
Pencarian kali ini di pusatkan pada dasar tebing dan aliran sungai di dasar tebing.
Tidak terasa sudah beberapa jam mereka menyusuri dasar tebing dan aliran sungai namun hasilnya nihil.
''Apa kamu lelah?'' Tanya Wisnu pada Sela.
''Sedikit'' jawab Sela.
__ADS_1
''Kalau begitu istirahat dulu di batu itu.'' Kata Wisnu menunjuk batu besar di tepi sungai.
Rendi sangat geram melihat interaksi antara Wisnu dan Sela. ''Kenapa Sela bisa begitu baik pada Wisnu padahal Wisnu pernah mencelakainya dulu, sedangkan aku sedikitpun Sela tidak ingin memberi kesempatan.'' Tanya Rendi dalam hati.
''Alex'' panggil Sela.
''Iya nyonya'' Alex datang menghampiri Sela.
''Tidakkah kamu merasa jurang ini terlalu dalam?''
Kata Sela.
''Nyonya mengapa anda berbicara seperti itu? Sekecil apapun kemungkinannya aku tidak akan pernah menyerah, selama aku tidak melihat sendiri kondisi Anisa aku akan tetap berfikir dia masih hidup.''
''Alex jangan salah paham bukan itu maksudku.'' Sela buru-buru menjelaskan.
''Tebing ini terlihat cukup dalam, seandainya suara yang aku dengar semalam benar suara Anisa tidak mungkinkan berasal dari bawah sini?''
''Maksud nyonya?'' Tanya Alex yang tidak paham.
Namun Wisnu cukup tanggap dengan maksud Sela.
Wisnu segera mengambil walkie talkie miliknya untuk menghubungi orang-orangnya.
''Segera lakukan pencarian di dinding tebing. Sisir seluruh area temukan apakah ada celah atau lubang yang bisa di masuki orang.'' Perintah Wisnu pada anak buahnya yang tidak satu tim dengannya.
''Baik tuan'' sahutan dari seberang sana.
''Kalian juga'' kata Wisnu pada anak buahnya yang berada satu tim dengannya.
Diam-diam Rendi mengagumu episiensi Wisnu dalam Bertindak. ''Sialan, kenapa juga aku harus kagum padanya dan kenapa juga aku selalu kalah darinya.'' Maki Rendi dalam hati.
''Kalian juga bantu mereka untuk menyisir dinding tebing'' Rendi juga memberi perintah pada anak buahnya.
''Tuan saya akan ikut dengan mereka.''Kata Alex.
__ADS_1